Tragedi Kematian Anak di NTT: Kegagalan Sistem dan Tantangan Psikologis yang Terabaikan
Tragedi kematian seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi peringatan keras tentang betapa rapuhnya sistem perlindungan anak di tengah jerat kemiskinan ekstrem. YBR (10 tahun), seorang bocah yang akhirnya memilih mengakhiri hidupnya karena kesulitan membeli buku dan pena, tidak hanya menjadi kisah duka pribadi, tetapi juga cermin kegagalan kolektif yang harus dihadapi secara serius oleh negara.
Menurut Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel, kasus ini tidak bisa dipahami secara sederhana hanya sebagai masalah ketidakmampuan membeli alat tulis. Justru di balik fenomena tersebut tersembunyi lapisan masalah psikologis dan sosial yang jauh lebih kompleks. Reza menjelaskan bahwa kesulitan anak-anak dalam memenuhi kebutuhan sekolah bukanlah hal baru di Indonesia. Kondisi serupa kerap ditemui di berbagai daerah, terutama di wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi.
Namun, apa yang membuat tragedi ini menjadi sangat mengejutkan adalah fakta bahwa banyak anak menghadapi situasi yang jauh lebih berat, seperti tidak dapat mengakses pendidikan, mengalami kekurangan gizi, bahkan hidup dalam kondisi kelaparan, namun tetap bertahan hidup tanpa melakukan tindakan ekstrem.
“Kalau mau buka mata, anak-anak yang kesulitan membeli alat tulis itu fenomena ‘biasa’. Lebih parah, banyak yang bahkan tidak bisa sekolah. Lebih parah lagi, banyak yang tidak bisa makan. Tapi mereka tidak bunuh diri,” ujar Reza dalam pernyataannya.
Akumulasi Penderitaan Tanpa Penanganan yang Memadai
Reza menilai bahwa masalah utama bukan semata soal alat tulis atau kebutuhan sekolah, melainkan akumulasi penderitaan psikologis yang terus menumpuk tanpa penanganan memadai. Ia menyoroti bahwa negara dan masyarakat sering kali luput membaca tanda-tanda awal penderitaan anak. Akibatnya, publik cenderung menjadi “mati rasa” terhadap derita yang belum terlihat ekstrem, hingga akhirnya tragedi baru disadari ketika semuanya sudah terlambat.
“Kita hanya terperanjat ketika merespons kesengsaraan terekstrim. Padahal, warga dengan tingkat kesedihan di bawah itu jumlahnya amat sangat banyak, dan nyaris tidak pernah diperhatikan,” kata Reza.
Kontras dengan Klaim Presiden
Peristiwa ini juga menjadi kontras dengan klaim Presiden Prabowo Subianto yang menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya paling bahagia sedunia. Menurut Reza, klaim tersebut menjadi kontras ketika berhadapan dengan realitas kemiskinan ekstrem yang dialami sebagian anak-anak.
“Kesedihan (ketidakgembiraan) harus dilihat sebagai spektrum. Bukan biner atau hitam putih. Jadi, ada skala mulai dari yang agak sedih sampai yang paling sedih. Pada tingkatan kesedihan terparah, terjadilah keputusasaan yang hanya bisa ‘diobati’ pelaku dengan mengakhiri hidupnya sendiri,” kata dia.
Dua Kemungkinan dalam Menganalisis Tragedi
Dalam analisisnya, Reza memaparkan dua kemungkinan besar untuk membaca tragedi bocah NTT tersebut:
-
Pertama, bunuh diri sebagai ujung dari penderitaan kronis yang terus bereskalasi. Jika ini yang terjadi, maka seharusnya tanda-tanda perubahan perilaku anak bisa dideteksi lebih dini, karena pusat masalahnya berada pada aspek afeksi.
-
Kedua, bunuh diri sebagai bentuk depresi reaktif, yakni keputusan ekstrem yang muncul secara mendadak akibat keterbatasan kemampuan kognitif anak dalam menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya. Dalam konteks ini, persoalannya mungkin tidak terlalu berat, namun wawasan anak tentang jalan keluar sangat terbatas.
Kecemasan dan Rasa Empati
“Apa pun simpulannya, betapa pilunya kita menangkap warna altruistis dari peristiwa ini. Anak itu mengakhiri hidupnya untuk mengurangi beban orang-orang yang ia sayangi,” kata Reza.
Ia pun mengaitkan tragedi tersebut dengan lirik lagu Iwan Fals berjudul “Sore Tugu Pancoran”. Lagu itu menggambarkan anak-anak yang dipaksa bergulat dengan beban hidup sebelum waktunya.
Begini liriknya: “Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu. Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu. Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal.”
Peringatan bagi Negara
Bagi Reza, tragedi di NTT seharusnya menjadi cermin bagi negara untuk kembali melihat realitas kemiskinan anak secara jujur, menyeluruh, dan berempati, bukan sekadar melalui angka dan slogan. Ia menilai bahwa kontras dengan sosok semisal Fufufafa. Andai Fufufafa mau mengakui betapa beratnya beban yang terpaksa kita tanggung akibat keberadaannya, lalu dia pamit baik-baik, saya bakal cari lagu Iwan Fals yang lebih gembira.












