Perubahan Jalur Jalan Gombel Baru di Semarang
Pengguna jalan di sekitar Jalan Gombel Baru, Banyumanik, Kota Semarang mulai merasakan perubahan situasi sebelum penerapan resmi jalur dua arah. Pada Minggu (19/4/2026) malam, Jalan Tanjakan Gombel Baru yang selama ini satu arah ke atas mulai disiapkan menjadi dua arah. Perubahan ini dipicu oleh pemasangan median jalan berupa water barrier dan moveable concrete barrier di tengah jalan.
Pembatas tersebut membagi jalur yang sebelumnya memiliki empat lajur satu arah, kini hanya menyisakan dua lajur aktif karena dipisah untuk kebutuhan dua arah. Meski demikian, skema dua arah belum sepenuhnya diberlakukan malam ini. Petugas di lapangan masih melakukan tahap persiapan dan penyesuaian.
Tampak petugas masih memasang water barrier tersebut, namun untuk jalur dari atas ke bawah masih steril. Dampak dari hal itu langsung terasa, yakni arus kendaraan dari bawah, terutama dari Flyover Jatingaleh, tersendat dan merayap. Pantauan sekitar pukul 21.00 WIB menunjukkan suasana padat di sepanjang tanjakan.
Deretan kendaraan pribadi, sepeda motor, hingga bus Trans Semarang tampak berada di kepadatan dan mengular perlahan menanjak menuju arah Banyumanik dan Ungaran. Seorang petugas sekaligus warga yang membantu proyek, Paino (62), membantu memberi aba-aba kepada pengguna jalan di titik awal tanjakan.
Paino yang mengenakan rompi oranye, helm, dan membawa light stick tampak berdiri di tengah jalan, mengatur kendaraan yang melintas di sela pemasangan pembatas. Dia mengatakan bahwa pemasangan median masih dalam tahap awal. “Belum, belum dua arah, ini baru median yang tengah-tengah itu. Ujungnya masih ditutup,” kata dia saat ditemui. Dia menyebut kemungkinan penerapan penuh dua arah baru akan dimulai keesokan harinya.
“Besok barangkali, ini masih persiapan. Nanti kalau sudah agak malam, arus juga lebih sepi,” imbuhnya. Di sisi lain, perubahan fisik sarana dan prasarana juga mulai terlihat di bagian bawah tanjakan. Pembatas beton yang sebelumnya menutup akses dari arah atas menuju Flyover Jatingaleh telah digeser. Jalur tersebut kini terbuka dan disiapkan sebagai bagian dari skema baru, memungkinkan kendaraan dari atas turun langsung ke arah flyover.
Kondisi tersebut seolah menjadi gambaran awal atau simulasi dampak lalu lintas yang akan terjadi saat rekayasa resmi diterapkan. Kepadatan tak terhindarkan, mengingat satu ruas jalan harus menampung arus dua arah dalam ruang terbatas. Rekayasa tersebut merupakan bagian dari rencana besar penanganan Jalan Gombel Lama, jalur turunan yang akan ditutup total untuk proyek perbaikan.
Jalan tersebut akan direkonstruksi sepanjang 1,27 kilometer dengan anggaran sekitar Rp17,5 miliar, termasuk pemasangan bore pile hingga 28 meter di titik rawan longsor serta pembenahan drainase. Sebagai dampaknya, mulai Senin (20/4/2026), uji coba rekayasa lalu lintas akan diberlakukan selama 24 jam penuh. Jalan Gombel Baru akan menjadi jalur utama dua arah, dengan pembagian lajur yang disesuaikan untuk mengantisipasi kendaraan mogok di tanjakan, terutama dengan memberi prioritas arus dari bawah.
Kasatlantas Polrestabes Semarang, AKBP Yunaldi sebelumnya menegaskan bahwa kepadatan adalah konsekuensi yang sulit dihindari. “Pasti akan padat, karena jalurnya dibagi dua. Maka kami sarankan kendaraan mobil untuk masuk tol,” tegas dia, Selasa (14/4/2026) lalu. Oleh karena itu, pengguna jalan khususnya mobil, disarankan menggunakan jalur tol sebagai alternatif.
Sementara itu, warga pengguna jalan yang biasa lewat juga telah mulai mengantisipasi perubahan ini. Ilham (36), warga Banyumanik yang rutin melintas, mengaku menyiapkan rute cadangan untuk menghindari kemacetan. “Kalau macet di Gombel, saya biasanya lewat Undip tembus ke Dr Wahidin, atau langsung masuk tol dari Srondol,” ujarnya.
