Kolaborasi PepsiCo dan National Geographic Society untuk Pertanian Regeneratif
PepsiCo dan National Geographic Society mengumumkan pendanaan untuk lima proyek riset pertanian regeneratif di berbagai belahan dunia. Proyek ini bertujuan untuk mempercepat penerapan praktik pertanian yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan pangan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim.
Salah satu proyek unggulan berasal dari Indonesia melalui inisiatif LIFE (Inovasi Tanah untuk Pangan dan Pemberdayaan) yang digagas oleh peneliti Al Greeny S Dewayanti. Proyek ini menggabungkan teknologi AI dan analisis DNA tanah untuk meningkatkan kualitas lahan serta ketahanan pangan. Pendekatan berbasis teknologi ini juga ditujukan untuk memberdayakan petani dengan informasi yang lebih akurat dan mudah dipahami.
Inovasi dalam Pertanian Regeneratif
Program ini mencakup berbagai inovasi, mulai dari revitalisasi padang rumput hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menerjemahkan temuan organisme tanah menjadi panduan praktis bagi petani. Riset tersebut akan difokuskan pada tanaman pangan penting di wilayah produksi yang terdampak tekanan perubahan iklim. Para peneliti yang terlibat merupakan bagian dari komunitas National Geographic Explorers yang terseleksi dari proposal di 140 negara.
Proyek LIFE mengembangkan sistem tumpang sari jagung dan sacha inchi, yang dikenal sebagai ‘superfood’ karena kandungan Omega 3, 6, dan 9 yang tinggi. Teknologi yang digunakan dalam proyek ini mencakup analisis DNA tanah menggunakan metode metabarcoding untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang berperan dalam kesehatan tanah. Hasil analisis ini kemudian diolah menjadi panduan praktis melalui aplikasi AI, seperti anjuran penggunaan kompos atau kesiapan lahan untuk ditanami.
Pemberdayaan Perempuan dalam Pertanian
Selain fokus pada teknologi, proyek ini juga mendorong pemberdayaan perempuan. Sebanyak 50 pionir perempuan terlibat dalam pengelolaan koperasi serta pengolahan sacha inchi menjadi produk bernilai tambah seperti minyak. Ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada inovasi teknologi, tetapi juga pada penguatan peran perempuan dalam sektor pertanian.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif “Food for Tomorrow” yang diluncurkan pada 2025 sebagai kolaborasi antara PepsiCo dan National Geographic Society untuk mendorong transformasi sistem pangan global berbasis pertanian regeneratif.
Peran Pertanian Regeneratif dalam Lingkungan
Ian Miller, Chief Science and Innovation Officer National Geographic Society, menyatakan bahwa pertanian regeneratif menjadi fokus baru yang penting dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan. “Pertanian regeneratif berkaitan erat dengan perlindungan ekosistem, pemulihan lanskap, hingga pengurangan jejak karbon,” ujarnya.
Sementara itu, Jim Andrew, Chief Sustainability Officer PepsiCo, menekankan pentingnya dukungan berbasis sains bagi petani dalam menghadapi perubahan iklim. “Petani hanya punya satu kesempatan setiap musim. Karena itu praktik berbasis ilmu pengetahuan sangat penting untuk memastikan keberhasilan panen,” katanya.
Target dan Rencana Masa Depan
PepsiCo sendiri menargetkan penerapan praktik pertanian regeneratif di lahan seluas 10 juta hektare secara global pada 2030. Melalui program ini, para peneliti akan melakukan uji coba langsung di lapangan selama dua tahun ke depan, dengan fokus pada berbagai komoditas seperti gandum, jagung, kentang, kedelai, hingga kopi.
Selain penelitian, program ini juga akan menghadirkan kampanye edukasi, pameran multimedia, serta dokumentasi kisah petani dari berbagai negara yang tengah bertransformasi menuju sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.












