Ketegangan geopolitik global kembali memunculkan pertanyaan besar, apakah dunia sedang bergerak menuju Perang Dunia III?
Sejumlah media internasional menilai, eskalasi konflik yang terjadi serentak di benua Merah, Timur Tengah, Eropa Timur, Asia Timur, dan Semenanjung Korea membuat risiko perang global terasa semakin nyata.
Majalah The New Yorker menyebut tatanan internasional terguncang oleh kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai mengedepankan “narcissistic unilateralism”.
Pendekatan sepihak tersebut, mulai dari tekanan terhadap Venezuela hingga sikap agresif di Timur Tengah dan Eropa, disebut meningkatkan risiko konflik global serta memberi preseden berbahaya bagi kekuatan ekspansionis lain seperti China dan Rusia.
Sementara itu, The Telegraph menulis bahwa dari Taiwan hingga negara-negara Baltik, “prospek Perang Dunia III terasa semakin dekat”, kecuali bagi mereka yang meyakini perang tersebut “bahkan sudah dimulai”.
Timur Tengah: Iran, AS, dan Israel di ambang eskalasi
Ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu titik paling rawan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak mencari perang, namun siap sepenuhnya jika konflik pecah.
Pernyataan ini disampaikan di Teheran menyusul ancaman baru Presiden Trump terkait kemungkinan intervensi militer AS di Iran.
Menurut Counter Currents, eskalasi saat ini terasa “bukan lagi kecelakaan, melainkan sebuah arah”.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf bahkan memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas dengan serangan terhadap Israel serta pangkalan dan kapal militer AS di kawasan.
The Telegraph melaporkan militer Israel berada dalam status siaga tinggi.
Israel Defense Forces disebut siap mendukung serangan udara AS, meski tanpa keterlibatan langsung sekalipun Iran diyakini tetap akan meluncurkan rudal ke wilayah Israel.
Peneliti Centre for Existential Risk Universitas Cambridge, Paul Ingram, mengatakan kepada The i Paper bahwa klaim Trump soal lumpuhnya program nuklir Iran tidak sepenuhnya benar.
Pentagon disebut telah membantahnya, sementara Iran masih menyimpan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya tinggi, sehingga risiko tetap “sangat berbahaya”.
Rusia dan NATO: ancaman perang di Eropa
Di Eropa, kekhawatiran juga meningkat. Analis Wolfgang Munchau menulis di UnHerd bahwa berbeda dengan era Perang Dingin, kini terdapat “kesiapan retorika untuk konflik bersenjata dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya”.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menegaskan Barat harus siap menghadapi perang sebesar yang dialami generasi kakek-nenek mereka.
Ancaman serupa disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara Inggris, Sir Richard Knighton, yang dikutip The Independent, menyebut situasi saat ini lebih berbahaya dibanding sepanjang karier militernya.
Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan memperingatkan kemungkinan konflik langsung dengan Eropa.
The Independent menyebut Rusia telah menguji pertahanan NATO melalui pelanggaran wilayah udara di Estonia, Polandia, dan Rumania.
Ketegangan meningkat setelah Estonia, Latvia, Lituania, Polandia, dan Finlandia menarik diri dari perjanjian larangan ranjau darat.
The Economic Times melaporkan Rusia juga meningkatkan produksi misil hipersonik dengan jangkauan hingga 5.500 kilometer, mampu menjangkau hampir seluruh Eropa.
Uji coba misil nuklir Burevestnik, yang dijuluki “Flying Chernobyl”, disebut The Mirror sebagai peringatan mengerikan terkait potensi Perang Dunia III.
China dan Taiwan: sumbu konflik Asia Timur
Ketegangan China–AS juga terus meningkat dengan Taiwan sebagai pusatnya.
BBC melaporkan latihan tembak langsung Tentara Pembebasan Rakyat China atau People’s Liberation Army di Selat Taiwan dinilai sebagai simulasi blokade nyata.
Menurut The Guardian, China juga mengembangkan kapal pendarat amfibi, melakukan latihan militer di sekitar Australia dan Vietnam, serta memperkenalkan pemotong kabel bawah laut yang berpotensi melumpuhkan jaringan internet negara lain.
Media Defense News dan Time mencatat tahun 2027 kerap disebut sebagai momen krusial karena bertepatan dengan 100 tahun berdirinya PLA.
Namun The Independent menilai China bisa saja memanfaatkan perhatian AS yang terpecah untuk mengambil langkah cepat terhadap Taiwan.
Korea Utara: front baru konflik global?
Dari Semenanjung Korea, CNN melaporkan Korea Utara meluncurkan beberapa rudal balistik setelah Kim Jong Un memerintahkan peningkatan besar-besaran produksi senjata.
Menurut Associated Press, Pyongyang kini menjauh dari gagasan reunifikasi damai dengan Korea Selatan.
Hubungan militer dengan Rusia pun semakin erat, dengan pengiriman pasukan dan senjata ke Ukraina, sebagaimana dilaporkan The Independent.
Analis Michael Clarke mengatakan kepada Sky News bahwa uji coba kapal perusak kelas Choe Hyon menunjukkan ambisi militer Korea Utara yang terus meningkat.
Berbagai laporan media internasional bagaimanapun telah menggambarkan dunia berada dalam fase paling berisiko sejak Perang Dingin.
Meski belum ada tanda Perang Dunia III benar-benar dimulai, banyak analis, seperti dikutip The New Statesman, memperingatkan dunia bisa “tertidur” menuju konflik besar jika eskalasi tidak dikendalikan.
Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah Perang Dunia III akan terjadi, melainkan seberapa siap dunia menghadapi dampaknya jika diplomasi gagal menahan konflik yang saling terhubung ini.












