
Permasalahan Bencana dan Solusi yang Tidak Efektif
Generasi muda Indonesia menyaksikan bagaimana bencana alam terus meningkat di berbagai daerah. Banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi banyak warga. Namun, solusi yang ditawarkan sering kali tidak mampu mengatasi akar masalah, justru membuat situasi semakin memburuk.
Banyak keluarga hidup dengan rasa takut dan cemas. Mereka khawatir tanah yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka bisa hilang karena bencana yang terus terjadi. Hal ini memicu suara keras dari generasi muda untuk menolak solusi-solusi palsu dalam penanganan krisis iklim.
Apa Itu False Solutions?
Fathan Mubina, seorang Geographic Information System Analyst dari Trend Asia, menjelaskan bahwa false solutions adalah distraksi teknokratis yang memberi ruang bagi perusahaan besar untuk terus menghasilkan emisi dan merusak hutan. Meskipun solusi ini tampak meyakinkan di atas kertas, pada kenyataannya, polusi tetap berjalan dan industri fosil terus bertahan.
Perusahaan sering kali mengumumkan bahwa operasinya lebih hijau karena adanya teknologi baru. Namun, saat masyarakat masih menghadapi banjir, udara tetap kotor, dan desa-desa terus tenggelam, kita tahu bahwa hanya narasi yang berubah, bukan realitasnya.
Solusi yang Tidak Menyelesaikan Masalah
Beberapa solusi seperti carbon market, debt swap, Carbon Capture and Storage (CCS), dan Tropical Forest Forever Facility (TFFF) tidak efektif dalam mengatasi masalah seperti banjir rob, intrusi air laut, dan amblasnya tanah di beberapa daerah. Masalah ini telah menyebabkan hilangnya ratusan hektar lahan pertanian dan relokasi paksa ribuan keluarga.
Solusi-solusi ini hanya bekerja di permukaan jika tidak disertai dengan pembenahan kebijakan struktural. Tanpa menghentikan perambahan hutan, perampasan tanah adat, dan pembangunan yang merusak ruang hidup masyarakat, solusi tersebut tidak akan mampu mengatasi masalah yang nyata.
Perlu Penurunan Emisi yang Cepat
Ginanjar Ariyasuta, Koordinator Climate Rangers (CR) Indonesia, menekankan bahwa krisis iklim adalah isu antargenerasi. Generasi muda tidak lagi bisa menerima lambannya aksi pemerintah. Mereka membutuhkan penurunan emisi secara cepat, bukan solusi-solusi yang hanya menunda masalah.
Menurut Ginanjar, solusi berbasis pasar dan teknologi seringkali terlihat menarik namun gagal mendorong pengurangan emisi yang berarti. Ia menegaskan bahwa nasib generasi yang akan datang ditentukan oleh kebijakan hari ini.
Kehidupan Komunitas Adat dan Pesisir
Masyarakat Adat menjadi garda terdepan dalam melindungi hutan dan keanekaragaman hayati. Di pesisir, masyarakat yang hidup di garis depan banjir rob dan abrasi terus kehilangan ruang hidup karena kombinasi kenaikan muka laut dan operasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di sekitar permukiman.
Melihat bagaimana komunitas-komunitas ini berjuang bertahan dari krisis yang mereka tidak sebabkan, orang muda merasa terpanggil untuk tidak tinggal diam. Dari sinilah solidaritas mereka tumbuh dan meluas.
Suara yang Mengakar
Fathan menyebutkan sejumlah organisasi, seperti Asihkan Bumi di Sukabumi, KARBON dari Cirebon, Lembaga Pers Mahasiswa Al Fikr di Paiton, juga Formma di Mentawai. Mereka adalah suara yang mengakar dari kokreasi antar generasi dalam komunitas.
Di Mentawai, Formma menolak izin baru Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH). Gerakan ini terinspirasi dari nilai keluhuran masyarakat adat yang turun-temurun menilai hutan sebagai sumber penghidupan yang tidak dapat dipisahkan.
Asihkan Bumi dan KARBON aktif melakukan aksi penolakan co-firing biomassa. Ini adalah bentuk bagaimana orang muda dapat mengolah data menjadi cerita yang narasinya memudahkan masyarakat luas memahami permasalahan di lapangan.
Gerakan Iklim yang Bertumbuh
Beragam inisiatif tersebut menunjukkan bahwa gerakan iklim Indonesia tumbuh dari komunitas yang saling menopang, menolak menyerah pada krisis dan solusi palsu yang hanya menyamarkan kerusakan.
Ginanjar menegaskan bahwa yang utama adalah mengorganisir diri dengan memperluas, menghubungkan, dan memperdalam gerakan orang muda. Hanya masyarakat yang terorganisir lah yang bisa mengalahkan uang yang terorganisir.
Ini juga peringatan bahwa kekuatan rakyat tidak akan cukup jika kebijakan negara terus bergerak ke arah yang berlawanan.
Banjir yang datang, rumah yang tenggelam, pohon yang hilang adalah pengingat bahwa waktu kita sebenarnya tidak banyak. Dan di tengah krisis yang kian nyata, solusi palsu hanya menunda kehancuran dan memperpanjang penderitaan.
Karena itu, suara generasi muda bukan sekadar kritik, tetapi permintaan sederhana: biarkan kami mewarisi bumi yang masih bisa dihuni.












