Rajiv DPR Berikan Bantuan PIP dan KIP untuk Anak Korban Longsor Cisarua Bandung Barat

Bantuan Pendidikan untuk Anak Korban Bencana Longsor di Bandung Barat

Anggota DPR RI Fraksi Partai Nasdem, Rajiv, memberikan bantuan tunai pendidikan melalui program Indonesia Pintar (PIP) kepada anak-anak korban terdampak bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Penyaluran bantuan ini dilakukan saat Rajiv berbuka puasa bersama para korban terdampak bencana longsor di Cisarua, Bandung Barat pada Jumat, 6 Maret 2026.

Rajiv menegaskan komitmennya untuk membantu anak-anak korban terdampak bencana longsor. Ia menyampaikan bahwa anak-anak yang terdampak, termasuk siswa SD, SMP, dan SMA, akan diberikan bantuan melalui PIP. Ia juga meminta agar semua anak yang terdampak diberi kesempatan masuk ke dalam program tersebut hingga selesai sekolah.

“Di sini yang terdampak korban, anak-anak sekolah SD, SMP dan SMA ini dapat PIP dari saya, masukin semuanya ke PIP sampai sekolahnya tuntas. Jadi, benar-benar yang terdampak bencana, apalagi kalau anak ini yatim piatu. Saya minta didata sehingga bisa mendapatkan program itu,” ujar Rajiv.



Anggota DPR RI Fraksi Partai Nasdem Rajiv memberikan bantuan tunai pendidikan melalui program Indonesia pintar (PIP) kepada anak-anak korban terdampak bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Foto: Dok. DPR RI

Untuk mewujudkan hal tersebut, Rajiv meminta kepada kepala desa agar melakukan pendataan terhadap anak-anak korban terdampak bencana longsor. Ia bahkan menegaskan bahwa dirinya akan membantu sampai tuntas pendidikan anak korban terdampak yang kehilangan orang tuanya atau yatim piatu.

“Khusus anak-anak apalagi anak yatim piatu, bila perlu sampai dapat KIP (Kartu Indonesia Pintar). Sekolah dari SD, SMP, SMA sampai KIP,” ujar Anggota Komisi IV DPR RI ini.

Menurut Rajiv, sebagai Legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Provinsi Jawa Barat II yang meliputi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, ia ingin memastikan pendidikan anak-anak korban terdampak bencana tetap berjalan. Menurutnya, setidaknya satu persoalan utama keluarga korban dapat diselesaikan terkait pendidikan anak-anak.

“Minimal satu masalah sekolahnya selesai, tinggal kita pikirkan lagi masalahnya bersama-sama pemerintah daerah dan kementerian lain,” imbuhnya.

Perhatian terhadap Petani yang Terdampak Bencana

Selain fokus pada bantuan pendidikan, Rajiv juga ingin mendengarkan langsung kondisi para kelompok tani yang terdampak bencana longsor di Pasirlangu. Menurut dia, banyak petani holtikultura di kawasan tersebut kehilangan lahan maupun sumber penghasilan akibat bencana longsor.

“Saya hadir juga ingin bertemu para kelompok tani yang terdampak. Bagaimana para kelompok tani yang terdampak ini bisa kita hidupkan kembali lagi, tetapi dengan catatan bukan di lahan yang kemarin,” ujar Rajiv.

Ia menjelaskan bahwa saat ini Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang memikirkan pemindahan relokasi lahan pertanian. Alasannya, karena pemerintah daerah yang memiliki tanah tersebut.

“Kenapa kita tunggu pemda provinsi dan kabupaten? Karena mereka yang punya tanahnya, bukan kita anggota DPR atau kementerian untuk mengintervensi memindahkan lahan dari sini ke sini, kita enggak bisa,” tegas dia.

Setelah lokasi baru ditetapkan oleh pemerintah daerah, Rajiv menyatakan siap membantu memenuhi kebutuhan para petani holtikultura agar dapat kembali menjalankan usaha pertaniannya.

“Nanti kalau lahannya sudah ditetapkan oleh provinsi atau kabupaten, tugas kami untuk menurunkan apa yang dibutuhkan oleh para petani holtikultura ini. Sehingga petani holtikultura ini bisa hidup kembali, bisa melanjutkan hidupnya, bisa membiayai keluarganya lagi,” ucapnya.

Potensi Bencana di Wilayah Bandung Barat

Rajiv juga menyoroti potensi bencana alam yang cukup tinggi di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, salah satunya akibat alih fungsi lahan. Ia mengungkapkan bahwa kawasan yang saat ini ditanami holtikultura sebelumnya merupakan hutan pinus yang memiliki fungsi penting dalam menyerap air.

“Bandung Barat potensi bencana banyak sekali karena alih fungsi lahan. Jadi, memang penyebab utamanya alih fungsi lahan. Ini dahulu awalnya kan hutan pinus, ditebang dikasih holtikultura, akhirnya tidak ada akarnya, tidak ada penyerap airnya. Itu masalahnya ada di sana sebenarnya,” ungkapnya.

Meski demikian, Rajiv mengatakan bencana merupakan sesuatu yang tidak diinginkan oleh siapa pun. Ia juga menyampaikan rasa turut berduka atas kehilangan sanak saudara oleh para korban. Ia berharap ke depan, seluruh masyarakat Indonesia dapat bersama-sama mengurus bagaimana masa depan anak-anak yatim yang ditinggalkan keluarga terus bisa tuntas sekolahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *