Ambisi Bioetanol Prabowo Ancam Ekosistem Papua

Pemerintah Dorong Swasembada Energi di Papua, Tapi Aktivis Khawatirkan Dampaknya

Pemerintah Indonesia kembali mengangkat isu swasembada energi dalam agenda pembangunan nasional, dengan fokus pada wilayah Papua. Dalam rapat percepatan pembangunan Papua yang digelar di Istana Negara, Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyebutkan bahwa Papua akan menjadi bagian dari pengembangan energi berbasis perkebunan. Ia menyarankan agar kelapa sawit ditanam di daerah tersebut untuk menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) alternatif.

Selain sawit, pemerintah juga berencana memperluas produksi bioetanol dari tebu dan singkong. Tujuannya adalah untuk mendukung kemandirian energi nasional. Presiden menargetkan dalam lima tahun ke depan semua daerah dapat mandiri secara pangan dan energi. Namun, rencana ini memicu kritik dari sejumlah aktivis lingkungan dan organisasi masyarakat.

Papua, Benteng Terakhir Hutan Indonesia

Papua saat ini merupakan wilayah dengan tutupan hutan alam terbesar yang tersisa di Indonesia. Pemerintah telah mengalokasikan sekitar dua juta hektare lahan di Merauke, Papua Selatan, untuk program swasembada gula dan produksi bioetanol. Luasan ini belum sepenuhnya ditanami, tetapi rencana pengembangan mencakup perkebunan tebu, fasilitas pengolahan gula dan bioetanol, serta infrastruktur terkait.

Laporan dari Trend Asia menunjukkan bahwa pemerintah berencana membuka lahan tebu seluas 633.000 hektare dan sawit 382.000 hektare, setara lebih dari 15 kali luas DKI Jakarta. Proyek ini difasilitasi melalui SK Menteri Kehutanan 430/2025 dan 591/2025, yang mengubah peruntukan kawasan hutan.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai masifnya ekspansi pembukaan lahan di Papua berpotensi meninggalkan kerusakan ekologis yang bersifat permanen. Kepala Divisi Kampanye Eksekutif Nasional WALHI, Uli Arta Siagian, menyebut Papua sebagai wilayah kantong hutan terakhir yang seharusnya dijaga.

Sawit Monokultur dan Risiko Deforestasi

Sawit monokultur telah lama terbukti menjadi salah satu pendorong utama deforestasi di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Papua. Data satelit yang dirilis Bentala Pusaka Rakyat menunjukkan, sepanjang Januari 2024 hingga Juni 2025, sekitar 22.272 hektare ekosistem alami di Merauke telah dikonversi permanen untuk infrastruktur proyek strategis nasional yang kini dalam proses pembangunan, termasuk jalan, pelabuhan, dan area pertanian baru.

Sejumlah rencana tersebut kini mulai bergerak ke tahap awal pelaksanaan. Dalam rilisnya, Pemerintah Provinsi Papua Selatan menyebut, hingga September 2025, perusahaan pengelola proyek tebu di Merauke telah memulai pembukaan lahan. Pada sebagian area tersebut, uji coba penanaman tebu juga sudah mulai dilakukan.

Dalam laporan yang sama juga disebutkan bahwa sejumlah kegiatan pembukaan lahan dilakukan di bawah pengawasan militer.

Pakar: Pemerintah Tidak Belajar dari Sumatra

Riset Greenpeace secara konsisten menunjukkan bahwa ekspansi kelapa sawit merupakan salah satu penyebab utama deforestasi, degradasi gambut, dan peningkatan emisi karbon. Sehingga hilangnya tutupan hutan akibat ekspansi sawit dan bioetanol. Menurut WALHI, memposisikan warga lokal menjadi pihak pertama yang menanggung beban ekologis.

“Ketika hutan dibuka, fungsi ekologis yang selama ini menopang kehidupan masyarakat ikut hilang,” kata Uli. Jika fungsi tersebut rusak, masyarakat di sekitar konsesi akan menghadapi dampak langsung, sementara manfaat ekonomi proyek justru lebih banyak dinikmati di luar wilayah.

Menurutnya, Papua kini diarahkan menjadi deforestation frontier, wilayah yang berpotensi mengalami tekanan deforestasi terbesar berikutnya di Indonesia, “untuk mengonversi jadi hutan monokultur, mereka (pemerintah) terbitkan izin konsesi korporasi. Yang tadinya hutan adat, hutan primer, dialihkan konsentrasi kendalinya ke korporasi.”

Uli menekankan bahwa bencana di Sumatra seharusnya menjadi pelajaran penting, “Seperti enggak belajar dari Sumatra, ya. Instruksi itu kan justru akan membawa rakyat Papua secara khusus dan seluruh rakyat Indonesia berada pada satu kondisi yang jauh lebih buruk dari hari ini.”

Warga Setempat Nyaris Tak Dapat Manfaat

Dari sisi ekonomi, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai keuntungan proyek bioetanol dan sawit di Papua sebagian besar mengalir ke perusahaan besar, bukan masyarakat lokal. “Selama 2015–2024, subsidi biodiesel sebesar Rp208,4 triliun hanya masuk ke 15 grup perusahaan sawit. Tahun ini saja, APBN menargetkan tambahan subsidi Rp35 triliun,” ujarnya.

Lebih jauh, Bhima menyoroti klaim penghematan yang digaungkan pemerintah. Ia menilai, pemerintah tak secara total menghitung biaya serta untung rugi dari hulu ke hilir, “klaim penghematan itu berlebihan, karena ongkos untuk mengolah prosesnya menjadi biodiesel, bioetanol, kemudian menjualnya di luar dari pulau, itu juga harus dimasukkan dan dihitung. Enggak hanya segi ekonomi, tapi juga ekologi dan sosial masyarakatnya.”

Bhima menyebut, faktor eksternalitas juga jadi hal yang sering diabaikan: konversi hutan dan lahan masyarakat untuk perkebunan berpotensi melepaskan 782,4 juta ton emisi karbon, setara dengan emisi tahunan sekitar 170 juta mobil pribadi, yang meningkatkan risiko ekologis hingga dua kali lipat. Konflik lahan dan ketidakadilan distribusi manfaat turut menambah beban bagi warga lokal.

Bioetanol “Hijau” atau Justru Beban untuk Papua?

Alih-alih dilihat semata sebagai solusi transisi energi, WALHI dan CELIOS menempatkan bioetanol dalam kerangka kebijakan yang lebih luas: siapa yang menanggung biaya, dan siapa yang menikmati hasilnya.

Bhima menilai konversi hutan Papua untuk energi lebih mencerminkan jalan pintas kebijakan, alih-alih solusi struktural. “Yang artinya bukan untuk pemenuhan orang Papua, tapi justru digunakan untuk meraup devisa ekspor. Jadi sebenarnya apa yang mau dituju? Secara APBN mahal, emisi karbonnya juga ternyata tinggi, lalu orang Papua enggak dapat apa-apa,” ujarnya.

Menurut Uli, ukuran “hijau” tak cukup dilihat dari jenis energinya, tetapi juga dari dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat. Selama ekspansi perkebunan masih membuka hutan dan menggeser ruang hidup warga, transisi energi dinilai berisiko mengulang pola pembangunan ekstraktif.

Pemerintah, di sisi lain, membela inisiatif ini sebagai bagian dari strategi nasional menuju kemandirian energi dan pengurangan ketergantungan impor BBM. Deputi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan target produksi bioetanol di Merauke akan mulai berjalan pada 2027 untuk memenuhi kebutuhan domestik dan mempercepat transisi energi baru dan terbarukan.

Namun, di Papua, pertanyaan yang tersisa bukan hanya soal kemandirian energi, tetapi apakah arah kebijakan ini benar-benar berpihak pada perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat atau hanya alat untuk ekspor dan keuntungan korporasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *