Pelantikan 12 Pakar sebagai Tenaga Ahli DPN untuk Memperkuat Ketahanan Nasional
Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin melantik 12 pakar sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) untuk memperkuat bidang Geoekonomi, Geopolitik, dan Geostrategi nasional. Pelantikan ini dilakukan di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Gedung Jenderal Sudirman Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, pada Kamis (15/1/2026). Langkah ini berdasarkan Keputusan Ketua Harian DPN Nomor: KEP/3/KH/X/2025 serta merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 202 Tahun 2024 tentang Dewan Pertahanan Nasional.
Para tenaga ahli ini akan mengisi posisi krusial sebagai Tenaga Ahli Utama, Madya, dan Muda pada kedeputian bidang Geoekonomi, Geopolitik, serta Geostrategi. Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan), Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan strategi pemerintah untuk mengintegrasikan keahlian akademis dan praktis dalam mendukung kelancaran tugas DPN dalam menghadapi dinamika tantangan global yang semakin kompleks.
Sosok Sabrang Letto dan Frank Hutapea Jadi Sorotan
Dari 12 nama yang dilantik, sosok Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto) dan Frank Alexander Hutapea, anak pengacara kondang Hotman Paris menjadi perhatian publik. Keduanya dilantik sebagai Tenaga Ahli Madya, posisi yang setara dengan pejabat Eselon 2. Sabrang, yang dikenal sebagai putra cendekiawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, hadir mengenakan setelan jas hitam dan kopiah. Begitu pula dengan Frank Alexander.
Daftar Lengkap Tenaga Ahli DPN yang Dilantik
Sesuai struktur kedeputian, berikut adalah jajaran ahli yang resmi bergabung:
Tenaga Ahli Utama:
– Surachman Surjaatmadja
– Ian Montratama
– M. Abdul Kholiq
– Agato P. P. Simamora
– Achmad Rully
– Filda Citra Yusgiantoro, Ph.D.
Tenaga Ahli Madya:
– Sabrang Mowo Damar Panuluh, B.Math, B.Sc.
– Frank Alexander Hutapea, S.H.
– Dr. Ir. Jupriyanto
Tenaga Ahli Muda:
– Santiaji Dyatmiko
– Maundri Prihanggo
– Muhammad Zulkarnain Maddatuang
Pelantikan figur-figur tersebut tidak lepas dari arahan Menhan Sjafrie, yang sekaligus Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional (DPN).
Sosok Menhan Sjafrie Sjamsoeddin
Sjafrie Sjamsoeddin adalah lulusan Akademi Tentara Nasional Indonesia (Akabri) 1974, seangkatan dengan Presiden Prabowo. Pria kelahiran Ujungpandang, Sulawesi Selatan, pada 30 Oktober 1952 ini melanjutkan pendidikannya di bidang bisnis dan meraih gelar MBA tahun 1993.
Karier militernya dimulai di lingkungan Baret Merah dengan jabatan sebagai Danton Grup I, Danki II Grup I, Pa Intel Grup I, Dan Satlak Pengawal Pribadi Presiden RI, Wadan Yon Grup I, Danyon I Grup I, Waasops Dan Kopassus (1975-1991). Selain itu, ia pernah bertugas sebagai pengawal pribadi Presiden Soeharto dalam setiap kunjungan ke luar negeri.
Sjafrie antara lain pernah menjadi pengawal pribadi Presiden Soeharto ketika melakukan kunjungan kerja ke Malaysia, Singapura, Filipina, Srilanka (1979), Amerika Serikat, Jepang (1980), AS, Jepang, Korea, Spanyol (1982), Malaysia, Singapura (1984), AS, Timur Tengah, Tunisia (1993), India (1994), Denmark, Bosnia, Kroasia, Jerman, CIS (1995).
Karier militernya diawali sebagai Komandan Peleton (Danton) Grup I Kopassus (1975-77), Komandan Kompi (Danki) II Grup I (1977-80), Perwira Intel Grup I (1980-81), Dan Satlak Walpri Pres (1978-84), Wadan Denpur 13 Grup I (1982-85), Wadan Denpur 12 Grup I (1986-89), Wadanyon I Grup I (1986-89), Danyon I Grup I (1989-91). Setelah itu, sejak 1 September 1991, Sjafrie menjabat Wakil Asisten Operasi Komandan Kopassus sejak 2 Juni 1993 dan Komandan Grup A Pasukan Pengaman Presiden.
Awal Maret 1995, Sjafrie menjabat sebagai Komandan Korem (Danrem) 061 Suryakencana Bogor. Kurang dari satu tahun kemudian, 1 Februari 1996, Sjafrie menjadi Kepala Staf Garnisun (Kasgar) I Ibu Kota dengan pangkat brigadir jenderal. Pada Agustus 1996, Sjafrie menjabat sebagai Kepala Staf Kodam Jaya. Saat itu, ia menggantikan posisi Mayjen Susilo Bambang Yudoyono.
Satu tahun kemudian, Sjafrie diangkat menjadi Panglima Kodam Jaya pada tahun 1997. Ia menggantikan posisi Mayjen TNI Sutiyoso setelah terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sjafrie juga pernah menjabat sebagai Koordinator Staf Ahli (Korsahli) TNI pada tahun 2001. Setelah itu, ia diangkat menjadi Kepala Pusat Penerangan (Puspen) TNI, menggantikan Marsekal Muda Graito Usodo pada tahun 2002.
Pada 2005, Sjafrie diangkat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan. Namun, unjuk rasa puluhan korban pelanggaran hak asasi manusia mewarnai pelantikan Sjaffrie. Mereka mempersoalkan diangkatnya Sjafrie yang diduga terkait dalam kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, seperti diberitakan Harian Kompas, 16 April 2005.
Pada 2010, Sjafrie dipercaya menduduki jabatan Wakil Menteri Pertahanan, mendampingi Purnomo Yusgiantoro yang menjadi Menhan saat itu. Lalu, ia menjadi wakil ketua Indonesian Asian Games Organizing Committee/Inasgoc pada 2018. Lalu pada 2019, Sjafrie ditunjuk Prabowo, yang saat itu menjabat Menhan, menjadi penasihat khususnya. Kini, Sjafrie bertugas sebagai Menhan di Kabinet Merah-Putih yang dipimpin Prabowo-Gibran. Sjafrie pun mendapat Jenderal Kehormatan Bintang 4.












