Sosiolog Undar: Jika Bung Karno Lahir di Ploso, Identitas Jombang Kian Kuat

Wacana Lokasi Kelahiran Presiden Pertama Indonesia

Wacana mengenai lokasi kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, kembali mencuat. Sejumlah pemerhati sejarah di Jombang menyebutkan bahwa tokoh proklamator itu lahir di Ploso pada 6 Juni 1902, saat wilayah tersebut masih berada dalam administrasi Karesidenan Surabaya.

Menanggapi hal itu, sosiolog dari Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Mukari, menilai jika klaim tersebut terbukti secara akademik, maka dampaknya akan signifikan bagi identitas Kabupaten Jombang. Ia menyebut, keberadaan Bung Karno sebagai figur nasionalis akan semakin mempertegas karakter Jombang sebagai daerah dengan kultur nasionalis-religius yang kuat.

Menurut Mukari, sisi nasionalisme dapat direpresentasikan oleh Bung Karno, sementara tradisi religius Jombang telah lama melekat melalui tokoh-tokoh pesantren kelas dunia seperti Hasyim Asy’ari, Wahab Chasbullah, serta Abdurrahman Wahid. Kombinasi figur-figur tersebut dinilai memperkuat posisi Jombang sebagai salah satu pusat pemikiran Islam dan kebangsaan di Indonesia.

“Kalau secara historis dapat dibuktikan, tentu ini memperkokoh identitas Jombang sebagai daerah dengan warisan nasionalisme dan religiusitas yang sama-sama kuat,” ucapnya saat dikonfirmasi terpisah.

Mukari juga menilai, dari perspektif sejarah ketatanegaraan, hal itu akan menambah catatan penting Jombang sebagai daerah kelahiran dua presiden RI, yakni Bung Karno dan Gus Dur. Karena itu, ia mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang membentuk tim kajian independen yang beranggotakan akademisi dan ahli sejarah guna menelusuri validitas data secara komprehensif.

Bukti Arsip Dibeberkan

Sejumlah arsip resmi kembali menegaskan tanggal kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yakni 6 Juni 1902. Kepastian itu diperoleh dari penelusuran dokumen pendidikan dan catatan keluarga yang dilakukan sejarawan asal Jombang, Binhad Nurrohmat.

Binhad menyebut, salah satu sumber paling awal yang memuat data tersebut terdapat dalam Buku Induk mahasiswa Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) tahun 1921. Kampus teknik itu kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung.

Dalam arsip tersebut tercantum nama Raden Soekarno dengan keterangan lahir 6 Juni 1902 di Surabaya. Menurut Binhad, penulisan Surabaya tidak bisa dilepaskan dari sistem administrasi pemerintahan kolonial saat itu.

“Di buku induk THS tahun 1921 tertulis jelas Raden Soekarno lahir 6 Juni 1902 di Surabaya. Itu dokumen resmi pendidikan, bukan cerita lisan,” ucap Binhad saat dikonfirmasi terpisah.

Ia menjelaskan, Ploso tempat ayah Soekarno bertugas pada masa itu masih berada dalam wilayah Karesidenan Surabaya. Karena itu, pencatatan Surabaya dinilai wajar secara administratif.

“Secara wilayah pemerintahan, Ploso masuk Karesidenan Surabaya. Jadi kalau ditulis Surabaya, itu merujuk pada wilayah administratif saat itu,” ujar Binhad melanjutkan.

Binhad juga memaparkan, Soekarno tercatat sebagai mahasiswa angkatan kedua di THS, mulai kuliah pada 1921 dan menyelesaikan studinya pada 1926 dengan gelar insinyur. Selain arsip akademik, penguatan tanggal kelahiran juga ditemukan dalam stamboek atau buku riwayat keluarga yang disusun pada 1933 di Blitar oleh ayahnya, Raden Soekeni Sosrodihardjo, setelah pensiun sebagai guru.

“Dalam stamboek tulisan tangan ayahnya sendiri, tercatat bahwa putranya lahir pada 6 Juni 1902. Ini sumber primer dari keluarga,” tegas Binhad.

Ia juga menyoroti konsistensi penulisan nama ayah Soekarno dalam berbagai arsip resmi yang ia telusuri. “Semua dokumen resmi yang saya temukan menuliskan Soekeni, bukan Soekemi. Ini penting untuk meluruskan kekeliruan yang selama ini beredar,” katanya.

Data lain yang ditemukan adalah surat keputusan pemindahan tugas tertanggal 28 Desember 1901 yang menyebut Raden Soekeni dipindahkan dari Surabaya ke Ploso sebagai guru Sekolah Ongko 2 (Tweede Klasse Inlandsche School). Beberapa bulan setelah kepindahan itu, Soekarno lahir.

“SK penugasan itu menunjukkan ayah Bung Karno sudah berada di Ploso sejak akhir 1901. Enam bulan kemudian, tepat 6 Juni 1902, Bung Karno lahir,” ungkapnya.

Dugaan Kelahiran di Ploso

Soekarno diketahui merupakan anak kedua dari pasangan Raden Soekeni Sosrodihardjo dan Njoman Rai Srimben. Anak pertama mereka, Soekarmini, lahir pada 1898 di Bali. Semasa kecil, Soekarno dikenal dengan nama Koesno, sementara kakaknya bernama kecil Karsinah.

Menurut Binhad, rangkaian arsip tersebut bukan hanya menegaskan tanggal kelahiran sang proklamator, tetapi juga memperkaya rekam jejak keluarganya. “Dokumen autentik seperti ini menjadi pijakan penting untuk menjaga akurasi sejarah nasional,” pungkasnya.

Pemerhati sejarah, sekaligus anggota Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang Arif Yulianto, mengemukakan sejumlah arsip yang menurutnya memperkuat dugaan kelahiran Bung Karno di Ploso. Ia merujuk pada dokumen keputusan penugasan ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo, sebagai Mantri Guru Sekolah Ongko Loro di Ploso tertanggal 28 Desember 1901.

Dalam arsip tersebut disebutkan bahwa Soekeni bertugas di Ploso hingga 1907. Arif menjelaskan, jika Soekeni mulai berdinas pada akhir 1901 dan Bung Karno lahir enam bulan kemudian, maka secara kronologis kelahiran itu sangat mungkin terjadi di Ploso.

Ia juga menunjukkan catatan tulisan tangan Soekeni yang menyebut tanggal kelahiran putranya pada 6 Juni 1902. Selain itu, ia mengutip arsip pendidikan tinggi teknik pada masa kolonial (THS, kini ITB) yang mencantumkan tempat lahir Soekarno sebagai Surabaya.

“Penyebutan Surabaya kala itu merujuk pada wilayah administratif Karesidenan Surabaya, yang mencakup daerah-daerah yang kini menjadi bagian Kabupaten Jombang,” ungkapnya.

Ia menguatkan argumennya dengan data laporan pekerjaan sipil Hindia Belanda tahun 1894 yang menyebut sejumlah desa di tepi kanan Sungai Brantas seperti Wuluh, Pojokrejo, Gumulan, Kedungboto, hingga Semanden sebagai bagian dari Surabaya. Fakta administratif tersebut, menurutnya, menjelaskan mengapa dalam berbagai dokumen resmi tertulis “Surabaya” sebagai tempat kelahiran Bung Karno.

Arif juga menyinggung biografi ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia’ karya Cindy Adams yang terbit pada 1966. “Dalam buku tersebut disebutkan bahwa ayah Bung Karno dipindahkan ke Surabaya, dan di sanalah sang putra dilahirkan. Ia menafsirkan Surabaya yang dimaksud merujuk pada Ploso dalam konteks administratif saat itu,” pungkas Arif.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *