Pengalaman Mencekam Deiske Ghe Saat Banjir Bandang Melanda Siau
Pada dini hari Minggu (4/1/2026), banjir bandang melanda Kecamatan Siau Barat Selatan, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara. Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi warga setempat. Salah satu korban yang selamat, Deiske Ghe Madundang, menceritakan detik-detik mengerikan yang ia alami saat bencana terjadi.
Deiske adalah ibu dari Clayton Azriel Tatambihe (2 tahun). Sayangnya, anaknya tidak berhasil diselamatkan dan ditemukan meninggal dunia tiga hari setelah kejadian oleh Tim SAR Gabungan. Saat ini, Deiske masih menjalani perawatan intensif di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara. Jarak rumah sakit dari pelabuhan Manado sekitar 7 km dengan waktu tempuh sekitar 22 menit menggunakan kendaraan bermotor lewat Jl. Sam Ratulangi dan Jl. Wolter Monginsidi.
Detik-Detik Saat Banjir Bandang Menghancurkan Rumah
Saat kejadian, Deiske bersama anaknya dan kedua orang tuanya berada di rumah mereka di Desa Laghaeng, Kecamatan Siau Barat Selatan. Sang suami saat itu sedang bekerja dan tidak ada di rumah. Hujan deras telah mengguyur sejak pukul 12 malam, disertai kondisi listrik yang padam sebelum peristiwa terjadi.
Sekitar pukul 02.30 Wita, Deiske dibangunkan oleh ayahnya. “Papa bilang air so nae dari got, karena rumah di samping got,” tutur Ghe. Ia sempat kembali tertidur, hingga mendengar suara seperti guntur, namun terdengar pelan. Ketika suara itu terdengar untuk kedua kalinya, Ghe langsung tersadar dan meraih anaknya untuk keluar dari kamar.
Di depan pintu kamar, sang ayah sudah menunggu dan berteriak agar mereka segera lari menyelamatkan diri. Namun, saat pintu depan dibuka dan mereka hendak keluar, rumah tiba-tiba roboh diterjang banjir bandang. Ghe dan anaknya sempat terhempas.
“Saat itu, saya peluk dia dengan kuat, tapi saya sempat terkena benturan, kemudian pelukan saya terlepas,” katanya. Keduanya sempat terpisah, lalu kembali berpegangan tangan. Kemudian benturan keras kedua menghantam kepala Ghe dan membuat pegangan itu kembali terlepas.
“Rumah saat itu sudah roboh,” kenangnya dengan suara lirih. Ghe terseret cukup jauh oleh derasnya arus banjir, namun masih dalam keadaan sadar. Ia sempat berteriak meminta pertolongan kepada Tuhan. “Saya teriak Tuhan tolong pa kita,” ungkapnya.
Ia sempat terlempar akibat benturan dan terbawa arus ke sekitar rumah tetangga. Ia sempat melihat seorang tetangga yang juga keluarganya kemudian langsung berteriak meminta tolong. “Saya teriak Mama Ni, tolong kita,” teriaknya. Ghe sempat memegang tangan tersebut sebelum akhirnya memilih melepaskan karena takut orang yang menolongnya ikut terbawa banjir.
Ia kembali terseret hingga mencapai area tanah yang relatif rata. Dalam kondisi gelap gulita dan penuh kepanikan, Ghe nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tak lama kemudian, ia melihat cahaya senter dari kejauhan. Ternyata itu adalah saudaranya, Faris. Ghe pun berteriak meminta pertolongan.
Saat Faris hendak mengangkatnya, namun Ghe merasa tubuhnya sangat berat. Barulah diketahui kaki kanannya mengalami patah tulang. Ia kemudian berusaha naik ke sebuah pohon untuk menyelamatkan diri. Di atas pohon tersebut sudah ada tantenya yang membantu Ghe naik.
Akibat kejadian itu, Ghe mengalami luka serius hampir di seluruh tubuhnya. Namun, ia belum langsung dibawa ke puskesmas karena kejadian terjadi pada dini hari. “Kami harus menunggu hingga pagi sebelum akhirnya dilarikan ke puskesmas terdekat,” ungkapnya.
Setelah sempat dirawat di fasilitas kesehatan setempat dan rumah sakit terdekat, Deiske terus mencari keberadaan sang anak. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil. Ghe kemudian dirujuk ke RSUP Kandou Manado untuk penanganan lanjutan.
Baru tiga hari setelah kejadian, Clayton Azriel Tatambihe ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sang buah hati telah disemayamkan pada Kamis (8/1/2026). Kehilangan tersebut menjadi pukulan berat bagi Ghe. Meski sangat terpukul, ia berusaha tetap tegar menghadapi kenyataan pahit tersebut.
Data Korban dan Kerusakan Akibat Bencana
Total korban bencana banjir di Siau mencapai 37 orang. Dari jumlah tersebut, 17 orang meninggal, 18 luka, dan 2 orang masih dinyatakan hilang. Selain itu, 693 jiwa mengungsi akibat bencana ini.
Berdasarkan data, total ada 693 orang yang terdampak banjir bandang di tujuh kelurahan desa di empat kecamatan. 206 unit bangunan dilaporkan rusak. Dari jumlah tersebut, 30 rumah dilaporkan hilang terbawa banjir, 52 rumah rusak berat, 29 rumah rusak sedang, dan 89 lainnya rusak ringan.
Selain itu, kerusakan juga dialami satu unit bengkel, satu kios, dan tiga bangunan sekolah. Kantor pemerintahan dilaporkan satu yang alami kerusakan yakni Markas Polres Sitaro.
Informasi Tentang Pulau Siau
Pulau Siau berada di bagian utara Provinsi Sulawesi Utara. Dari Pelabuhan Manado ke Siau bisa ditempuh kurang lebih 5 jam naik kapal cepat. Siau adalah satu dari 47 pulau yang masuk wilayah Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro).
Dari 47 pulau itu, hanya 10 pulau di antaranya berpenghuni. Total penduduk Kabupaten Sitaro sebanyak 70.528 jiwa. Terbanyak menghuni Pulau Siau. Disusul Pulau Tagulandang dan Biaro. Ibu kota kabupaten berada di Siau. Gunung Api Karangetang dengan ketinggian 1.797 mdpl dan sangat aktif berada di pulau ini.
Pulau Siau juga dikenal dengan komoditi unggulannya berupa Pala.
