Penembakan oleh Oknum Polisi di Jayapura
Brigadir LR (30), seorang anggota polisi, sempat kabur dan mencoba bersembunyi di sebuah indekos usai menembak warga bernama Novel Pompente (29). Insiden ini terjadi pada pukul 11.13 WIT di kediaman korban di kawasan Waena, Distrik Heram, Jayapura, Kamis (12/2/2026) siang.
Menurut laporan yang diterima, Brigadir LR masuk ke rumah korban secara paksa sambil menodongkan senjata api ke arah istri korban. Novel mencoba meredam situasi, tetapi situasi semakin memanas hingga pelaku melepas tembakan ke arah lengan kanan korban.
Setelah melakukan aksinya, pelaku mencoba bersembunyi di sebuah indekos. Namun, warga yang geram berhasil menemukan dirinya dan melayangkan bogem mentah. Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami luka tembak di lengan kanan sementara pelaku babak belur setelah dikeroyok warga.
Korban dan pelaku sama-sama menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara. Kini, kasus ini sedang ditangani oleh Satuan Reserse Kriminal Polresta Jayapura Kota bersama Bidang Propam Polda Papua. Mereka telah mengamankan barang bukti berupa satu pucuk senjata api beserta amunisi.
Penanganan Kasus Secara Profesional
Kepala Polresta Jayapura Kota Komisaris Besar Fredrickus Maclarimboen menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh oknum polisi sangat memalukan. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan menangani kasus ini secara serius dan profesional.
Fredrickus menekankan bahwa pihaknya tidak akan menoleransi segala bentuk pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anggota Polri. Pelaku dipastikan akan menghadapi proses hukum berlapis, yakni peradilan pidana umum dan sidang kode etik profesi. Ia juga menjamin penanganan dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Ia mengimbau agar warga tidak melakukan aksi balas dendam. “Serahkan sepenuhnya proses hukum kepada Polri,” ujarnya.
Insiden ini menambah daftar panjang kasus kekerasan yang melibatkan aparat keamanan di wilayah hukum Papua. Penanganan yang transparan diharapkan dapat menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Jayapura tetap kondusif pascakejadian tersebut.
Detik-Detik Penembakan
Novel Pompente (29), korban penembakan di Jalan Karang VII, belakang Ekspo Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura masih terbaring di ruang perawatan RS Bhayangkara Jayapura. Secara berangsur kondisi kesehatannya mulai membaik akibat luka tembak di bagian tangan. Termasuk psikisnya, akibat trauma karena peristiwa penembakkan yang dilakukan oknum kepolisian Polda Papua.
Saat jurnalis Tribun-Papua.com, Yulianus Magai menemui di ruang perawatan, Novel Pompente mau menceritakan secara rinci detik-detik peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya itu. Dengan kondisi yang masih lemah, ia berusaha mengingat kembali peristiwa yang menurutnya berlangsung sangat cepat dan mencekam.
Novel Pompente menuturkan, siang itu ia keluar rumah menuju sebuah counter yang jaraknya hanya sekitar dua hingga tiga menit dari rumahnya. “Baru sampai mungkin dua atau tiga menit, istri saya kirim pesan. Dia bilang ada orang cungkil-cungkil pintu pakai sendok atau garpu, sambil dorong-dorong pintu pelan,” ujarnya.
Lebih lanjut dia menceritakan, istrinya mendengar suara seperti benda logam menggesek pintu dan upaya membuka secara paksa dari arah belakang rumah. Dirinya pun sempat menenangkan istrinya melalui pesan singkat, sambil menunggu dirinya balik ke rumah.
“Saya bilang mungkin tidak apa-apa, aman saja. Tapi istri saya penasaran karena bunyi itu terus ada,” katanya. Karena penasaran itulah, sang istri akhirnya membuka pintu untuk memastikan sumber suara tersebut. Namun di luar, ternyata sudah ada seseorang yang tak dikenalnya.
“Pintu didorong-dorong. Istri saya ditanya, ‘Ada siapa di dalam rumah? Ketemu siapa?’ Dia bilang tidak ada siapa-siapa, hanya sendiri,” ungkap Novel Pompente.
Mendapat kabar itu, Novel segera kembali ke rumah. Jarak yang dekat membuatnya tiba dalam waktu singkat. Namun situasi sudah berbeda dari biasanya. “Saya datang dari depan. Pagar masih tertutup. Saya juga tidak tahu siapa yang datang. Kalau ditanya itu siapa, tidak ada yang bilang jelas,” ujarnya.
Ia mengaku mendengar tudingan bahwa di dalam rumah ada orang yang menyimpan senjata. Novel Pompente mengaku suasana saat itu tegang dan membingungkan. Ia tidak sempat memastikan identitas orang yang berada di sekitar rumahnya.
“Semua cepat sekali. Saya tidak sempat lihat jelas pelaku. Tiba-tiba situasi jadi panik dan mencekam,” ucapnya. Merasa terancam, Novel memutuskan untuk menyelamatkan diri.
“Saya langsung lari ke arah pagar. Tidak sempat lihat belakang atau teras. Saya cuma pikir bagaimana bisa keluar dulu,” katanya. Saat berusaha membuka pagar dan berlari keluar, ia merasakan sakit di bagian tangan dan darah sudah mengalir.
“Tahu-tahu tangan saya sudah tertembak. Saya rasa seperti tertimpa, panas dan sakit sekali. Untung saya cepat buka pagar dan lari keluar,” tuturnya. Dalam kondisi terluka, Novel berlari ke arah warung-warung di depan rumah untuk meminta pertolongan warga.
Ia menegaskan tidak memiliki hubungan keluarga maupun persoalan pribadi dengan terduga pelaku. “Tidak pernah ada kontak fisik atau masalah sebelumnya. Tiba-tiba saja dituduh ada orang bawa senjata di dalam rumah,” tegasnya.
Keluarga Korban Meminta Proses Hukum Adil
Sementara itu, keluarga korban menyatakan tidak terima atas peristiwa tersebut dan meminta agar proses hukum berjalan adil. “Kami tidak terima. Masuk ke rumah orang sampai terjadi penembakan seperti ini. Pelaku harus diadili seadil-adilnya,” ujar keluarga.
Salah satu anggota keluarga korban menyampaikan bahwa saat ini pihak keluarga memilih untuk memprioritaskan pemulihan kondisi Novel yang masih menjalani perawatan medis di rumah sakit. Meski demikian, mereka menegaskan proses hukum harus tetap berjalan dan dilakukan secara adil.
“Kami sekarang fokus dulu ke pengobatan Novel supaya kondisinya benar-benar pulih. Tapi untuk proses hukum, kami tetap minta supaya berjalan dengan adil dan transparan,” ujar salah satu keluarga korban.
Ia menambahkan, keluarga berharap peristiwa yang menimpa Novel tidak kembali terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka maupun kepada warga lainnya. “Kami tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Cukup keluarga kami yang mengalami. Kami hanya minta keadilan ditegakkan sesuai aturan yang berlaku,” pungkasnya.












