DPRD DKI Soroti Kondisi Gudang Obat dan Vaksin yang Pernah Terbakar

Penyimpanan Obat dan Vaksin di Jakarta Barat Dinilai Tidak Layak

Pemerintah Kota Jakarta Barat menanggapi hasil sidak yang dilakukan oleh Anggota DPRD DKI Jakarta, Yudha Permana, terkait fasilitas penyimpanan obat dan vaksin. Menurut Yudha, dalam temuannya saat melakukan sidak ke fasilitas penyimpanan vaksin dan obat di Kantor Wali Kota Jakarta Barat serta Puskesmas Grogol Petamburan, ruang penyimpanan dinilai terlalu sempit dan tidak memenuhi standar.

Bantahan dari Sudin Kesehatan

Terkait hal tersebut, Kasudin Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna, menjelaskan bahwa sebelumnya pihaknya memiliki gudang penyimpanan obat yang layak dan sesuai standar di kawasan Cengkareng. Namun, pada Mei 2024, gudang tersebut mengalami kebakaran akibat korsleting listrik.

Pasca kebakaran, Sudinkes tidak memiliki tempat penyimpanan untuk obat-obatan yang masih selamat serta sebagai buffer obat. Oleh karena itu, pihaknya meminjam ruangan di Puskesmas. “Akhirnya kami meminjam ruangan di Puskesmas Jakarta Barat tetapi hanya Puskesmas Gropet saja yang mempunyai tempat untuk menyimpan obat program buffer sudinkes,” kata Sahruna saat dikonfirmasi, Rabu (21/1/2026).

Klaim Sesuai SOP

Sahruna menegaskan bahwa meskipun ruang penyimpanan di Puskesmas Gropet terbatas dan kondisi bangunannya belum sepenuhnya ideal, penyimpanan obat tetap dilaksanakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Terkait keluhan bau pada obat, Sahruna menjelaskan bahwa secara karakteristik dasar obat tersebut memang memiliki bau seperti yang dikeluhkan.

Pemeriksaan telah dilakukan oleh BPOM RI dengan nomor batch yang berbeda, dan hasilnya menunjukkan bau yang sama. Dokumen hasil pemeriksaan BPOM tersebut juga telah dilampirkan. “Termasuk untuk obat HIV yang dikeluhkan bau oleh pasien sudah dilakukan uji sampling oleh BPOM RI dan dinyatakan obat tersebut layak konsumsi dengan hasil pemeriksaan terlampir,” papar Sahruna.

Bakal Bangun Gedung Baru

Adapun terkait penyimpanan vaksin yang dinilai tidak layak, Sahruna menyebutkan kondisi tersebut disebabkan oleh faktor bangunan, seperti adanya retakan pada dinding, kebocoran pipa hidran, serta atap. Permasalahan tersebut telah dilaporkan kepada pihak yang berwenang menangani pemeliharaan gedung.

Ia menambahkan, keterbatasan luas ruangan membuat tempat penyimpanan vaksin menjadi sempit, sehingga pengaturan penyimpanan cold chain harus disesuaikan dengan kapasitas ruangan yang tersedia. Sahruna mengatakan, saat ini Sudinkes Jakarta Barat telah merencanakan pembangunan gudang baru. “Sudah direncanakan pembangunan Gudang Sudinkes Jakarta Barat. Pembangunan tersebut akan dilaksanakan pada tahun 2026,” kata dia.

Disampaikan di Rapat

Penyimpanan obat di Jakarta Barat ini menjadi sorotan usai disampaikan oleh Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Yudha Permana saat rapat kerja Komisi E bersama Dinas Kesehatan di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2026).

“Jadi, beberapa bulan yang lalu ada laporan warga masuk ke kami, ada informasi perihal kualitas obat HIV. Ya, yang apa menurut pasien ini kualitasnya kurang baik dari baunya dan lain sebagainya,” kata Yudha.

Berdasarkan laporan warga itu, Yudha melakukan sidak ke fasilitasi penyimpanan obat dan vaskin yang berlokasi di Kantor Wali Kota Jakarta Barat dan Puskesmas Grogol Petamburan. “Nah, di situ memang saya lihat kualitas tempatnya menurut saya tidak memenuhi standar. Itu harus direvitalisasi,” ungkap Yudha.

Fasilitas penyimpangan obat dan vaksin tersebut lanjut Yudha, terlalu sempit sehingga tata letak kulkas pendinginnya terlalu berdekatan. “Saya sangat prihatin melihat lokasi di situ karena tempatnya tidak permanen, kemudian ruangannya banyak yang rusak dan bau apa, mohon maaf ya, bau apa ya, seperti tidak bersih lah gitu, apek,” ucap Yudha.

Tak hanya itu, pendingin ruangan di fasilitas penyimpangan obat dan vaksin yang ada di Jakarta Barat juga tidak memenuhi standar yang baik. “Di situ saya lihat beberapa temboknya triplek sudah mulai terkelupas, kaca-kacanya hanya ditutupi oleh apa kertas dan lain sebagainya. Dan yang agak saya kaget, AC-nya hanya AC portable. Kalau AC portable kan kualitas kedinginannya kan tidak maksimal,” kata Yudha.

Yudha meminta Dinas Kesehatan segara melakukan tindakan, jangan sampai karena fasilitasi kurang berdampak pada kualitas obat atau vaksin yang diberikan ke masyarakat. “Karena jangan sampai nanti obat-obatan yang harusnya prima diberikan kualitas terbaik kepada pasien-pasien kita, jangan sampai karena sistem penyimpanannya tidak maksimal akhirnya obat-obatannya tidak maksimal atau ada yang rusak dan lain sebagainya,” tegas dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *