10 Hari Hilang, Ditemukan dalam Karung: Dua Remaja Ditangkap Terkait Kematian Umar Gayam di Sorong

Penemuan Jasad Umar Gayam yang Menggemparkan

Kasus kematian Umar Gayam, seorang pria muda yang dinyatakan hilang selama 10 hari di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, akhirnya terungkap. Jasadnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan—terbungkus karung putih dan tas besar merek Rinjani di kawasan Jalan Kontainer, Distrik Aimas. Kejadian ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat.

Penangkapan Dua Terduga Pelaku

Polres Sorong telah menangkap dua remaja yang diduga terlibat dalam pembunuhan Umar Gayam. Kedua tersangka, MFLO (18 tahun) dan SA (17 tahun), kini menjalani pemeriksaan intensif. Meskipun motif pembunuhan masih dalam penyelidikan, polisi memastikan proses penanganan kasus sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

“Kami memastikan seluruh proses penanganan perkara sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Kapolres Sorong, Edwin Parsaoran, Rabu (18/2/2026).

Proses Pengejaran dan Penangkapan

Penangkapan dilakukan setelah polisi menerima laporan dari keluarga yang kehilangan kontak dengan Umar selama hampir seminggu. Informasi berkembang bahwa korban diduga menjadi korban penganiayaan.

Tim polisi sempat menggerebek sebuah rumah kos di Jalan Tuturuga pada Senin (16/2/2026), namun kedua terduga tidak ditemukan di lokasi. Malam harinya, aparat mendapat informasi bahwa para pelaku melarikan diri ke Kampung Meyaup, Distrik Salawati Tengah. Polisi kemudian berhasil mengamankan keduanya beserta barang bukti seperti satu unit telepon genggam dan sepeda motor.

Setelah dibawa ke Polsek Seget, keduanya dipindahkan ke Mapolres Sorong untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Penemuan Jasad di Area Jalan Kontainer

Dari hasil pengembangan penyelidikan, petugas memperoleh informasi bahwa jasad Umar dibuang di sekitar Jalan Kontainer. Tim INAFIS kemudian menyisir area semak-semak di bagian belakang kawasan tersebut.

Jasad Umar ditemukan dalam kondisi sangat mengenaskan—terbungkus karung putih dan tas besar merek Rinjani. Jenazah dievakuasi ke RS Sele Be Solu, Kota Sorong, untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun, pihak keluarga menolak autopsi karena kondisi tubuh korban sudah mengalami kerusakan.

Penemuan jasad ini sempat memicu ketegangan. Keluarga bersama sejumlah massa mendatangi Mapolres Sorong sambil membawa jenazah menggunakan ambulans untuk meminta kejelasan penanganan kasus.

Kronologi Hilangnya Umar Gayam

Kisah pilu ini bermula pada Sabtu (7/2/2026) sekitar pukul 23.00 WIT. Umar pamit kepada keluarga untuk menagih utang Rp 2 juta kepada seorang teman di rumah kos. Dia keluar jam 11 malam, katanya mau ambil uang yang dipinjam orang, dan janji ketemu jam 12 malam. Namun, setelah itu dia tidak pernah pulang.

Sejak saat itu, Umar tak pernah kembali. Keluarga mencari secara mandiri sebelum akhirnya melapor ke polisi. Setelah sepuluh hari, jasadnya ditemukan.

Sosok Umar: Tulang Punggung Keluarga dengan Keterbatasan

Di balik kasus kriminal ini, tersimpan kisah seorang anak yatim dengan keterbatasan mental yang menjadi tulang punggung keluarga. Maulud Yapono, paman korban, mengaku membesarkan Umar sejak kecil. “Dia sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saya bawa dari kampung, saya jaga, saya sekolahkan sampai dia kerja,” tuturnya dengan suara bergetar.

Meski memiliki keterbatasan komunikasi, Umar dikenal pekerja keras. Ia bekerja sebagai buruh bangunan dan membantu biaya sekolah adiknya. “Dia bukan orang kaya. Dia kerja bangunan, tapi dia tulang punggung keluarga. Sekarang kalau dia sudah tidak ada, siapa yang mau tanggung keluarga,” ucap Maulud.

Ia menilai kondisi korban yang berkebutuhan khusus membuatnya sulit melawan saat menjadi korban kekerasan. Keluarga pun menolak segala bentuk kompromi.

“Kami akan terus kawal kasus ini sampai ke meja hijau. Tidak ada tawar-menawar. Pidana tetap pidana. Ini tentang nyawa,” tegas Maulud.

Bahkan, keluarga meminta hukuman seberat-beratnya bagi para pelaku. “Kami minta hukuman mati,” ujarnya.

Ramadan tahun ini menjadi momen terberat bagi keluarga. “Saya akan bersedih bila suara tahmid dan takbir berkumandang, dan saya harus mengucapkan doa serta Al-Fatihah untuknya,” ucap Maulud sambil meneteskan air mata.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *