Pertandingan antara Cremonese dan Torino berakhir dengan skor imbang 0-0. Laga yang digelar di Stadio Giovanni Zini pada hari Minggu (19/4) menjadi pertandingan yang cukup menegangkan bagi kedua tim. Cremonese tampil agresif sejak awal pertandingan, dengan Federico Bonazzoli sebagai ujung tombak utama. Ia melakukan beberapa upaya dari luar kotak penalti, namun kiper Torino, Alberto Paleari, mampu mengamankan bola.
Di sisi lain, Torino juga mencoba membangun serangan melalui Gvidas Gineitis dan Che Adams. Namun, lini pertahanan Cremonese yang solid berhasil menggagalkan peluang-peluang tersebut. Pada babak kedua, intensitas pertandingan meningkat. Cremonese terus menekan dan mendapatkan beberapa peluang emas, termasuk sundulan Antonio Sanabria dan upaya Bonazzoli yang masih belum menemui sasaran.
Momen penting terjadi pada menit ke-61 ketika Federico Baschirotto berhasil mencetak gol untuk Cremonese. Namun, setelah melalui tinjauan VAR, gol tersebut dianulir karena dianggap ada pelanggaran dalam prosesnya. Keputusan ini membuat skor tetap bertahan 0-0 hingga akhir pertandingan.
Torino kemudian merespons dengan melakukan pergantian pemain, termasuk memasukkan Tino Anjorin dan Cristiano Biraghi untuk meningkatkan daya serang. Peluang terbaik Torino datang melalui Sandro Kulenovic di menit akhir, tetapi tembakannya berhasil digagalkan oleh Emil Audero. Di sisi lain, Cremonese juga hampir mencetak gol melalui David Okereke dan Bonazzoli di masa injury time, tetapi penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat peluang itu terbuang.
Pelatih Cremonese, Marco Giampaolo, memberikan tanggapan usai laga. Ia menyebutkan bahwa ada beberapa momen penting, termasuk gol yang dianulir dan persiapan menghadapi Napoli. Mengenai keputusan VAR yang menghilangkan gol Baschirotto, Giampaolo menilai keputusan itu masih bisa diperdebatkan. Namun, ia memilih untuk tidak larut dalam polemik tersebut.
“Saya sudah melihat ulang tayangannya dan menurut saya itu seperti ‘autopsi’ terhadap sebuah situasi permainan. Saya rasa Baschirotto lebih dulu mencapai bola, tetapi membahas hal itu sekarang tidak memberi manfaat apa pun. Pertandingan berakhir imbang dan meski insiden ini akan terus diperdebatkan, saya harus melihat ke depan,” ujar Giampaolo dikutip dari situs resmi Cremonese.
Dalam laga berikutnya melawan Napoli, Giampaolo menegaskan pentingnya sikap tim dalam menghadapi lawan besar. “Kami berada di fase musim di mana kami tidak boleh terlalu memikirkan siapa lawan yang dihadapi, meski tetap menghargai kualitas mereka. Itu tidak berarti kami sudah kalah sebelum bertanding. Dalam sepak bola, apa pun bisa terjadi. Yang terpenting adalah memiliki sikap yang tepat dan keyakinan untuk meraih hasil positif. Hari ini kami sudah tampil cukup baik, mungkin maksimal, tetapi itu belum cukup,” kata Giampaolo.
Giampaolo juga mengakui adanya tekanan mental yang dirasakan timnya, terutama di awal pertandingan. “Kemarin saya berbicara dengan tim dan mengatakan bahwa mereka tidak menyia-nyiakan satu pun sesi latihan sejak saya datang. Saya tidak bisa mengeluhkan profesionalisme dan komitmen mereka. Namun, saya merasakan sedikit kekhawatiran, dan itu hal yang wajar bagi tim dengan target seperti kami. Perasaan itu juga terlihat di awal laga dan karena itulah saya sempat marah saat jeda,” kata Giampaolo.
Terkait minimnya percobaan tembakan, Giampaolo menyebut hal itu sebagai bagian dari keputusan individu pemain di lapangan. “Ada situasi di mana Bondo bisa menembak, sedangkan Bonazzoli justru memilih menembak di momen yang seharusnya tidak. Itu adalah pilihan yang dibuat oleh para pemain,” Giampaolo menjelaskan.
Untuk laga selanjutnya, Giampaolo memastikan ada tambahan kekuatan dalam skuadnya. “Kami akan mendapatkan kembali Maleh setelah menjalani sanksi larangan bermain, tetapi Vardy sepertinya belum bisa kembali,” tutup Giampaolo.












