Penyebaran Leptospirosis di Gunungkidul Meningkat Tajam
Pada awal tahun 2026, kasus leptospirosis di Kabupaten Gunungkidul mengalami peningkatan yang signifikan. Dalam beberapa bulan terakhir, sebanyak 13 warga terinfeksi penyakit ini, dengan tiga orang meninggal dunia. Mayoritas korban berasal dari wilayah Playen, salah satu kapanewon yang paling terdampak.
Penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang terdapat dalam air kencing tikus. Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan air atau tanah yang tercemar. Petani menjadi kelompok yang paling rentan karena aktivitas mereka sering kali berada di lingkungan yang berisiko tinggi seperti sawah dan genangan air.
Peningkatan Kasus Leptospirosis di Gunungkidul
Dibandingkan tahun 2025, jumlah kasus leptospirosis di Gunungkidul meningkat drastis. Pada tahun lalu, hanya ada satu korban meninggal dunia akibat penyakit ini. Namun, pada awal 2026, tiga warga meninggal, dua di antaranya berasal dari Playen. Dari total 13 kasus, lima di antaranya juga berasal dari wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menyampaikan bahwa sebaran kasus leptospirosis saat ini paling banyak terjadi di Kapanewon Playen. Ia menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat, khususnya para petani, untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menjalankan aktivitas di ladang atau sawah.
Cara Mencegah Infeksi Leptospirosis
Untuk mengurangi risiko tertular leptospirosis, warga diminta memperhatikan beberapa langkah pencegahan berikut:
- Gunakan sepatu bot dan sarung tangan saat melakukan aktivitas di area yang berpotensi terkontaminasi.
- Bersihkan tubuh, terutama kaki dan tangan, dengan sabun setelah beraktivitas di luar ruangan.
- Tutup semua luka terbuka dengan plester kedap air untuk mencegah masuknya bakteri.
- Lakukan pengendalian hama tikus di sekitar lingkungan tempat tinggal.
- Vaksinasi hewan peliharaan seperti anjing atau ternak agar tidak menjadi sumber penularan.
Selain itu, Ismono juga menyarankan kepada masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan (faskes) jika mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot betis, mual, atau mata merah.
Gejala dan Komplikasi Leptospirosis
Gejala leptospirosis sering kali mirip dengan penyakit lain seperti flu atau demam berdarah. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Demam tinggi mendadak.
- Sakit kepala hebat.
- Nyeri otot, terutama di bagian betis dan punggung.
- Mata merah tanpa disertai kotoran mata.
- Mual, muntah, atau diare.
- Kulit dan mata menguning (jaundice) pada kasus yang lebih berat.
Jika tidak segera ditangani, leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi yang berbahaya, dikenal sebagai Penyakit Weil. Komplikasi ini bisa menyebabkan gagal ginjal akut, gangguan fungsi hati, meningitis, dan pendarahan di paru-paru.
Penularan Leptospirosis
Bakteri Leptospira menyebar melalui beberapa cara, antara lain:
- Kontak langsung dengan urin atau darah hewan yang terinfeksi.
- Kontak tidak langsung melalui air atau tanah yang terkontaminasi.
- Masuknya bakteri melalui luka terbuka di kulit, mata, hidung, atau mulut.












