JAKARTA,
Peringatan Dini Gelombang Tinggi di Wilayah Perairan Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Peringatan ini berlaku selama periode 31 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, yang bertepatan dengan puncak libur Tahun Baru 2026.
Gelombang laut dengan ketinggian hingga 4 meter berpotensi terjadi dalam jangka waktu tersebut. Hal ini disebabkan oleh dinamika atmosfer yang signifikan di wilayah perairan Indonesia, khususnya akibat pengaruh bibit siklon tropis di Samudra Hindia. Pihak BMKG menjelaskan bahwa peningkatan tinggi gelombang dipicu oleh keberadaan Bibit Siklon Tropis 90S yang terpantau di Samudra Hindia barat daya Lampung, tepatnya di koordinat 7,5° LS dan 101,8° BT.
Pola Angin dan Pengaruhnya pada Gelombang Laut
Dalam analisis sinoptik BMKG, pola angin di Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari utara hingga timur laut dengan kecepatan berkisar antara 6 hingga 20 knot. Sementara itu, di wilayah Indonesia bagian selatan, angin dominan bergerak dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan yang lebih tinggi, yakni 6 hingga 30 knot.
Kecepatan angin tertinggi terpantau di beberapa wilayah, termasuk Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Lampung, Samudra Hindia selatan Banten hingga Jawa Tengah, serta di wilayah Laut Jawa. Kondisi ini memperbesar potensi terbentuknya gelombang tinggi, terutama di perairan terbuka.
Daftar Wilayah Berpotensi Gelombang 1,25–2,5 Meter
Selain gelombang tinggi, BMKG juga mencatat bahwa gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Wilayah tersebut meliputi:
- Samudra Pasifik utara Maluku dan Papua
- Selat Malaka bagian utara
- Samudra Hindia barat Aceh, Kepulauan Nias, dan Kepulauan Mentawai
- Selat Karimata bagian utara dan selatan
- Laut Jawa bagian barat, tengah, dan timur
- Selat Makassar bagian utara, tengah, dan selatan
- Laut Sulawesi, Laut Banda, dan Laut Sawu
- Laut Arafuru bagian barat, tengah, dan timur
Gelombang Tinggi 2,5–4 Meter Mengintai Perairan Selatan Jawa
Selain itu, gelombang yang lebih tinggi, yakni 2,5 hingga 4 meter, berpeluang terjadi di sejumlah perairan strategis. Wilayah tersebut mencakup:
- Samudra Hindia selatan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, hingga Jawa Timur
- Samudra Hindia barat Lampung dan Bengkulu
- Laut Natuna Utara
Wilayah-wilayah ini merupakan jalur pelayaran penting dan area aktivitas nelayan, sehingga memerlukan kewaspadaan ekstra.
Estimasi Tinggi Gelombang dan Status Risiko
Berikut adalah estimasi tinggi gelombang dan status risiko untuk masing-masing wilayah perairan:
| Tinggi Gelombang | Status Risiko | Wilayah Perairan |
|---|---|---|
| 1,25 – 2,5 Meter | Waspada | Samudra Pasifik utara Maluku dan Papua Selat Malaka bagian utara Samudra Hindia barat Aceh, Kep. Nias, & Mentawai Selat Karimata (Utara & Selatan) Laut Jawa (Barat, Tengah, & Timur) Selat Makassar (Utara, Tengah, & Selatan) Laut Sulawesi, Laut Banda, & Laut Sawu Laut Arafuru (Barat, Tengah, & Timur) |
| 2,5 – 4,0 Meter | Peringatan Dini | Samudra Hindia selatan Banten, Jabar, Jateng, DIY, hingga Jatim Samudra Hindia barat Lampung & Bengkulu Laut Natuna Utara |
Ancaman Terhadap Keselamatan Pelayaran
BMKG menegaskan bahwa kondisi gelombang tinggi berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Perahu nelayan berpotensi mengalami gangguan keselamatan apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. Sementara itu, kapal tongkang dinilai berisiko saat kecepatan angin mencapai 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter.
Adapun kapal ferry berpotensi terdampak signifikan apabila kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter.
Imbauan kepada Masyarakat
Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur Tahun Baru 2026, BMKG mengimbau nelayan, operator kapal, dan pengguna jasa penyeberangan untuk lebih berhati-hati. Masyarakat pesisir juga diminta mewaspadai potensi gelombang tinggi yang dapat memicu abrasi pantai maupun membahayakan aktivitas di sekitar pesisir.
BMKG menegaskan bahwa kondisi cuaca laut dapat berubah dengan cepat. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi dan peringatan cuaca maritim terbaru melalui kanal resmi BMKG agar aktivitas di laut tetap aman dan terkendali.












