Kisah Safitri: Kesulitan Menutup Bekas Jahitan Pasca-Lahiran Usai BPJS PBI Dinonaktifkan

Kehidupan Seorang Ibu yang Menghadapi Tantangan dalam Akses Layanan Kesehatan

Di sebuah gang sempit di kawasan Panunggangan, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Banten, kehidupan Safitri berjalan dengan penuh tantangan. Seorang ibu muda berusia 26 tahun, ia tinggal di kontrakan tiga petak yang sederhana. Setiap pagi, langkahnya terdengar pelan di teras rumahnya yang sempit. Wajahnya tampak polos tanpa riasan, dan rambutnya diikat seadanya.

Safitri adalah seorang ibu dari tiga anak, termasuk putrinya yang baru lahir pada 22 Januari 2026 lalu. Proses persalinannya dilakukan di Rumah Sakit Bakti Asih dengan bantuan BPJS PBI, program jaminan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Ia tidak perlu membayar sepeser pun selama proses persalinan. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama.

Beberapa hari setelah melahirkan, Safitri mencoba untuk kontrol ke dokter agar bekas jahitan bisa ditutup. Saat itu, ia menemukan bahwa kartu BPJS PBI miliknya telah dinonaktifkan. Pengecekan lewat aplikasi Mobile JKN dan secara manual di rumah sakit mengonfirmasi hal tersebut. Kekecewaan mulai menghiasi wajahnya.

Perjalanan Panjang untuk Mendapatkan Layanan Kesehatan

Ia memutuskan untuk melakukan pengecekan lebih lanjut di Puskesmas Panunggangan. Meski harus menunggu selama satu jam, Safitri akhirnya mendapat jawaban yang sama. Petugas puskesmas menyuruhnya ke kantor Kecamatan Panunggangan untuk memastikan status kepesertaannya. Setelah menunggu selama 30 menit, Safitri kembali diberi informasi bahwa ia harus mengunjungi Kantor Dinas Sosial Kota Tangerang.

Perjalanan ke tempat ketiga ini sangat melelahkan baginya. Ia merasa tidak sanggup lagi menjalani prosedur yang begitu rumit. Akhirnya, Safitri memutuskan untuk mengajukan perpindahan layanan dari BPJS PBI menjadi Mandiri untuk Kelas 3.

Pertimbangan Finansial yang Berat

Dalam benaknya, Safitri memperhitungkan biaya tambahan untuk iuran BPJS Kelas 3 sebesar Rp 50.000. Penghasilan Zulmar, suaminya yang bekerja sebagai tukang potong ayam, hanya sebesar Rp 200.000 dalam sehari. Perhitungan ini membuatnya merasa berat.

“Sebenarnya berat banget pertimbangan kemarin itu, kalau pakai BPJS mandiri berarti harus ada Rp 175.000 hanya bayar iuran bulanan satu keluarga,” ujarnya dengan nada bicara bergetar.

Akhirnya, Safitri memutuskan untuk mengurangi pengeluaran lain, seperti uang jajan anak dan belanja perabotan rumah tangga, agar bisa menutupi iuran BPJS Kesehatan ini meskipun dalam hati berat melakukannya.

Tantangan yang Terus Berlanjut

Meskipun menghadapi banyak tantangan, Safitri tetap berusaha untuk tetap kuat. Ia tak pernah mengeluh, meskipun matanya nampak berkaca-kaca saat berbicara tentang layanan BPJS yang tiba-tiba dinonaktifkan. Ia hanya berharap bisa segera pulih dan memberikan yang terbaik bagi keluarganya.

Kehidupan Safitri adalah cerminan dari banyak orang yang menghadapi kesulitan dalam akses layanan kesehatan. Meskipun begitu, ia tetap berjuang dengan semangat yang tak pernah padam.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *