5 Fakta Mengejutkan Kasus Adik Bunuh Kakak di Kelapa Gading

Kasus Pembunuhan Adik terhadap Kakak di Kelapa Gading: Fakta dan Peristiwa yang Menggemparkan

Kasus pembunuhan yang melibatkan seorang adik terhadap kakaknya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, telah menjadi perhatian masyarakat luas. Ammar Aldevaro (21), seorang mahasiswa aktif di Universitas Al-Azhar, tewas setelah dipukul lima kali menggunakan palu oleh adik kandungnya, MAL (15), pada Selasa (24/2/2026) petang.

Peristiwa ini terjadi dalam suasana keluarga yang penuh dengan konflik dan ketegangan. Berikut adalah beberapa fakta penting terkait kasus tersebut:

Kejadian Awal dan Penanganan Medis

Menurut saksi mata bernama Rizky Tri Mulyanto, kejadian berawal dari teriakan meminta tolong dari rumah korban. Ibu korban keluar rumah dan meminta bantuan warga sekitar. Saat itu, Rizky melihat korban sudah tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir deras.

Warga segera membawa korban ke Rumah Sakit Gading Pluit untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawa korban tidak dapat diselamatkan. Korban meninggal dunia sekitar pukul 18.00 WIB.

Profil Korban

Ammar Aldevaro dikenal sebagai sosok yang aktif di berbagai organisasi. Ia menjabat sebagai Ketua Umum HIPMI PT Universitas Al-Azhar periode 2025-2026. Selain itu, ia juga aktif dalam Partai Golkar. Saat kejadian, korban sedang menjalani semester delapan dan tengah mengerjakan skripsi. Diperkirakan, ia akan lulus kuliah pada tahun ini.

Motif Pelaku

Motif pelaku, MAL, diketahui terkait kesalahan dimintai uang kuliah oleh korban. Menurut Kompol Ni Luh Sri Arsini dari Satuan Reserse Perlindungan Perempuan Anak (PPA)-Penyakit Potensial Operasi (PPO) Polres Metro Jakarta Utara, pelaku merasa kesal karena korban sering meminta uang dalam jumlah besar.

Selain itu, ada faktor lain yang turut memengaruhi emosi pelaku. Sang ibu lebih fokus mengurus anak keduanya, A, yang memiliki riwayat penyakit lambung akut. Sementara itu, korban mengambil kuliah di tiga tempat sekaligus, sehingga memerlukan biaya yang cukup besar.

Kondisi Keluarga dan Emosi Pelaku

Ibu korban, Nurul Arifah, menjelaskan bahwa keluarga sedang menghadapi masalah sejak berpisah dengan ayah anak-anaknya sekitar setahun lalu. Ayah mereka memblokir akses komunikasi dengan anak-anak dan dirinya. Hal ini menyebabkan MAL merasa kehilangan figur ayah dan emosinya mudah terpancing.

Nurul menambahkan bahwa sejak kejadian tersebut, MAL sering melampiaskan emosi saat ada masalah kecil di rumah. Pada hari kejadian, situasi berlangsung sangat cepat hingga ia tidak sempat melerai. MAL mengaku khilaf dan tidak sadar atas perbuatannya.

Penyangkalan Tudingan Pilih Kasih

Menanggapi tudingan pilih kasih, Nurul menegaskan bahwa ia memberikan perhatian yang sama kepada kedua anaknya. Ia menjelaskan bahwa MAL memiliki riwayat asam lambung dan infeksi H. pylori, sehingga harus menjalani pengobatan rutin. Oleh karena itu, ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama MAL.

Sementara itu, MAR (nama panggilan korban) yang sedang kuliah membutuhkan biaya pendidikan dan transportasi yang lebih besar. Meski demikian, Nurul mengklaim bahwa ia telah menyiapkan tabungan khusus untuk MAL. Ia menegaskan bahwa kedua anaknya diperlakukan secara adil dan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *