Danbrigif Sampaikan Pesan Panglima TNI Saat Pimpin Upacara Pemakaman Pratu Farkhan

Pemakaman Pratu Farkhan Syauqi Marpaung di Asahan

Pemakaman Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, seorang prajurit TNI yang gugur saat bertugas di perbatasan RI–PNG, dilakukan di Dusun IV, Desa Hessa Air Genting, Air Batu, Kabupaten Asahan, Sabtu (3/1/2026). Upacara pemakaman ini dipimpin langsung oleh Komandan Brigif 25/Siwah Aceh, Kolonel Infanteri Dimar Bahtera.

Pratu Farkhan tewas diduga akibat penganiayaan dari senior berpangkat Kopral TNI. Kasus ini sedang ditangani oleh TNI AD atas perintah Panglima TNI, Agus Subianto. Terduga pelaku telah diamankan di POM Timika dan penyelidikan masih berlangsung.

Latar Belakang Pratu Farkhan

Pratu Farkhan Syauqi Marpaung merupakan anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti Aceh. Berdasarkan kepangkatannya, kemungkinan besar ia lulus Sekolah Calon Tamtama (Secaba) pada 2023-2024. Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS) adalah satuan militer TNI AD di bawah Kodam Iskandar Muda (Kodam IM) wilayah Aceh.

Sementara itu, Kisaran adalah ibu kota Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Kawasan ini dikenal sebagai daerah permukiman dan pertanian dengan aktivitas masyarakat yang dominan di bidang perdagangan, jasa, serta perkebunan, khususnya kelapa sawit dan karet.

Pesan dari Komandan

Komandan Brigif 25/Siwah Aceh, Kolonel Infanteri Dimar Bahtera, menyampaikan pesan dari Panglima TNI, Agus Subianto. Ia menegaskan bahwa Pratu Farkhan adalah prajurit yang tangguh dan menjadi contoh bagi rekan-rekannya.

“Pratu Farkhan memiliki motivasi tinggi, dia menjadi prajurit yang dicontoh bagi rekan-rekannya, adik-adiknya. Seperti diamanat saya tadi, Pratu Farkhan ini prajurit yang tangguh,” kata Danbrigif 25/Siwah.

Menurutnya, Pratu Farkhan adalah prajurit yang siap ditempatkan di mana saja. “Dia orangnya flexible, mudah bergaul dan tegas.”

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya belum bisa memutuskan hasil dari pemeriksaan terkait kasus tersebut karena ada mekanisme yang lebih profesional dan seluruhnya dikawal langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Kekhawatiran dan Tuntutan Keluarga

Kepergian Pratu Farkhan menyisakan tanda tanya besar dan keresahan bagi warga Asahan. S Marpaung, pengurus Persaudaraan Marga Marpaung Kabupaten Asahan, menyampaikan rasa salut atas ketegaran orang tua korban, namun juga melontarkan tuntutan tegas kepada pimpinan tertinggi TNI.

Mewakili keluarga besar Marpaung, ia meminta Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan KASAD Jenderal Maruli Simanjuntak untuk mengusut tuntas penyebab kematian Pratu Farkhan. Muncul dugaan kuat adanya penganiayaan oleh oknum senior di balik peristiwa ini.

“Seperti diucapkan ayahnya ‘Belum lagi kering makam Prada Lucky, kini masuk lagi makam Pratu Farkhan Syauqi Marpaung’. Kami tidak mau lagi ada adik-adik kami yang meninggal sia-sia,” tegas S. Marpaung.

Permintaan Pemecatan Oknum Senior

Keluarga besar berharap penuh pada empati Jenderal Maruli Simanjuntak yang dikenal dekat dengan masyarakat Asahan. Mereka meminta jika nantinya terbukti ada unsur penganiayaan oleh oknum senior, maka sanksi pemecatan adalah harga mati.

“Anak Asahan ini banyak yang berangkat ke Papua untuk bertugas. Kami sedih dan kami meminta agar Jenderal Maruli bisa mengusut tuntas kasus adik kami ini,” katanya.

Hingga saat ini, prosesi persemayaman masih berlangsung di rumah duka dengan penjagaan militer, sementara pihak keluarga masih menanti kejelasan resmi terkait penyebab pasti gugurnya Pratu Farkhan.

Rencana Perkawinan yang Tertunda

Pratu Farkhan Syauqi Marpaung meninggal dunia diduga akibat dianiaya oleh oknum seniornya saat bertugas di pengamanan perbatasan Indonesia – Papua Nugini. Menurut orang tua Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Zakaria Marpaung, anaknya telah berjanji kepada seorang wanita pujaan hatinya akan menikahinya seusai pulang dari pamtas IND-PNG.

“Kami terkejut, saat dapat kabar meninggal itu, ada wanita datang memeluk foto dia. Rupanya teman dekatnya. Dibilangnya kalau mereka sudah mengikat janji akan menikah setelah pulang pamtas IND-PNG,” ujar Zakaria Marpaung.

Wanita itu menangis histeris didepan rumahnya sambil terisak memanggil nama Pratu Farkhan. “Bang kenapa kau tinggalkan aku, dibilang wanita itu sambil memeluk foto anakku.”

Zakaria juga mengaku, baru tau ternyata wanita tersebut ikut mengantar Pratu Farkhan di pelabuhan Aceh saat berangkat ke Papua.

Kronologi Dugaan Penganiayaan

Kabar duka itu pertama kali diterima Zakaria dari sepupu korban. Ia diberi tahu bahwa anaknya sempat sakit dan menghangatkan badan di dekat perapian. Tak lama kemudian, seorang senior berpangkat sersan datang menanyakan kondisi Pratu Farkhan.

Namun situasi berubah. Menurut penuturan keluarga, datang senior lain berpangkat kopral yang kemudian diduga melakukan kekerasan. Pratu Farkhan dipukul menggunakan ranting dan dipaksa melakukan sikap tobat.

“Setelah dia tunduk taubat, lalu dia ditendang, dia melawan. Aku bangga dengan anakku ini, dia berani melawan membela nyawanya didepan seniornya berpangkat kopral,” kata Zakaria dengan suara bergetar.

Tangisan Ibu Pratu Farkhan

Tangis Marsinah, ibu Pratu Farkhan, anggota TNI yang meninggal dunia saat bertugas di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini pecah saat menceritakan tentang sang anak. Sang ibu tampak tak kuasa menahan duka, tubuhnya sedikit terkulai dengan kepala mendongak ke atas, mulut terbuka lebar seolah meluapkan ratapan yang tertahan.

Air mata dan jeritan kesedihan menyatu dalam ekspresi wajahnya yang menggambarkan kehilangan paling dalam seorang ibu terhadap anaknya.

“Dia menelpon saya sebelum meninggal itu, dibilangnya Tuah sakit mak, kayanya tipes atau malaria. Tapi tuah baik-baik aja di sini Mak,” ujar Ibu Pratu Farkhan, Marsinah Wati Silalahi, Jumat (2/1/2026).

“Tapi anakku tetap aja dipukul dianiaya sama kopral itu. Tak percaya orang itu, anakku sakit,” katanya sambil tubuh terkulai tak berdaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *