100 Orang dengan Alat Listrik Jaga Perusahaan Penipuan Kamboja

Deskripsi Lokasi Perusahaan Penipuan di Kamboja

Di kawasan yang luas sekitar 1,2 hektare, terdapat 20 gedung yang menjulang tinggi dan dikelilingi pagar setinggi lima meter. Sebanyak 70 hingga 100 penjaga berjaga di lokasi tersebut untuk memastikan keamanan. Andri Budi Sanjaya, warga Jambi yang pernah menjadi korban penipuan berkedok lowongan kerja di Kamboja, memberikan gambaran tentang lokasi tempat ia bekerja.

“Di Indonesia, mungkin mirip dengan ruko-ruko empat lantai,” katanya, Sabtu (21/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa pengawasan di kawasan ini sangat ketat. Para petugas dilengkapi alat setrum, sehingga peluang melarikan diri nyaris tidak ada. “Di sini dijaga. Bayangkan, di lokasi itu ada 20 gedung, tembok pagarnya itu lima meter, yang jaga sampai 100 orang. Pakai setrum semua. Mau lari ke mana, coba? Mau mati yang ada,” ujarnya.

Menurut Andri, KBRI hanya bisa dijadikan tempat pelarian, bukan untuk melapor. Ia menyebut risiko sangat besar jika seseorang mencoba melaporkan masalah atau melarikan diri. “Dua orang ditembak mati depan aku,” tambahnya. Ia mengkhawatirkan nasib para korban yang gagal melarikan diri. “Kalau selamat syukur, kalau gak selamat, gimana? Tinggal nama, mayat dibuang, selesailah.”

Kecurangan dan Kekekerasan di Tempat Kerja

Andri juga menceritakan informasi tentang seorang WNI yang terjatuh dari lantai 18 Gedung Judol Royal Fortune di Kamboja pada Selasa (17/2). Korban bernama Muhammad Erlangga asal Palembang direkrut oleh agen dari Medan. Informasi ini didapatkannya dari sesama korban penipuan lowongan kerja.

Menurutnya, kejadian jatuh dari gedung sering terjadi akibat tekanan pekerjaan, bunuh diri, atau tindakan kekerasan dari pihak perusahaan. Ia juga menyebut adanya dugaan kekerasan seksual terhadap pekerja perempuan yang tidak mampu mencapai target. “Banyak dari rekan-rekan di sini yang menceritakan seperti itu, orang Indonesia yang bunuh diri, terjun dari lantai atas banyak, ada juga yang sebagian memang dibunuh oleh pihak perusahaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyak orang Indonesia dilempar dari lantai 18 dan beberapa di antaranya ditembak. “Di situ sudah, hilang saja jasadnya, dibuang ke Sungai Mekong.” Sungai Mekong adalah sungai besar yang mengalir melintasi enam negara, yakni Tiongkok, Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, dan Vietnam.

Pemulangan WNI dan Kondisi di Penampungan

Hingga kini, Andri belum memperoleh kabar mengenai Audy Lyliana Putri, korban asal Jambi lainnya. Ia juga belum mengetahui kepastian jadwal pemulangan WNI yang masih berada di penampungan menuju Indonesia.

Pemerintah Provinsi Jambi masih menunggu perkembangan informasi dari KBRI Kamboja terkait sembilan warga Jambi yang tertahan di negara tersebut. Wakil Gubernur Jambi telah mengirimkan surat kepada pihak KBRI. “Kemarin sudah menyurati Kedubes (KBRI Kamboja), kita mesti menunggu perkembangannya seperti apa,” ujar Akhmad Bestari, Kepala Disnakertrans Provinsi Jambi, Minggu (22/2/2026).

Surat tersebut berisi permohonan agar pemerintah daerah difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri dalam proses koordinasi. Namun hingga kini belum ada balasan resmi. “Jadi intinya kan surat itu kan kita minta difasilitasi oleh Kementrian Luar Negeri koordinasinya seperti apa,” jelasnya.

Kondisi Saat Ini di Penampungan

Andri menceritakan kondisi terkini di penampungan pada Ahad (22/2). Seorang temannya asal Medan bernama Ilham dilaporkan menderita TBC dan tidak mampu beraktivitas. Ia bersama korban lainnya membantu merawat Ilham, mulai dari memandikan hingga menyuapinya makan. Namun, Ilham sempat mengalami kejang setelah dimandikan pada Sabtu (21/2). “Abis dimandikan, kejang-kejang. Tiket terbangnya (Ilham) tanggal 24,” tuturnya.

Saat ini, Ilham telah dievakuasi ke rumah sakit menggunakan ambulans. “Evakuasi yang sakit TBC, dibawa ke rumah sakit,” pungkasnya.

Cerita Duka dan Harapan

Selain itu, Andri juga mengungkap kisah korban lain asal Medan bernama Hendri. Menurut pengakuan Hendri, ia justru dijual ke Kamboja oleh adik kandungnya sendiri yang kini menjadi pimpinan di perusahaan scam. “Teman saya yang dari Medan itu dia cerita, adik kandungnya sama ponakannya sendiri yang jual dia ke Kamboja ini. Adik kandungnya masih di Kamboja, jadi leader perusahaan scam, ngilu saya dengar dia cerita malam tadi,” ucapnya.

Pada bulan Ramadan, Andri turut membagikan suasana para WNI yang menjalankan salat tarawih pada Jumat (20/2) serta momen sahur di penampungan. Dalam video yang ia bagikan, para korban tampak duduk melingkar menyantap makanan sahur, disertai lantunan azan. “Kami sahur dengan uang sumbangan dan donasi yang dikumpulkan. Ada dari KBRI, ada dari pemerintah juga, ada dari teman-teman di sini,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *