Daerah  

Pasca Serangan Warga, Layanan Lurah Muara Beliti Dialihkan ke Kantor Camat

Kondisi Kantor Lurah Pasar Muara Beliti Masih Berantakan

Kondisi Kantor Lurah Pasar Muara Beliti, Musi Rawas masih berantakan pasca-aksi perusakan yang dilakukan oleh warga. Saat ini, pelayanan di kantor tersebut dialihkan ke gedung kecamatan karena kantor lurah masih dipasangi garis polisi (police line).

Pantauan wartawan Sripoku.com pada Jumat (27/2/2026), terlihat pecahan kaca masih berserakan. Sementara itu, aktivitas perkantoran tidak terlihat sama sekali. Camat Muara Beliti, Supriadi, mengatakan bahwa terkait dengan operasional Kantor Lurah Pasar Muara Beliti, saat ini masih menunggu petunjuk dari Pemerintah Kabupaten.

“Kami sudah laporkan ke Sekda, Asisten I Setda Musi Rawas, Tata Pemerintahan (Tapem), dan juga BKPSDM,” kata Camat.

Hanya saja, lanjut Camat, karena melihat adanya garis polisi di kantor lurah, maka jika ada masyarakat yang memang sangat mendesak membutuhkan pelayanan, akan tetap dilayani.

“Jika ada masyarakat yang mendesak butuh pelayanan, tetap dilayani. Nanti bisa pinjam tempat di kantor camat,” ucap Camat.

Terlepas dari itu, Camat juga sangat menyayangkan adanya aksi yang berujung pada perusakan kantor lurah ini.

“Sangat disayangkan, kenapa harus demo-demo. Selama ini kita sudah melakukan pendekatan secara maksimal. Kalau ada masalah, kan bisa diselesaikan baik-baik,” ungkap Camat.

Terkait dengan tuntutan dari warga, maka tetap akan diupayakan untuk mencari jalan yang terbaik. Kemudian, soal pemecatan 12 ketua RT di lingkungan Lurah Pasar Muara Beliti, Camat mengaku memang sebenarnya mereka sudah habis masa jabatan.

Bahkan, beberapa RT sudah pernah mengajukan untuk melakukan pemilihan RT. Hanya saja, saat ini menjelang Pilkada, sehingga Pemerintah Kabupaten Musi Rawas menyarankan ditunda dulu.

“Kemudian terkait dengan adanya SK Plt. Ketua RT, kami tidak dilibatkan. Tahu-tahu siang kami dapat surat pemberitahuan,” tutup Camat.

Dilempari Batu

Diberitakan sebelumnya, Koordinator Aksi yang juga warga setempat, Tommy, menegaskan bahwa hanya ada satu tuntutan warga, yakni nonaktifkan atau ganti Lurah Pasar Muara Beliti. Sebab menurutnya, kinerja dan kewenangan Lurah Pasar Muara Beliti dianggap warga sudah melampaui batas dan menyalahi aturan, sehingga memancing emosi warga.

“Kami sudah berulang-ulang menyampaikan agar Pemkab Musi Rawas segera mencopot Lurah Pasar Muara Beliti, namun sampai hari ini tuntutan kami tidak digubris,” kata Tommy kepada awak media, Kamis (26/2/2026).

Hari ini, lanjut Tommy, merupakan puncak kekesalan maupun kekecewaan warga hingga akhirnya warga pun lepas kontrol dan melakukan perusakan terhadap kantor lurah.

“Saya sudah berulang kali menyampaikan jangan memancing suasana yang lagi panas ini, mengingat ini bulan suci Ramadan. Tapi mau apa dikata, masyarakat merasa tidak puas dengan aksi hari ini karena tidak ada solusi,” ungkapnya.

Dikatakan Tommy bahwa permintaan warga tersebut sudah disampaikan sebanyak lima kali melalui aksi unjuk rasa, namun tidak pernah dikabulkan oleh pihak Pemerintah Kabupaten Musi Rawas.

“Jadi, hal ini memancing emosi teman-teman hingga akhirnya terjadi peristiwa ini,” tegasnya.

Tommy juga mengaku, saat melakukan aksi dari Jilid 1 hingga Jilid 4, hanya ditanggapi oleh Pemkab Musi Rawas dengan audiensi dan langsung dipimpin oleh Sekda Musi Rawas. Namun, dari pertemuan itu, warga hanya mendapatkan janji-janji palsu.

Mewakili masyarakat, dia berharap agar secepat mungkin Lurah Pasar Muara Beliti segera dinonaktifkan sebab keberadaannya selalu memancing polemik.

Diceritakan Tommy, kekesalan warga bermula dari anggaran DAU (Dana Alokasi Umum) Kelurahan Pasar Muara Beliti yang tidak transparan, sehingga dana tersebut tidak terserap dengan baik.

“Banyak RT yang tidak dilibatkan dalam penggunaan dana itu, sampai akhirnya para RT ini dipecat sepihak oleh Lurah,” katanya.

“Dari 13 RT di Kelurahan Pasar Muara Beliti, 12 RT yang dipecat. Kemudian, Lurah menunjuk Pelaksana tugas (Plt.) RT. Penunjukan itu tanpa melalui musyawarah dan tanpa alasan yang jelas,” ucapnya.

Tommy juga menegaskan, jika tuntutan tersebut tidak juga diindahkan oleh Pemkab Musi Rawas, maka masyarakat akan terus melakukan upaya-upaya dengan gelombang yang lebih besar agar apa yang menjadi tuntutan warga dipenuhi.

Sementara itu, usai menggeruduk kantor lurah, massa yang berhasil ditenangkan oleh pihak kepolisian langsung membubarkan diri.

Exit mobile version