Peran Media dalam Era Digital yang Penuh Tantangan
Di tengah perkembangan pesat teknologi dan digitalisasi, kepercayaan masyarakat terhadap konten digital kini semakin rentan. Fenomena ini menyerupai perilaku jemaah sesat yang menerima narasi tanpa mempertanyakan sumber atau konteksnya. Hal ini menjadi peringatan serius bagi media mainstream yang semakin terpinggirkan oleh platform digital dan algoritma yang tidak ramah.
Menurut Dr. S. Kunto Adi Wibowo, M.Comn., Ph.D., Kaprodi FIKOM UNPAD dan peneliti komunikasi, media kini terancam menjadi “gelandangan digital.” Ancaman ini muncul karena media kehilangan kendali atas kontennya di tengah tekanan disrupsi dan kepentingan tersembunyi oligarki platform. Hal ini diungkapkan dalam obrolan menjurus diskusi antara Kunto dengan Wartawan Pikiran Rakyat Kuningan, Erix Exvrayanto, di Bandung pada akhir November 2025 lalu. Obrolannya membahas tantangan media konvensional dalam menghadapi algoritma, Artificial Intelligence (AI), dan fenomena homeless media yang semakin menggerus kredibilitas berita.
Distorsi Konsumsi Informasi: Meniru Film “In the Name of God”
Kunto menyoroti tren masyarakat yang memilih mengonsumsi informasi dari sumber sekunder atau platform digital tanpa otorisasi resmi. Ia menggambarkan kecenderungan ini dengan mereview film dokumenter Netflix, berjudul “In the Name of God: A Holy Betrayal.” Meskipun film tersebut adalah produk jurnalistik investigasi berbobot, cara publik menyebarkan dan mempercayai narasinya kerap lepas dari konteks asli pembuatnya. Kunto menjelaskan, ini menunjukkan bahwa potongan narasi bisa dipercaya secara emosional, meski informasi utuhnya tidak dipahami.
Ia menambahkan, fenomena “homeless media” membuat konten berkualitas dari media mainstream kehilangan “Ownership of News,” sehingga beredar bebas dan berisiko jatuh ke tangan yang salah.
KOL dan Influencer: Pendukung atau Pengacau Informasi?
Dalam kondisi banjir konten saat ini, peran Key Opinion Leader (KOL) dan influencer menjadi sangat menentukan, tetapi kerap disalahgunakan. Kunto menegaskan bahwa mereka seharusnya memperkuat isu yang sedang “in” di media mainstream, bukan justru menciptakan spekulasi baru yang tidak terverifikasi. Dengan sinergi ini, media bisa merebut kembali “Ownership of Issue,” menjaga agar kredibilitas dan otoritas informasi tetap berpulang pada sumber yang teruji.
“Jika KOL dan media utama bersinergi, otoritas informasi dapat kembali ke sumber yang terpercaya,” tegasnya.
Jebakan Frenemy Digital dan Ancaman Oligarki Algoritma
Erix Exvrayanto mendebat Ketua Prodi FIKOM Unpad dengan pendekatan fenomena frenemy—friend and enemy (teman sekaligus musuh)—pernyataan Agus Sudibyo, mantan Anggota Dewan Pers yang sekarang menjabat Ketua Dewan Pengawas (Dewas) Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI, bahwa yang dijalin media massa dengan platform digital, “di satu sisi, platform digital memberikan akses luas. Tapi di sisi lain, mencuri traffic dan mengancam eksistensi media melalui dan disrupsi oleh Artificial Intelligence (AI). Bagaimana menurut akademisi cara mengimplementasikan ‘mediamorfosis’ teorinya Roger Fiedler?”
Kondisi ini diperparah dugaan Agenda Setting Oligarki, “yaitu kemampuan segelintir platform besar untuk menentukan isu yang dilihat dan didengar publik melalui kendali algoritmanya yang dimainkan oligarki,” misalkan menggunakan buzzer. Media konvensional harus mendalami dan menguasai algoritma ini, tidak hanya sebagai alat distribusi tetapi sebagai kunci untuk melawan disrupsi, “tapi kan harus punya kekuatan modal besar mempekerjakan SDM andal. Sementara ‘kue’ atau iklan direct sekarang lebih besar diperuntukan bagi KOL dan influencers.”
Komunitas dan Kolaborasi Akademik: Kekuatan Sejati di Tengah Badai
Kunto menegaskan bahwa solusi ada pada kekuatan sosial, yakni komunitas dan kolaborasi akademik. Media massa harus membangun “engagement community” agar loyalitas dan kepercayaan pembaca tidak bisa dibeli atau dicuri oleh algoritma. Selain itu, kolaborasi dengan akademisi memperkuat jurnalisme investigatif, seperti yang terlihat pada film dokumenter Netflix yang dibahas. Kolaborasi ini memastikan konten memiliki basis EEAT (Expertise, Experience, Authoritativeness, Trustworthiness) yang tinggi, memberikan fondasi ilmiah yang krusial di era digital.
Ditekankannya pula soal peran fundamental media sebagai pilar demokrasi. Ia mengingatkan pentingnya Teori Agenda Setting, di mana media menentukan isu yang dianggap penting publik, meski bukan cara publik memikirkannya. Menanggapi tantangan mediamorfosis, ia menegaskan bahwa platform digital bukan musuh mutlak, melainkan alat yang harus dikendalikan dengan etika dan visi redaksional kuat. Ia mengingatkan, jika media mampu mempertahankan kekuatan sosialnya, pers akan tetap menjadi pilar keempat demokrasi yang tangguh.
Kunto menegaskan, media harus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri, berkolaborasi tanpa kehilangan independensi, dan memanfaatkan teknologi tanpa menyerahkan agenda publik sepenuhnya pada algoritma. Adaptasi ini bukan sekadar bertahan hidup, tetapi mempertahankan fungsi kritis media dengan menjaga keseimbangan terhadap penguasa dan mencegah dominasi narasi oleh platform digital, terutama AI.
“Media wajib punya kekuatan sosial, maka akan menjadi pilar keempat demokrasi yang tangguh,” tutup Kunto, menegaskan bahwa kekuatan sejati media terletak pada otorisasi, etika, dan hubungan mendalam dengan komunitasnya.












