Bisnis  

Cinta pada Anjing Menggerakkan Bisnis di Bali

Kehidupan yang Berubah karena Anjing

Rina Rakhman sempat mengalami depresi selama empat tahun. Setiap hari, dia harus menelan tujuh pil yang diresepkan oleh psikiater untuk membantunya tetap tenang. Namun, segalanya berubah ketika dia memutuskan untuk memelihara anjing. Selain berhenti mengonsumsi obat penenang, perempuan berusia 43 tahun ini merasa hidupnya kini lebih bermakna.

“Anjing-anjing ini mengisi sesuatu yang saya tidak pernah tahu saya butuh. Ternyata saat menghadapi konflik, saya menyadari bahwa saya sangat kesepian. Mereka inilah yang mengisi dan menyembuhkan,” kata Rina.

Rina pindah dari Bandung ke Bali bersama suami dan dua anaknya. Di sana, dia memutuskan untuk memelihara anjing. Awalnya, ia memelihara anjing lokal Kintamani yang tidak bertuan. Kemudian, ia memutuskan untuk mengadopsi anjing berikutnya. Hingga saat ini, jumlah anjing peliharaannya mencapai enam ekor, mulai dari Golden Retriever hingga Rottweiler.

“Yang pasti, saya juga menjadi lebih bertanggung jawab. Dulu, ketika ada konflik, saya kabur. Sejak punya anjing, saya harus menahan diri demi merawat dan menjaga mereka,” ungkapnya kepada wartawan Christine Nababan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Lingkungan tempat tinggal Rina pun tidak keberatan dengan keberadaan anjing-anjingnya. “Jadi, semenyenangkan itu memelihara anjing. Sama tetangga pun aman dan sebagainya,” jelasnya.

Memelihara anjing hingga enam ekor tentu saja membutuhkan biaya. Rina rela merogoh kocek sedikitnya Rp15 juta setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan anjing-anjingnya, mulai dari makanan, obat kutu, obat cacing, hingga vitamin. Belum lagi, biaya tidak rutin lainnya seperti memanggil pelatih anjing, pengasuh yang menjaga anjing saat ia dan keluarganya keluar rumah, biaya memandikan anjing-anjingnya, hingga rekreasi ke taman bermain anjing.

Kecintaan terhadap anjing juga dirasakan Nanda Yuliana Putri. Warga Bali ini memelihara anjing pertama kali pada Juni 2020 lalu. Tak disangka-sangka, hubungan emosional dengan anjing pertamanya menguat. Nanda bahkan tidak keberatan menyisihkan Rp10 juta-Rp15 juta per bulan untuk menghidupi anjingnya. Padahal, penghasilannya tidak lebih dari Rp20 juta per bulan.

“Enggak ada yang mencintai dan membutuhkan aku seperti Yuppi, anjingku. Makanya, kalau aku makan enak, tapi anjing aku enggak makan layak, aku merasa bersalah. Jadi, kebutuhan Yuppi prioritasku,” tuturnya.

Bisnis Pet Shop Tumbuh Subur di Bali

Rina dan Nanda adalah contoh warga Bali yang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk anjing peliharaan mereka. Pawrent (istilah untuk pemilik anjing) seperti Rina dan Nanda membuat bisnis toko kebutuhan hewan peliharaan alias pet shop dan klinik dokter hewan tumbuh subur di Bali.

Saat ini, belum ada data resmi jumlah pet shop di Bali. Namun, berdasarkan pengamatan, pet shop di area Badung dan Denpasar dapat ditemui setiap dua kilometer. BorknChew, toko yang fokus menjajakan camilan bernutrisi untuk anjing, sedang mencicipi peruntungan dari ramainya bisnis pet shop di Bali.

“Komunitas pemilik anjing sangat suportif dan sadar kesehatan hewan peliharaan mereka. Mereka tidak mencari yang termurah, tetapi juga membaca label kemasan dan bertanya soal bahan yang digunakan,” terang Tasha, pendiri BorknChew.

Ini menjadi potensi besar bagi brand kami yang lahir dari konsep ‘affordable premium’ untuk menjembatani kesenjangan antara kualitas nutrisi hewan dan harga yang masuk akal,” tambahnya. Potensi itu rupanya terbukti. Setahun setelah berjualan secara daring pada pertengahan 2024 lalu, Tasha membuka gerai toko fisik pertamanya di area Badung, Bali.

Bisnis Taman Bermain Anjing

Bisnis keperluan anjing tak semata-mata soal makanan. Bernadeta Mela bisa membaca peluang itu. Dia dan temannya mendirikan usaha taman bermain anjing yang juga menyediakan layanan salon anjing, pelatihan anjing, penginapan anjing, kolam renang untuk anjing, hingga antar jemput anjing dan hewan kesayangan lainnya. Taman bermain seluas 1.800 meter persegi ini terletak di Kota Denpasar dan dinamai Paw Space.

Mela meyakini anjing yang sehat dan bahagia adalah anjing yang tidak hanya mendapatkan asupan bernutrisi, tetapi juga punya aktivitas, bermain, dan bersosialisasi. Selama dua tahun membuka usaha taman bermain anjing ini, menurutnya, makin banyak pemilik anjing yang peduli terhadap kebugaran dan kesehatan mental hewan-hewan peliharaan mereka.

Sehingga, kata Mela, mereka mulai rutin menjadwalkan membawa anjing-anjing mereka bermain di taman bermain miliknya. “Di Kota Denpasar, meskipun Paw Space menjadi kebutuhan tersier bagi hewan peliharaan, namun potensi pasarnya luar biasa. Mereka [pemilik anjing] sadar dengan kesejahteraan anjing-anjing mereka. Mereka mau anjing mereka bisa bermain, berenang, berlarian, bersosialisasi, dan lain sebagainya,” paparnya.

Anjing Liar dan Masalah Kesehatan

Ketika anjing-anjing peliharaan bisa hidup sejahtera, tidak begitu ceritanya dengan anjing-anjing liar di Bali. Hewan-hewan itu hidup berkeliaran di jalan, mencari makan dari belas kasih orang yang lalu lalang, menderita sakit penyakit, terancam diracun, hingga terancam tertular dan menularkan rabies.

Data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali menyebutkan, ada 12 kematian manusia akibat rabies hingga Oktober 2025. Angka ini meningkat dari tujuh kematian pada 2024 dan sembilan kematian pada 2023.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Nurul Hadiristiyantri, mengatakan populasi anjing di Bali mencapai 565.737 ekor, yang merupakan tertinggi se-Indonesia. Populasi besar ini pula yang menjadi penyebab kasus rabies di Bali masih terjadi sejak 2008 hingga saat ini.

“Rabies masih ada di Bali dengan sumber utamanya dari anjing, karena setiap rumah tangga di Bali tidak pernah terlepas dari anjing. Yang disayangkannya, tidak dipelihara dengan baik,” imbuh dia. Menurut Nurul, sebagian besar warga Bali memelihara anjing mereka dengan cara dilepasliarkan dan kemungkinan tidak divaksinasi. Akibatnya, anjing-anjing tersebut berpotensi terjangkit penyakit, terutama rabies.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *