JAKARTA – Masalah penggiringan anak (child grooming) masih menjadi ancaman serius terhadap keselamatan anak-anak di Indonesia, terutama di tengah perkembangan teknologi dan media digital yang pesat. Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2025, tercatat sebanyak 2.063 anak menjadi korban kekerasan atau child grooming. Sementara itu, data dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menunjukkan bahwa 1.464 pemohon berasal dari anak-anak dan 312 dari orang dewasa yang melaporkan kasus terkait grooming.
Data ini mengungkapkan bahwa saat ini, mayoritas korban grooming atau tahap awal kekerasan paling banyak dialami oleh anak-anak. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya upaya pencegahan dan perlindungan terhadap anak-anak dalam lingkungan digital.
Menurut dr. Ariani, anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK), ada beberapa tahapan yang dilalui oleh pelaku child grooming untuk mendekati korban. Berikut adalah penjelasan lengkapnya:
Tahapan Penggiringan Anak
Tahap Pertama: Targeting (Charge)
Pada tahap ini, pelaku akan memilih korban yang mereka anggap rentan. Biasanya, pelaku mencari anak-anak yang merasa kesepian, kurang perhatian, atau memiliki masalah dalam keluarga. Mereka juga cenderung memilih anak-anak yang kurang percaya diri atau rumah tangganya tidak stabil.
“Anak-anak yang biasa jadi korban biasanya merasa kesepian atau tidak diperhatikan. Mereka juga mungkin merasa tidak percaya diri atau orang tua mereka jarang ada di rumah,” ujar dr. Ariani dalam webinar Child Grooming di Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Tahap Kedua: Membangun Kepercayaan (Gaining Trust)
Setelah menargetkan korban, pelaku akan berusaha membangun kepercayaan. Mereka akan berpura-pura menjadi sosok yang baik dan ramah agar korban merasa nyaman berbagi cerita. Dengan demikian, korban akan mulai percaya bahwa pelaku adalah orang yang bisa diandalkan.
“Ketika anak merasa senang dengan pelaku, orang tuanya juga akan merasa senang,” tambah dr. Ariani.
Tahap Ketiga: Pemberian Hadiah (Full Filling a Need)
Setelah kepercayaan terbangun, pelaku akan memberikan hadiah kepada korban. Hadiah tersebut bisa berupa mainan, perhiasan, pakaian, atau gadget. Di tahap awal, pelaku biasanya memberikan hadiah yang lebih ringan seperti makanan atau jajanan.
Pelaku juga akan memperhatikan selera korban dan orang tua mereka, sehingga dapat memberikan hadiah yang sesuai dan memperkuat ikatan emosional antara pelaku dan korban.
Tahap Keempat: Isolasi
Di tahap ini, pelaku akan melakukan isolasi terhadap korban. Mereka akan membuat korban merasa ketergantungan pada dirinya sendiri. Pelaku akan menggunakan ucapan-ucapan yang menenangkan, seperti “Aku sayang kamu” atau “Aku peduli padamu”, untuk membuat korban luluh.
Tahap Kelima: Sexualizing
Pada tahap ini, pelaku akan memberikan sentuhan nonseksual, seperti gandengan tangan atau sentuhan lembut. Awalnya, korban mungkin merasa risih, tetapi pelaku akan terus meyakinkan korban bahwa hal ini wajar dan biasa dilakukan oleh orang yang lebih dewasa.
Tahap Keenam: Ancaman
Di tahap akhir, pelaku akan mulai melakukan tindakan yang lebih dalam, seperti menyentuh area sensitif korban. Jika korban menolak, pelaku akan memberi ancaman, seperti menyebarkan foto atau video korban kepada orang tua. Jika korban tidak nyaman, pelaku akan kembali ke tahap awal untuk membangun kembali kepercayaan.
Modus Penggiringan Melalui Media Sosial
Selain melalui hubungan langsung, pelaku juga bisa melakukan grooming melalui media sosial atau internet. Beberapa modus yang digunakan antara lain:
- Menyamar sebagai teman sebaya di media sosial atau akun game online untuk meyakinkan korban.
- Memberikan perhatian lebih dengan menjadi tempat curhat bagi korban.
- Mengajak korban ke chat pribadi atau platform yang tertutup.
- Memberi hadiah berupa pulsa atau item game untuk membentuk ikatan emosional.
- Membahas topik pribadi hingga seksualitas.
- Melakukan manipulasi emosi dan ancaman.
dr. Ariani menjelaskan bahwa pelaku umumnya menargetkan anak-anak yang berada di usia remaja. Kurangnya perhatian atau kasih sayang dari orang tua menjadi faktor utama yang memudahkan pelaku menjalankan modus ini. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk lebih aktif dalam memperhatikan anak-anak dan memberikan dukungan emosional yang cukup.












