Konflik Perbatasan Thailand dan Kamboja Terus Berlanjut
Konflik antara Thailand dan Kamboja terus berlangsung, dengan masing-masing pihak saling menyalahkan sebagai pemicu bentrokan. Kedua negara tetangga ini kembali mengalami pertempuran mematikan setelah lebih dari seminggu konflik perbatasan yang kembali berkobar.
Thailand menuntut Kamboja untuk menjadi negara pertama yang mengumumkan gencatan senjata. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghentikan pertempuran yang telah berlangsung selama beberapa hari belakangan ini. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Maratee Nalita Andamo, Kamboja harus menjadi pihak yang mengumumkan gencatan senjata terlebih dahulu karena dianggap sebagai pihak yang menyerang wilayah Thailand.
Selain itu, Thailand juga menuntut Kamboja bekerja sama secara tulus dalam upaya pembersihan ranjau di sepanjang perbatasan. Namun, hingga saat ini, Kamboja belum memberikan respons terhadap pernyataan Thailand tersebut.
Tidak Ada Tekanan Internasional
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyatakan bahwa tidak ada tekanan internasional yang meminta kedua belah pihak untuk menghentikan pertempuran. Ia mengatakan, “Tidak ada yang menekan kami. Siapa yang menekan siapa? Saya tidak tahu.” Pernyataan ini disampaikannya kepada wartawan di Bangkok, Selasa (16/12/2025).
Ia juga menolak menjawab pertanyaan tentang apakah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencoba menggunakan ancaman tarif untuk mendorong Bangkok mengakhiri pertempuran. Meski begitu, Trump sebelumnya sempat mengklaim bahwa kedua negara telah menyetujui gencatan senjata yang dimulai pada Sabtu (13/12/2025) malam. Namun, pertempuran harian terus berlanjut, dan Bangkok membantah klaim tersebut.
Pengungsian dan Kerugian Manusia
Konflik antara Thailand dan Kamboja yang dipicu oleh klaim persaingan lama atas wilayah di sepanjang perbatasan darat mereka sepanjang 817 km (508 mil), kembali berkobar akibat bentrokan pada 7 Desember 2025. Bentrokan yang kembali terjadi di berbagai lokasi telah menewaskan 32 orang, termasuk tentara dan warga sipil, di kedua sisi perbatasan, dan menyebabkan sekitar 800.000 orang mengungsi, kata para pejabat.
Jack Barton dari Al Jazeera melaporkan dari sebuah kuil yang menampung pengungsi internal di Provinsi Sisaket, Thailand, bahwa suara pertempuran bergema di sekitar area tersebut. “Kita masih bisa mendengar pertempuran (termasuk) tembakan artileri Thailand yang datang dan roket Grad Kamboja yang datang,” katanya.
Penutupan Perbatasan dan Ancaman Militer
Kamboja telah menutup perbatasan dengan Thailand karena pertempuran terus berlanjut antara kedua pasukan pada hari Sabtu meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan mereka telah menyetujui gencatan senjata. Menurut Kementerian Dalam Negeri Kamboja, perlintasan tersebut akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Kementerian Pertahanan Kamboja mengatakan bahwa jet tempur Thailand membom gedung-gedung hotel dan sebuah jembatan, sementara Thailand melaporkan beberapa warga sipil terluka dalam serangan roket Kamboja.
Sejarah Sengketa Perbatasan
Sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama meningkat pada 24 Juli, ketika Kamboja melancarkan serangan roket ke Thailand, yang kemudian dibalas dengan serangan udara. Kedua negara saling menuduh sebagai pihak yang memulai serangan tersebut.
Setelah pertempuran sengit berhari-hari yang menewaskan puluhan orang, negara di Asia Tenggara tersebut sepakat untuk melakukan “gencatan senjata segera dan tanpa syarat” yang dimediasi oleh Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Hal ini diresmikan dalam sebuah upacara di Malaysia pada bulan Oktober yang dipimpin oleh Presiden AS.
Namun, kedua belah pihak terus saling tuding melanggar gencatan senjata, dengan Thailand mempublikasikan bukti bahwa pasukan Kamboja telah memasang ranjau darat, yang menyebabkan tujuh tentara Thailand kehilangan anggota tubuhnya. Kamboja mengatakan ranjau tersebut merupakan sisa dari perang saudara pada tahun 1980-an.
Sejak saat itu ketegangan terus meningkat. Terbaru, Thailand melancarkan serangan udara di dalam wilayah Kamboja setelah dua tentaranya terluka dalam bentrokan Minggu lalu. Kamboja membalas dengan serangan roket.
Pertempuran tersebut memengaruhi enam provinsi di timur laut Thailand dan enam provinsi di utara dan barat laut Kamboja. Kedua negara telah bersengketa mengenai perbatasan darat sepanjang 800 km selama lebih dari satu abad. Perbatasan tersebut digambar oleh ahli kartografi Prancis pada tahun 1907, ketika Prancis menjadi penguasa kolonial di Kamboja.












