Iran Tanpa Jaringan: Gelap, Sunyi, dan Marah



Iran Kembali Terguncang: Pemadaman Internet dan Krisis Nasional

Krisis di Iran kembali memicu gelombang protes yang mengguncang berbagai kota. Pemadaman internet secara hampir total oleh pemerintah menjadi salah satu tindakan terberat dalam sejarah Republik Islam Iran, dengan dampak yang sangat luas baik pada masyarakat maupun ekonomi.

Demonstrasi Besar dan Pemadaman Internet

Demonstrasi besar-besaran yang dimulai pada akhir Desember 2023 telah berubah menjadi krisis nasional. Pemadaman internet dilakukan oleh pihak berwenang pada 8 Januari, menyebabkan jutaan warga terputus dari dunia luar. Selama hampir dua pekan, akses informasi, komunikasi global, serta aktivitas ekonomi berbasis daring terganggu. Banyak usaha kecil yang bergantung pada media sosial dan platform digital terpaksa tutup sementara.

Pemutusan akses internet ini tidak hanya mengganggu komunikasi, tetapi juga menghancurkan mata pencaharian ribuan pelaku usaha. Seorang pemilik toko hewan peliharaan di Teheran mengatakan omzet bisnisnya turun hingga 90 persen. “Saya bergantung pada Instagram dan Telegram. Sekarang semuanya mati,” ujarnya. Ia khawatir akan pembalasan jika menyebutkan identitasnya.

Tekanan Ekonomi yang Berlapis

Pemadaman internet menjadi pukulan terbaru bagi perekonomian Iran yang sudah tertekan. Protes bermula setelah nilai tukar rial Iran anjlok hingga melewati 1,4 juta rial per dolar AS. Pelemahan mata uang memicu inflasi tajam, meningkatkan harga pangan dan kebutuhan pokok. Perubahan harga bensin pada Desember lalu semakin menyulut kemarahan publik.

Menurut data dari lembaga pemantau NetBlocks, kerugian ekonomi akibat pemadaman internet mencapai lebih dari 37 juta dolar AS per hari. Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi Ehsan Chitsaz menyebut kerugian sebesar 2,8 hingga 4,3 juta dolar AS per hari. Dalam beberapa tahun terakhir, bisnis Iran mendapat keuntungan hingga 833 juta dolar AS per tahun dari media sosial.

Rezim di Bawah Tekanan

Akademisi Universitas Melbourne, Dara Conduit, menilai bahwa pemadaman internet memiliki konsekuensi ekonomi dan politik yang luas. Dalam artikelnya di jurnal Democratization, ia menulis bahwa gangguan tersebut berisiko meningkatkan ketegangan sosial dan memicu gelombang mobilisasi anti-rezim baru. Saat ini, Republik Islam Iran menghadapi ancaman eksistensial serius.

Pada 2022, lebih dari 500 orang dilaporkan tewas dan 22.000 orang ditahan dalam operasi penertiban. Kini, pola serupa kembali terlihat. Jaksa mulai menargetkan bisnis yang dianggap mendukung demonstrasi. Kantor berita Mizan melaporkan bahwa jaksa Teheran mengajukan penyitaan aset terhadap 60 kafe yang dituduh terlibat dalam aksi protes.

Bisnis Sepi, Ketakutan Menyebar

Di Teheran, toko dan restoran tetap buka, namun nyaris tanpa pelanggan. Warga memprioritaskan kebutuhan paling dasar. “Orang-orang lewat tanpa minat belanja,” kata pemilik toko penjahit kelas atas. “Kami tetap membayar listrik dan gaji, tapi tidak ada pemasukan.”

Di Shiraz, seorang pemilik toko bunga bernama Gholamreza Zareh dilaporkan tewas ditembak pasukan keamanan setelah memberi perlindungan kepada demonstran. Sumber lokal mengatakan ia ditembak di leher saat membuka pintu tokonya untuk memastikan situasi aman.

Kesaksian dari Jalanan

Mona Bolouri, warga Iran-Kanada berusia 40 tahun, menyaksikan langsung besarnya demonstrasi di Mashhad sebelum kembali ke Kanada. Ia meyakini Republik Islam akan runtuh setelah melihat skala dan persatuan massa. “Ini berbeda dari semua protes sebelumnya,” katanya. “Kerumunannya begitu besar. Mereka meneriakkan slogan melawan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan menyerukan kembalinya Reza Pahlavi.”

Vekilabad Boulevard, salah satu jalan utama di Mashhad, dipenuhi demonstran, sebuah pemandangan yang mengejutkan di kota yang dikenal sebagai basis konservatif dan dekat secara simbolis dengan kekuasaan Khamenei.

Pemimpin Tertinggi dan Struktur Kekuasaan

Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi sejak 1989, memegang otoritas tertinggi di Iran, melampaui presiden dan parlemen. Ia mengendalikan angkatan bersenjata, lembaga peradilan, media negara, serta memiliki pengaruh langsung atas Garda Revolusi Islam (IRGC), yang menjadi tulang punggung keamanan dan kekuatan politik rezim.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, otoritas simbolik dan moral Khamenei terus terkikis. Krisis ekonomi, inflasi, pembatasan kebebasan sipil, serta represi berdarah telah menggerus legitimasi rezim di mata generasi muda. Seruan terbuka menentang Khamenei yang dulu dianggap tabu, kini menggema di jalanan, menandai pergeseran psikologis penting dalam politik Iran: dari ketakutan menuju perlawanan terbuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *