Amerika Serikat dan Israel Khawatir Hadapi Balasan Iran: Persediaan Rudal Pemecah Terbatas

Kekuatan Besar Dunia Perkuat Iran, Tekanan pada AS dan Israel Memuncak

Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Amerika Serikat (AS) dan Israel kini menghadapi ancaman serangan rudal dan drone dari Iran. Di tengah situasi ini, Rusia dan China terlihat memperkuat posisi Iran melalui berbagai bentuk dukungan, baik secara militer maupun diplomatis.

Dukungan Militer dari Rusia dan Diplomasi dari China

Rusia dikabarkan telah mengirimkan sistem pertahanan udara “Verba” untuk memperkuat Iran. Sementara itu, China memberikan dukungan diplomatik yang kuat, menekankan pentingnya kedaulatan Iran. Kehadiran dua kekuatan besar ini memberi tekanan signifikan bagi strategi AS dan Israel, yang kini sedang diuji dalam hal logistik dan kesiapan menghadapi balasan militer dari Teheran.

Sejarah mencatat bahwa Iran memiliki hubungan dekat dengan Rusia dan China. Sebagai contoh, Iran pernah menyediakan rudal dan drone untuk digunakan oleh Rusia di Ukraina. Selain itu, Iran juga pernah bergantung pada sistem pertahanan udara buatan Rusia, meskipun saat ini beberapa sistem tersebut dilaporkan rusak dan belum tergantikan.

Di sisi lain, China menjadi salah satu pasar utama ekspor minyak Iran. Sekitar 80 persen pasokan minyak Iran dikirim ke negara tersebut. Selain itu, Beijing juga memiliki kepentingan terhadap stabilitas jalur perdagangan global, termasuk Selat Hormuz.

Meski begitu, Moskow dan Beijing relatif tidak banyak memberikan pernyataan resmi, bahkan setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Pada akhir pekan lalu, hanya ada laporan tentang percakapan telepon antara menteri luar negeri Rusia dan China, yang hanya menyampaikan kecaman terhadap serangan AS dan Israel tanpa rincian tindakan lebih lanjut.

China Memberikan Legitimasi Global untuk Iran

Meskipun China dan Rusia tidak akan langsung terlibat dalam konflik militer, dukungan mereka terhadap Iran bersifat nyata dan berlapis. Dalam beberapa aspek, dukungan ini justru lebih berkelanjutan dibanding intervensi militer terbuka.

Di Dewan Keamanan PBB, China sering menggunakan hak veto sebagai alat utama. Dalam pertemuan darurat bulan lalu, Duta Besar China Sun Lei menyampaikan pesan tegas kepada Washington, menekankan bahwa penggunaan kekerasan hanya akan memperparah masalah. Ia menekankan bahwa petualangan militer apa pun akan membawa kawasan menuju jurang yang tak terduga.

Pernyataan ini bukan sekadar simbolis. Secara resmi, China menyatakan dukungan terhadap perlindungan kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran. Dengan merujuk pada Piagam PBB dan prinsip hukum internasional, China memberikan legitimasi tingkat global bagi Iran serta narasi alternatif yang dapat mengimbangi tekanan dari negara-negara Barat.

Rusia Perkuat Pertahanan Udara Iran

Menurut laporan Foundation for Defense of Democracies, Iran berharap Rusia bisa membantu memperkuat sistem pertahanan udaranya yang melemah setelah konflik dengan Israel pada Juni 2025. Kesepakatan senilai 495 juta euro (sekitar Rp 9,8 triliun) telah ditandatangani antara Rusia dan Iran untuk pengiriman sistem pertahanan udara baru “Verba”.

Namun, meskipun sistem ini dinilai cukup canggih, kemungkinan besar tidak akan secara signifikan mengubah kalkulasi jika terjadi operasi militer AS terhadap Republik Islam. Sistem “Verba” atau 9K333 Gizmo merupakan sistem pertahanan udara portabel yang mampu menargetkan pesawat hingga jarak sekitar 6 kilometer pada ketinggian hampir 15.000 kaki.

AS Menghadapi Kekurangan Rudal Pencegat

Militer AS kini berpacu dengan waktu untuk melumpuhkan kekuatan rudal dan drone Iran. Kekekhawatiran utama adalah kehabisan stok rudal pencegat untuk menangkis serangan balasan dari Teheran.

Kekurangan ini disebut sebagai “magazine depth”, istilah yang merujuk pada kapasitas stok pertahanan udara AS. Meskipun jumlah pasti persediaan rudal pencegat AS bersifat rahasia, konflik dengan Iran dan proksinya di kawasan telah menguras stok sistem pertahanan udara secara signifikan.

“Kita menggunakannya lebih cepat daripada kemampuan kita untuk menggantinya,” kata Kelly Grieco, peneliti senior di think tank Stimson Center.

Israel Juga Hadapi Kendala Logistik

Meski keterlibatan militer Israel membantu meringankan beban serangan ofensif AS, negara tersebut juga menghadapi kendala logistik serupa. Israel dilaporkan masih kekurangan rudal pencegat Arrow 3 dan rudal balistik yang diluncurkan dari udara.

Jonathan Conricus, senior fellow di Foundation for Defense of Democracies, menilai bahwa volume serangan balasan Iran belum mencapai tingkat yang dikhawatirkan. Namun, ia menekankan bahwa pada akhirnya perang ini adalah masalah kalkulasi angka. Jumlah rudal pencegat yang dimiliki AS dan Israel akan menjadi kunci dalam menghadapi serangan Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *