Kasus Pembunuhan di Tambang Emas Ilegal Ratatotok
Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Minahasa Tenggara (Mitra) menangani dua kasus terkait insiden yang terjadi di tambang emas ilegal di Kecamatan Ratatotok. Insiden ini mengakibatkan tiga penambang meninggal dunia dan satu korban kritis.
Penyebab Insiden
Menurut informasi yang diperoleh, insiden tersebut diduga dipicu oleh konflik lahan tambang. Awalnya, salah satu kelompok ingin bekerja mencari rejeki di lokasi tambang yang diklaim milik oknum berinisial SM. Kelompok tersebut berusaha berbicara baik-baik, tetapi terjadi perdebatan hingga situasi tidak terkontrol lagi.
Kasat Reskrim Polres Mitra AKP Lutfi Arinugraha Pratama menjelaskan bahwa pihaknya masih mendalami kasus tersebut. Meski begitu, sudah ada sembilan orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.
Penyitaan Barang Bukti
Polres Ratatotok telah menyita 10 barang bukti dari kasus ini. Empat di antaranya adalah senapan angin, sedangkan enam sisanya adalah parang dan pisau badik. Barang bukti ini diduga digunakan saat para pelaku melakukan penyerangan di PETI Kebun Raya.
AKP Lutfi menegaskan bahwa senjata angin yang digunakan para pelaku dibeli sendiri oleh para tersangka dan dibawa ke lokasi pertambangan. Saat ini, pihaknya masih terus mendalami peran masing-masing tersangka dalam kasus ini.
Kronologi Penembakan
Sebelumnya, diketahui bahwa kasus penembakan terjadi di lokasi PETI Kebun Raya, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Mitra. Berdasarkan kesaksian pihak korban, mereka memang diserang oleh para pelaku. Peristiwa berdarah itu terjadi pada Sabtu, 20 Desember 2025.
Empat orang jadi korban. Tiga meninggal dan satu kritis hingga dilarikan ke RS Prof Kandou kesokan harinya, Minggu (21/12/2025). Korban meninggal yakni Safrudin Makalalag warga Borgo Satu, Mawandi Lakamunte, warga Basaan Satu, dan Fathan Kalipe warga Belang. Korban kritis, seorang perempuan bernama Anisa Mamonto (57), warga Belang, Kabupaten Mitra.
Yamin, suami dari Anisa Mamonto, saat diwawancarai wartawan Tribun Manado di RS Kandouw menuturkan kronologis penembakan hingga menyebabkan tiga rekannya meninggal dan istrinya kritis. Ia mengaku sudah dapat ancaman sehari sebelumnya.
Penertiban Aktivitas Pertambangan
Polda Sulut dan Polres Mitra sempat melakukan penertiban aktivitas PETI di Kebun Raya Ratatotok. Namun meski sudah dilakukan penertiban, aktivitas PETI masih terus berlangsung secara diam-diam. Bahkan alat berat yang sempat diturunkan kembali dinaikkan ke Kebun Raya Ratatotok Mitra.
Aktivitas pertambangan di Ratatotok memang sudah tak terbendung. Kecamatan yang jaraknya sekitar 96 kilometer dari kota Manado sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Ratatotok memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil emas di Sulut.
Harapan Korban
Anisa Mamonto mengalami luka di kaki dan dagu. “Sekarang lagi tunggu operasi,” kata dia kepada Tribun Manado di lobi RS Prof Kandou di Kelurahan Malalayang, Kecamatan Malalayang, kota Manado, provinsi Sulut, Minggu (21/12/2025). Ia berharap operasi tersebut sukses dan sang istri sembuh.
Dirinya berharap para pelaku penembakan dapat ditangkap untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Sebanyak tiga orang tewas. Semuanya adalah kerabatnya.












