Daerah  

Luka Barat di Puger: Kenangan Pilu Slamet yang Hilang di Laut

Angin Musim Barat dan Kehidupan Nelayan di Pesisir Jawa



Di kawasan pesisir selatan Jawa, angin muson barat sering kali menjadi bagian tak terhindarkan dari kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat nelayan, fenomena alam ini tidak hanya sekadar perubahan cuaca biasa, melainkan tanda bahwa laut sedang tidak bersahabat. Dalam beberapa minggu terakhir, angin yang bertiup kencang mengakibatkan aktivitas melaut menurun drastis, memengaruhi kehidupan para nelayan seperti Slamet.

Slamet (62), seorang nelayan berpengalaman di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, telah hampir sebulan tidak bisa melaut. Perahu motor milik juragannya yang dominan berwarna oranye masih terparkir di bibir Pantai Pancer. Mesin perahu terdiam, jaring tergulung rapi, dan alat pancing sudah dibawa pulang ke rumah. Aktivitas melaut di dermaga Puger kini sangat minim, dengan suasana yang sebelumnya ramai kini berganti dengan kesunyian.

Menepi demi keselamatan adalah pilihan yang diambil oleh Slamet dan rekan-rekannya. Angin barat yang tidak menentu membuat laut menjadi terlalu berisiko. Ia memilih untuk tetap berada di daratan karena pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa alam tidak bisa dilawan. Langit yang mendung, angin kencang, dan gelombang tinggi menjadi isyarat mutlak untuk tidak melaut.

Selain itu, ada luka lama yang ikut terbuka setiap kali angin barat datang. Lebih dari 100 hari telah berlalu sejak anak laki-laki sulungnya dinyatakan hilang di laut. Peristiwa pilu tersebut terjadi saat sang putra melaut untuk pertama kalinya. Perahu yang membawanya diduga disapu gelombang besar. Saat kejadian itu terjadi, Slamet sendiri sedang melaut di titik yang berbeda, sehingga ia tidak mengetahui rencana keberangkatan tersebut.

Sejak tragedi tersebut, Slamet menjadi lebih berhati-hati dalam mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum melaut. Namun, tidak melaut berarti tidak ada penghasilan. Dampaknya langsung terasa di rumah keluarga Slamet, terutama karena tiga dari tujuh anaknya masih bersekolah dan membutuhkan biaya pendidikan yang cukup besar.

Sarinah, istri Slamet, mengaku harus lebih pandai mengatur pengeluaran saat musim sulit ini tiba. Sebagai ibu rumah tangga tanpa penghasilan tambahan, ia terkadang harus berhukum untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Kalau kepepet ya nyari hutangan,” ujarnya sambil menyadari tantangan yang dihadapi.

Risiko pekerjaan sebagai nelayan sangat tinggi. Selain alasan keselamatan, ada hitung-hitungan modal yang harus dipertimbangkan. Modal solar saja bisa mencapai Rp 300.000, belum termasuk bensin dan perbekalan. Jika dipaksakan melaut saat cuaca buruk, hasilnya sering kali tidak sepadan. Kadang hanya mendapat tiga ekor ikan, atau paling banyak 40 kilogram. Padahal dalam kondisi normal, tangkapan bisa mencapai lima kuintal jika musim ikan lemuru tiba.

Meski angin barat masih bertiup, harapan untuk kembali ke laut tak pernah benar-benar padam. Karena laporan cuaca menyebutkan angin agak bersahabat hingga Minggu (21/12/2025), Slamet memutuskan kembali berangkat sejak siang kemarin. Ia berencana bermalam dua hari di tengah laut, memanfaatkan jendela cuaca yang membaik meski singkat.

Perbekalan sudah disiapkan, mulai dari nasi, roti kemasan, mi instan, kopi, hingga kompor kecil. “Modal solar hampir Rp 300 ribu, belum bensinnya,” katanya lagi. Slamet hanya bisa berdoa agar ramalan cuaca akurat dan hasil tangkapannya kali ini banyak untuk menutupi kebutuhan berminggu-minggu ke depan.

Ia berencana kembali ke daratan besok pagi melalui dermaga Puger. Baginya dan banyak nelayan lain, angin barat adalah masa menunggu yang penuh kesabaran. Menunggu cuaca membaik, menunggu ikan mendekat, dan belajar berdamai dengan alam. Sebab di laut selatan, keselamatan selalu jauh lebih mahal daripada hasil tangkapan.

Exit mobile version