Peringatan Cuaca Ekstrem dari BMKG untuk Januari 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem yang berlaku pada periode 17–22 Januari 2026. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Kalimantan Timur, yang dianggap berpotensi mengalami hujan lebat dan angin kencang. Peringatan ini dikeluarkan karena adanya pengaruh dari fenomena iklim seperti La Niña lemah, MJO (Madden-Julian Oscillation), gelombang ekuator, serta siklon tropis.
Cuaca ekstrem tersebut dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan rutin memantau pembaruan cuaca melalui kanal resmi BMKG agar dapat mengantisipasi dampak lanjutan.
Pengaruh Fenomena Iklim Global dan Regional
Pengaruh dinamika atmosfer global, regional, dan lokal terhadap kondisi cuaca di Indonesia masih signifikan. Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif, yang menunjukkan adanya La Niña lemah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia juga turut memperkaya pasokan uap air tersebut. Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) diprakirakan aktif melintasi Laut Maluku, Maluku Utara, Laut Halmahera, Perairan utara Maluku Utara – Papua, dan Pesisir Utara Papua. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut.
Gelombang Ekuator dan Siklon Tropis
Gelombang ekuator juga terpantau aktif dan dapat memperkuat proses konvektif di sejumlah wilayah. Kombinasi antara MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator teramati aktif di Samudra Hindia barat Sumatra, sebagian Sumatera, sebagian Kalimantan, Maluku Utara, dan Perairan utara Papua. Hal ini berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di kawasan tersebut.
BMKG juga mendeteksi adanya Siklon Tropis Nokaen yang terdapat di Laut Filipina, utara Maluku Utara. Siklon ini diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan tekanan udara 1000 hPa. Arah geraknya ke Barat Laut, sehingga berpengaruh terhadap pembentukan pola angin terutama di wilayah utara Indonesia bagian Timur.
Selain itu, terdapat Bibit 96S yang pergerakannya diprakirakan persisten, dengan kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan udara 1002 hPa. Bibit ini mempengaruhi pola angin termasuk daerah konvergensi, memanjang dari Pesisir barat Sumatera, Riau, dari Jambi hingga Lampung, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Seram, Laut Arafura, Papua Barat.
Potensi Penurunan Suhu dan Dampaknya pada Cuaca
Dalam sepekan ke depan, terdapat potensi peningkatan seruakan dingin (cold surge) dari Benua Asia. Hal ini diindikasikan oleh perbedaan tekanan udara dari Gushi yang tinggi, disertai peningkatan kecepatan angin yang tinggi di Laut China Selatan. Masuknya monsun Asia menjadi lebih cepat dan mudah melewati ekuator (nilai CENS yang signifikan), melalui Selat Karimata.
Peristiwa ini memberikan dampak pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Selatan Indonesia, khususnya Sumatera Bagian Selatan dan Pulau Jawa.
Prospek Cuaca untuk 17–22 Januari 2026
Periode 17-18 Januari 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Beberapa wilayah perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang, yaitu:
* Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang juga berpotensi terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini sebagai berikut:
Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, dan Maluku.
Angin Kencang: Kep. Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Papua Barat, dan Papua Tengah.
Periode 19 – 22 Januari 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Beberapa wilayah perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang, yaitu:
* Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, DK Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, NTB, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang juga berpotensi terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini sebagai berikut:
Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, Sulawesi Selatan.
Angin Kencang: Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua.
Untuk informasi cuaca lebih detail, masyarakat dapat mengakses website BMKG, aplikasi mobile infoBMKG, atau media sosial @infoBMKG.
