Konflik Lahan di Bengkulu Selatan: Aksi Demonstrasi Mahasiswa dan Penembakan Petani
Pada bulan November 2025, sebuah insiden penembakan terhadap lima petani di Kabupaten Bengkulu Selatan memicu gelombang protes yang melibatkan mahasiswa setempat. Insiden tersebut terjadi ketika aparat keamanan perusahaan kelapa sawit PT Agro Bengkulu Selatan (ABS) menembak warga yang sedang berunjuk rasa menentang penggusuran lahan yang masih dalam sengketa. Peristiwa ini menjadi titik kritis dalam konflik agraria yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Aksi Demonstrasi Mahasiswa
Pada Senin (8/12/2025), puluhan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu. Mereka menuntut agar lembaga tersebut segera menyelidiki status legalitas PT ABS, khususnya terkait Hak Guna Usaha (HGU) yang diduga tidak dimiliki oleh perusahaan tersebut selama lebih dari satu dekade.
Dalam aksi tersebut, massa membawa sejumlah tuntutan terkait sengketa antara PT ABS dan masyarakat Petani Pino Raya. Aksi ini merupakan tindak lanjut dari demonstrasi sebelumnya di kantor ATR/BPN Provinsi Bengkulu, di mana mahasiswa berhasil memperoleh surat pernyataan resmi dari BPN yang menyebutkan bahwa sejak tahun 2014 hingga 2025 PT ABS tidak memiliki HGU.
Temuan ini menjadi dasar utama bagi mahasiswa untuk mendesak Kejati Bengkulu mengambil tindakan tegas. Mereka menilai bahwa tidak adanya HGU selama lebih dari sepuluh tahun merupakan bentuk pelanggaran berat yang berdampak langsung pada konflik agraria Bengkulu, khususnya bagi masyarakat petani yang menggantungkan hidup pada lahan tersebut.
Pernyataan Orator Mahasiswa
Salah satu orator dari UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu menyampaikan bahwa perusahaan tersebut tetap beroperasi tanpa legalitas yang sah. “Artinya selama 10 tahun lebih PT ABS berjalan tanpa legalitas,” ujarnya dalam orasi di depan Kejati Bengkulu, Senin (8/12/2025).
Menurut massa aksi, keberlanjutan operasional PT ABS tanpa HGU menimbulkan pertanyaan besar mengenai pengawasan pemerintah daerah maupun pusat. Mereka menilai ada potensi pelanggaran hukum yang harus segera diselidiki oleh aparat penegak hukum.
Teriakan serupa juga disampaikan salah satu orator perempuan yang menuntut agar Kejati Bengkulu tidak menutup mata atas dugaan pelanggaran tersebut. Ia mendesak agar Kejati segera memulai penyelidikan terhadap PT ABS. “PT ABS yang tidak memiliki HGU harus segera diusut oleh pihak kejaksaan. Kami curiga ada persekongkolan antara oknum pejabat dan pihak PT ABS yang bisa beroperasi tanpa izin,” katanya.
Kondisi Korban Penembakan
Sebelumnya, diberitakan bahwa lima petani ditembak oleh aparat keamanan perusahaan sawit PT ABS pada Senin (24/11/2025). Ketegangan bermula ketika warga meminta pihak perusahaan untuk menghentikan penggusuran lahan yang masih berstatus sengketa. Namun, permintaan tersebut diabaikan dan pihak perusahaan tetap melanjutkan aktivitas penggusuran dengan alat berat, sehingga memicu kemarahan warga di lokasi.
Kejadian semakin panik setelah lima petani mengalami luka tembak yang diduga berasal dari aparat keamanan perusahaan. Kini kondisi terkini para korban dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Hasanuddin Damrah, Bengkulu Selatan.
Menurut keterangan saksi, tembakan dilepaskan oleh petugas keamanan perusahaan bernama Ricky. Tembakan pertama langsung diarahkan ke dada korban tanpa ada tembakan peringatan, membuat warga yang berada di sekitar lokasi terkejut dan panik. Saksi menyebut setelah Buyung tumbang, Ricky bukannya berhenti melainkan diduga melarikan diri sambil menembak membabi buta ke arah belakang. Rentetan tembakan itu kemudian mengenai empat petani lainnya.
Daftar Korban Penembakan
- Buyung Saripudin (74) – Desa Tungkal I, Kecamatan Pino Raya.
- Edi Susanto (61) – Jln. SMA Karya.
- Edi Hermanto / Pak Bintang (49) – Desa Pagar Gading, Kecamatan Pino Raya.
- Lin Surman (41) – Desa Kembang Seri, Kecamatan Pino Raya.
- Suhardin (60) – Desa Kembang Seri, Kecamatan Pino Raya.
Salah satu korban, Edi Susanto, menceritakan detik-detik penembakan tersebut setelah dibawa penanganan di RSUD Manna. “Ricky orang PT melakukan enam tembakan. Yang pertama langsung ke dada Buyung, tidak ada tembakan peringatan. Tembakan kedua meleset. Tembakan ketiga kena saya di bagian rusuk bawah, jaraknya sekitar dua meter,” ujar Edi, Senin (24/11/2025).
Dengan adanya kejadian ini, Edi mengatakan warga yang marah langsung menyerbu kawasan PT, menuntut pertanggungjawaban atas tindakan brutal tersebut.












