Rindu pada Ridwan Kamil

Kehadiran yang Selalu Dinantikan di Layar Bioskop

Ada sebuah lubang menganga di layar bioskop kita belakangan ini. Bukan karena kualitas CGI yang menurun atau akting aktor masa kini yang kurang gizi, melainkan karena absennya satu wajah yang entah kenapa selalu merasa perlu terselip di antara deretan extras.

Siapa lagi kalau bukan Ridwan Kamil? Atau yang akrab kita panggil Kang Emil. Perkenalan saya dengan beliau dimulai dengan sebuah ketidakhadiran yang sangat logis.

Tahun 2013, saat Kang Emil baru mau menjajal peruntungan di Pemilihan Walikota Bandung, seorang teman mengajak saya melihat pemaparan programnya di wilayah Parongpong. Saya timbang-timbang: Jauh? Jelas. Ongkos? Mahal. KTP saya Bandung? Bukan. Jadi, buat apa saya bela-belain ke sana cuma buat dengerin janji politik kalau ujung-ujungnya saya pun nggak bisa nyoblos?

Secara matematika ekonomi, itu investasi yang merugi. Maka, saya putuskan untuk tidak datang. Namun, nasib memang senang bercanda. Justru setelah beliau terpilih jadi Walikota, intensitas “pertemuan” kami malah jadi lebih sering, meski lewat medium yang berbeda: layar bioskop.

Pejabat yang Terjebak di Tubuh Aktor

Harus diakui, Kang Emil ini punya dukungan yang luar biasa terhadap industri kreatif, terutama film. Tapi dukungannya bukan cuma sekadar tanda tangan di atas materai kebijakan. Beliau sepertinya punya cita-cita terpendam jadi bintang film yang terhalang oleh tanggung jawab mengurus trotoar dan taman kota.

Wajahnya mulai bertebaran di film-film populer sebagai ekstras. Penonton mungkin masih ingat akting “naturalnya” sebagai Guru SMK di film Dilan 1990 (2018). Lalu, entah saking sayangnya sutradara atau memang beliau yang minta, di Dilan 1991 beliau naik pangkat jadi Kepala Sekolah. Beliau juga sempat muncul di The Wedding & Bebek Betutu (2015) sebagai dirinya sendiri, hingga film Yowis Ben 2 (2019) sebagai pengunjung museum.

Setiap ada film yang syutingnya di Bandung atau ceritanya “nyerempet” Bandung, saya sudah bisa menebak: “Ah, bentar lagi Kang Emil lewat nih”. Beliau adalah easter egg paling nyata dalam perfilman Indonesia. Bedanya dengan Stan Lee di film Marvel, Stan Lee muncul karena dia penciptanya. Kang Emil muncul mungkin karena dia yang punya wilayahnya. Adil, bukan?

Bukan Sekadar Kameo, Ada Betonnya

Tapi jangan salah sangka, dukungan Kang Emil pada dunia kreatif tidak hanya berhenti pada munculnya muka beliau di layar selama lima detik. Kalau cuma itu, beliau lebih cocok disebut aktor figuran daripada pemimpin daerah.

Pada tahun 2017, tepat di masa-masa akhir jabatannya sebagai Walikota, beliau meresmikan Bandung Creative Hub (BCH). Bagi saya dan teman-teman seniman di Bandung, gedung itu bukan sekadar bangunan mentereng di Jalan Laswi. Itu adalah pengakuan. Ada auditorium pemutaran setara bioskop, ruang pameran, studio musik, hingga tempat nongkrong lintas subsektor kreatif.

Sampai saat ini, BCH masih menjadi salah satu denyut nadi ekonomi kreatif kota Bandung. Sebuah warisan fisik yang membuktikan bahwa saat beliau bicara soal ekonomi kreatif, beliau tidak sedang mengigau atau sekadar mencari bahan konten Instagram. Beliau membangun rumah bagi mereka yang selama ini dianggap “kurang kerjaan” oleh mertua, ya para pekerja seni.

Romantika Braga dan Ancaman KTP

Soal pertemuan fisik dengannya, seingat saya pertama kali terjadi pada tahun 2016. Di sebuah kafe di jalan Braga yang ikonik, tempat yang kalau difoto selalu terlihat lebih estetik dari aslinya, saya menemani para sesepuh perfilman untuk audiensi terkait sebuah festival film. Suasananya cair, penuh aroma kopi dan aroma harapan akan anggaran.

Hasil dari pertemuan di Braga itu tidak sia-sia. Di malam puncak festival, Kang Emil hadir menggandeng istrinya (kala itu), Atalia Praratya atau Si Cinta. Kehadiran mereka berdua selalu punya daya tarik magnetis; yang satu rapi dengan gaya arsiteknya, yang satu anggun dengan pesona Ibu Pejabatnya.

Dukungan ini ternyata bukan hangat-hangat tahi ayam. Saat beliau naik kasta menjadi Gubernur Jawa Barat, dukungan terhadap festival film yang saya geluti pun tetap berjalan terus-menerus. Namun, yang paling saya ingat adalah “ancaman maut” khasnya setiap kali hadir di premiere atau special screening film di Bandung.

Di depan mikrofon, dengan nada datar tapi mematikan, beliau akan berujar: “Siapa yang tidak nonton film ini, KTP Bandungnya dicabut!”. Tentu saja itu guyon. Tapi bagi warga Bandung yang sudah antre bertahun-tahun demi e-KTP yang nggak kunjung jadi, candaan itu rasanya horor-horor sedap. Sebuah taktik pemasaran yang sangat jenius: gunakan kekuasaan administratif untuk mendongkrak jumlah penonton. Produser mana yang tidak sujud syukur punya pejabat seperti ini?

Merindukan Ridwan Kamil

Kini, waktu telah bergulir. Kang Emil sudah melangkah ke panggung politik yang lebih besar, lebih riuh, dan mungkin lebih melelahkan. Dan jujur saja, ada sesuatu yang hilang di layar bioskop kita. Banyak orang merindukan beliau karena kebijakan tata kotanya, atau mungkin karena gaya komunikasi media sosialnya yang jenaka. Tapi saya berbeda. Rasa rindu saya jauh lebih spesifik dan mungkin dangkal: saya rindu melihat wajahnya di layar lebar.

Saya rindu sensasi duduk di kursi bioskop, lalu tiba-tiba seisi studio tertawa kecil karena melihat Pak Gubernur tiba-tiba muncul jadi sopir atau sekadar orang lewat yang memegang buku. Ada sebuah kehangatan tersendiri melihat seorang pemimpin yang tidak malu jadi “kecil” di layar demi mendukung industri film lokalnya.

Jadi, lewat tulisan ini, saya tegaskan: yang saya rindukan adalah dukungan nyata dan tampilan kameo Kang Emil di layar lebar. Soal urusan politik yang lain? Ah, biarlah itu menjadi urusan pengamat politik yang lebih serius daripada saya. Saya cuma ingin tahu, di film mana lagi beliau akan muncul dan jabatan fiksi apa lagi yang akan beliau emban.

Kang, kalau nanti ada film baru lagi, jangan lupa titip peran. Jadi tukang parkir pun tak apa, asal jangan sampai ancaman cabut KTP itu benar-benar jadi kebijakan nasional. Bisa repot urusannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *