Mulyono, Penerima Bansos dengan Rumah dan Mobil

Viral di Media Sosial, Rumah Besar Dipasang Stiker Keluarga Miskin Penerima Bansos

Sebuah kejadian viral di media sosial mengungkapkan kontras antara label keluarga miskin yang ditempel di kaca rumah dengan kondisi rumah layak huni. Rumah besar tersebut berada di Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan milik seseorang bernama Mulyono. Dalam video yang menyebar, petugas terlihat mendatangi rumah tersebut dengan membawa stiker yang bertuliskan “Keluarga Miskin Penerima Bantuan Sosial (Bansos)”.

Kontras yang Menimbulkan Pertanyaan

Pada video tersebut, tampak sebuah mobil berwarna putih terparkir di garasi rumah. Keberadaan mobil serta tempat tinggal yang baik menimbulkan pertanyaan mengenai ketidaktepatan dalam penyaluran bansos. Hal ini menjadi sorotan warganet yang merasa tidak sejalan dengan label yang ditempelkan.

Menurut Ramdhan Ardi, Pendamping Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor untuk wilayah Ciomas, temuan ini terungkap saat ia bersama petugas memasang stiker keluarga miskin. Ia menjelaskan bahwa warga yang terlihat dalam video masih terdaftar sebagai penerima bansos saat dilakukan pengecekan.

“Setelah kami mendapat instruksi dari atasan untuk mengecek ulang data keluarga miskin, kami menemukan fakta seperti itu,” ujar Ramdhan.

Stiker keluarga miskin sebenarnya dipasang pada Jumat (21/11/2025), tetapi dicabut kembali karena Mulyono mengundurkan diri dari daftar penerima manfaat. Ia menyebutkan bahwa nama warga tersebut masih aktif terdaftar di Data Tunggal Sejahtera Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai penerima bantuan sosial tahap empat.

Masalah Data Lama yang Digunakan

Ramdhan menjelaskan bahwa ketidaksesuaian ini terjadi karena data lama yang dihimpun pada masa pandemi masih digunakan. “Ini data tahun 2020. Covid sudah lewat, tapi bansosnya masih diterima,” ucapnya.

Ia menilai, kasus ini menunjukkan adanya ketidaktepatan data yang bersumber dari sistem pendataan lama saat masa pandemi. Banyak warga mengajukan diri melalui aplikasi Sapa Warga pada tahun 2020, ketika Covid-19 melanda, dan data tersebut terus masuk ke basis BPS hingga saat ini.

Dari pengecekan yang dilakukan di Ciomas, Ramdhan menemukan bahwa sekitar 20 persen dari 2.088 penerima manfaat tercatat tidak lagi layak menerima bansos. Temuan ini muncul setelah petugas melakukan sampling di beberapa wilayah.

Kendala dalam Verifikasi Ulang

Ramdhan mengakui bahwa minimnya jumlah petugas menjadi kendala dalam proses verifikasi ulang. “Satu Kecamatan itu hanya tujuh orang. Jumlahnya jauh dari cukup untuk menangani ribuan penerima manfaat,” ungkapnya.

Ia berharap agar warga yang sudah sejahtera bersedia melapor dan mengundurkan diri secara sukarela dari daftar penerima bantuan. “Harusnya mereka datang ke RT, RW, desa, atau kecamatan untuk menyampaikan bahwa mereka sudah tidak layak menerima bansos,” tambah Ramdhan.

Stiker Keluarga Miskin yang Mempermalukan

Selain kasus Mulyono, ada juga warga lain yang mengalami situasi serupa. Sri Mulyati, seorang ibu rumah tangga janda di Kelurahan Pensiunan, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, mengaku jadi bahan ejekan gara-gara rumahnya dipasangi stiker bertuliskan “Keluarga Miskin”.

Sri Mulyati mengatakan, ia tidak keberatan rumahnya ditempeli stiker. Ia mengakui jika kondisi hidupnya masih membutuhkan bantuan. “Jadi, ibu tidak masalah. Memang keadaan kita seperti ini. Tidak keberatan,” kata Sri.

Nur Asmara, warga penerima manfaat, mengaku merasa malu meski tetap menerima bantuan sosial karena kebutuhan hidup anaknya yang masih sekolah. “Banyak kawan-kawan yang mengejek, biarlah. Karena kita memang butuh, memang menerima,” ujarnya.

Seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya menilai stiker besar yang ditempel di depan rumah terlalu mempermalukan. “Kenapa tidak sekalian spanduk besar saja pasang depan rumah, agar semua orang tahu kami orang miskin,” ungkapnya.

Program Pemasangan Stiker

Stiker ini memiliki ukuran sekitar 40×50 cm, dengan tulisan “Keluarga Miskin” dengan tulisan tebal dan besar berwarna merah. Stiker ini ditempelkan di depan rumah penerima manfaat, di samping pintu atau di atas jendela. Stiker tersebut dipasang oleh Dinas Sosial sebagai filter untuk penerima bansos yang benar-benar membutuhkan.

Program pemasangan stiker tersebut dilakukan sejak Senin (20/10/2025), yang dipimpin oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kepahiang, Helmi Johan. Dinas Sosial setempat melakukannya sebagai upaya untuk memastikan bantuan sosial tepat sasaran bagi keluarga penerima manfaat (KPM) yang benar-benar membutuhkan.

Kategori Masyarakat yang Tidak Layak Dapat Bansos

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengungkapkan sejumlah kategori masyarakat yang dinyatakan tidak lagi layak menerima bantuan sosial (bansos) setelah dilakukan verifikasi dan validasi melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Penerima bansos yang berada dalam kategori tidak layak umumnya berada di Desil 6 sampai 10 dalam pemeringkatan kesejahteraan.

Bantuan dialihkan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan, yaitu mereka yang masuk dalam Desil 1 hingga 4. Gus Ipul menjelaskan bahwa klasifikasi tersebut berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) melalui pemutakhiran data berkala.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *