Masalah Kelangkaan Gas LPG 3 Kg di Bangka Belitung
Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung (Babel), Sardi, menegaskan bahwa kejadian kelangkaan gas LPG 3 Kg tidak boleh terulang kembali. Hal ini disampaikannya pada Rabu (4/2/2026), setelah masyarakat di sejumlah daerah mengalami kesulitan mendapatkan tabung gas tersebut dalam kurun waktu sekitar satu bulan terakhir.
Sardi menyatakan bahwa masalah ini harus menjadi perhatian serius karena gas LPG 3 Kg merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat dan juga berdampak pada perekonomian. Ia menyoroti bahwa saat ini masyarakat sedang bersiap menyambut Ramadhan dan Idul Fitri, yang akan meningkatkan permintaan gas LPG 3 Kg.
“Kami menerima banyak laporan dan aduan dari warga yang kesulitan mendapatkan gas bersubsidi ini. Kami berharap kejadian ini hanya terjadi sekali saja, jangan sampai terulang lagi karena kelangkaan ini selalu terjadi menjelang hari besar keagamaan,” ujar Sardi.
Pihaknya juga telah melakukan kunjungan ke Kementerian ESDM untuk mengusulkan penambahan kuota gas LPG 3 Kg bagi Provinsi Bangka Belitung. Sardi berharap usulan ini dapat ditindaklanjuti, mengingat daerah ini memiliki kondisi geografis kepulauan yang memerlukan pasokan yang lebih stabil.
Penyebab Kelangkaan Gas LPG 3 Kg
Menurut Sales Area Manager Bangka Belitung Pertamina Patra Niaga, Satriyo Wibowo Wicaksono, kondisi cuaca menjadi salah satu alasan terjadinya kelangkaan gas LPG 3 Kg. Ia menjelaskan bahwa beberapa kali terjadi keterlambatan suplai akibat cuaca yang tidak bersahabat.
“Saya mohon maaf atas kejadian dalam beberapa hari belakangan, atau pada Desember dan Januari. Beberapa kali mengalami keterlambatan suplai yang disebabkan oleh cuaca yang kurang bersahabat. Ada maklumat dari KSOP yang mewanti-wanti jika ada cuaca buruk, jadi jika dilanggar bisa terjadi masalah yang lebih panjang lagi,” ujar Wicaksono usai menggelar audiensi bersama DPRD Provinsi Bangka Belitung.
Dalam audiensi tersebut, DPRD Provinsi Bangka Belitung memberikan target tiga hari untuk menstabilkan kondisi gas LPG 3 Kg. Sampai saat ini, recovery sudah berjalan dengan baik hingga minggu keempat, sehingga pasokan LPG dalam kondisi normal.
Rencana Jangka Panjang dan Layanan Pengaduan
Selain itu, pihak Pertamina juga akan mempertimbangkan pembangunan depot atau terminal bahan bakar minyak sebagai solusi jangka panjang. Depot ini nantinya akan digunakan sebagai cadangan untuk Pangkalbalam dan juga Belitung. Meski rencana pembangunan depot ini masih jauh dari tahun 2026, pihak Pertamina akan melakukan optimalisasi depot yang sudah ada, seperti Pangkalbalam, Tanjung Pandan, dan Belinyu.
Untuk memastikan pengawasan penyaluran gas elpiji subsidi tepat sasaran, pihak DPRD Provinsi Bangka Belitung akan membentuk tim pengawasan terpadu. Tim ini akan diisi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bangka Belitung serta melibatkan Aparat Penegak Hukum (APH) seperti Kepolisian atau Kejaksaan.
“Harus melibatkan APH, apakah itu Kepolisian atau Kejaksaan untuk mengawasi penyaluran gas LPG 3 Kg agar tepat sasaran. Hal ini karena terindikasi, bahwa ini tidak tepat sasaran,” tutur Didit Srigusjaya, Ketua DPRD Provinsi Bangka Belitung.
Komitmen Bersama untuk Menjaga Ketersediaan Gas LPG
PT Pertamina dan DPRD Provinsi Bangka Belitung sepakat bahwa fenomena kelangkaan gas LPG 3 Kg dapat terselesaikan dalam tiga hari ke depan. Hal ini diungkapkan oleh Didit Srigusjaya usai menggelar audiensi di ruang Badan Musyawarah.
“Gas LPG 3 Kg mulai tanggal 5 Februari 2026, akan tersuplai kembali secara normal di pangkalan-pangkalan dan ini sudah clear komitmen PT Pertamina,” ujar Didit Srigusjaya.
Dalam audiensi yang juga dihadiri sejumlah masyarakat, dihasilkan komitmen khususnya pada masa Ramadhan dan Idul Fitri tidak lagi terjadi kelangkaan gas LPG. “Sudah ada sebuah komitmen dari Pertamina untuk menghadapi bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri, bahwa untuk gas LPG 3 Kg tetap normal karena sudah dipersiapkan,” tegasnya.
Didit Srigusjaya juga menegaskan perlunya pembangunan kilang baru di Provinsi Bangka Belitung untuk menghindari kelangkaan gas elpiji terulang kembali. Ia dan Gubernur telah berkomunikasi dengan Pertamina Pusat melalui lobi-lobi politik.
“












