Kepala Intelijen Estonia: Rusia Tidak Berencana Menyerang NATO
Kepala dinas intelijen luar negeri Estonia, Kaupo Rosin, menyatakan bahwa tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin berencana menyerang negara-negara Baltik atau aliansi NATO. Pernyataan ini disampaikan pada Senin (29/12/2025), dan bertentangan dengan peringatan dari para pejabat Eropa yang mengkhawatirkan kemungkinan konflik langsung antara Barat dan Rusia dalam beberapa tahun mendatang.
“Kami telah melihat bahwa, sebagai hasil dari respons kami, Rusia telah mengubah perilakunya setelah berbagai insiden yang terjadi secara lebih luas di wilayah tersebut,” kata Rosin kepada lembaga penyiaran publik, ERR.
Menurutnya, hingga saat ini, Rusia masih menghormati NATO dan berusaha menghindari konflik terbuka apa pun. Estonia, yang merupakan bekas republik Soviet dengan hubungan tegang dengan Moskow, dinilai sebagai garis depan dalam melawan ancaman keamanan Rusia. Negara ini juga memberikan dukungan kuat kepada Ukraina sejak Putin memerintahkan invasi skala penuh pada Februari 2022.
Respons NATO Mengurangi Insiden
Rosin menjelaskan bahwa respons terkoordinasi NATO terhadap pelanggaran wilayah udara oleh Rusia dan dugaan tindakan sabotase, termasuk kerusakan kabel bawah laut di Laut Baltik, telah memaksa Moskow untuk bertindak lebih hati-hati. Ia menambahkan bahwa respons NATO ini menyebabkan penurunan signifikan dalam insiden tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
“Hal ini tidak mengesampingkan kemungkinan insiden di masa mendatang karena aktivitas militer tetap tinggi dan perang di Ukraina masih berlangsung,” ujarnya.
“Secara teori, peristiwa seperti itu masih mungkin terjadi, tetapi saat ini kami tidak melihat indikasi bahwa Rusia sengaja mencoba untuk meningkatkan eskalasi.”
NATO Siaga Perang
Pernyataan Rosin sangat kontras dengan peringatan suram dari para pejabat Eropa bahwa Putin mungkin merencanakan konfrontasi militer langsung dengan Barat jika Rusia menang dalam perangnya dengan Ukraina. Sekretaris NATO Mark Rutte menyatakan awal bulan ini bahwa aliansi militer Barat harus siap menghadapi kemungkinan serangan Rusia dalam lima tahun ke depan, menunjukkan bahwa skala konflik NATO-Rusia di masa depan dapat menyerupai konflik yang disaksikan Eropa selama Perang Dunia II.
“Kekuatan gelap penindasan kembali beraksi,” kata Rutte dalam pidatonya di Berlin.
“Kita adalah target Rusia selanjutnya,” tambahnya.
Beberapa pejabat tinggi NATO bahkan memperkirakan jangka waktu yang lebih singkat soal potensi perang terbuka. Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyatakan konflik dapat pecah dalam beberapa tahun ke depan, sementara kepala dinas intelijen MI6 Inggris mengatakan pekan lalu bahwa Barat sudah beroperasi di “ruang antara perdamaian dan perang” dengan Rusia.

Tak Setuju Istilah Perang Hibrida
Beberapa analis juga mempertanyakan apakah Rusia saat ini bersedia atau mampu menghadapi NATO, dengan alasan bahwa peringatan-peringatan mengerikan tersebut dapat digunakan untuk membenarkan pengeluaran pertahanan yang lebih tinggi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak anggota aliansi untuk meningkatkan anggaran militer.
Dalam wawancara dengan ERR, Rosin mengkritik penggunaan istilah “serangan hibrida” yang sering digunakan untuk menggambarkan dugaan aktivitas Rusia di Eropa, termasuk sabotase infrastruktur, serangan siber, dan insiden pesawat tak berawak di dekat bandara.
“Kita harus menyebut segala sesuatu sesuai namanya. Jika itu sabotase, maka itu sabotase. Jika itu serangan siber, maka itu serangan siber,” katanya.
“Istilah ‘hibrida’ cenderung melunakkan kenyataan dan memberikan kesan yang terlalu polos tentang apa yang sebenarnya terjadi.”
Meskipun mengecilkan risiko bentrokan militer yang akan segera terjadi, Rosin mengatakan Rusia masih berupaya memperlambat persenjataan kembali Eropa. Ia berpendapat bahwa Kremlin mencoba meyakinkan khalayak Barat kalau Rusia tidak menimbulkan ancaman, merujuk pernyataan Putin yang menyebut kalau Moskow bahkan dapat mengkodifikasikan kebijakan non-agresi terhadap Eropa ke dalam undang-undangnya.
“Di sisi lain, Rusia jelas melihat nilai dalam menjalin hubungan dengan partai politik atau kelompok masyarakat tertentu untuk mempromosikan gagasan bahwa perlombaan senjata itu tidak ada gunanya — bahwa hal itu mengalihkan uang dari bidang lain seperti kesejahteraan sosial dan bahwa, pada akhirnya, hal itu merugikan Eropa sendiri,” katanya.
Pentingnya Pencegahan dan Dukungan untuk Ukraina
Rosin memperingatkan bahwa meskipun Rusia mungkin saat ini tidak merencanakan serangan, situasinya bisa berubah. Dia mengatakan pencegahan yang berkelanjutan, termasuk dukungan terus-menerus untuk Ukraina, tetap penting.
“Untuk mencapai itu, kita harus berinvestasi dalam pertahanan kita — kita di sini maksudnya Estonia, yang berarti Uni Eropa dan NATO. Mempertahankan situasi seperti sekarang ini membutuhkan upaya yang signifikan,” katanya.












