Mantan Presiden Iran Ahmadinejad Tewas dalam Serangan AS, Tokoh Legendaris

Kabar Mengejutkan dari Timur Tengah

Presiden ke-6 Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan tewas dalam serangan rudal Israel yang menargetkan ibu kota Iran, Teheran, pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut mengguncang Teheran dan memicu duka mendalam di berbagai kalangan, mengingat sosok Ahmadinejad merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan politik Iran modern. Kepergian Ahmadinejad dalam insiden serangan rudal ini pun menjadi babak baru dalam dinamika politik kawasan, sekaligus menandai berakhirnya perjalanan hidup salah satu tokoh paling kontroversial sekaligus berpengaruh dalam sejarah Republik Islam Iran.

Profil Ahmadinejad

Mahmoud Ahmadinejad lahir dengan nama Mahmoud Saborjhian pada 28 Oktober 1956 di desa Aradan, dekat Garmsar, Iran. Dia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Ahmad Saborjhian, adalah seorang pandai besi. Saat keluarganya pindah dari Aradan ke Teheran pada 1957, Ahmad mengganti nama keluarganya menjadi Ahmadinejad. Ahmadinejad menghabiskan masa kecil dan remajanya di Teheran, kemudian melanjutkan pendidikan tingginya mempelajari teknik sipil di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) pada 1976.

Sebagai mahasiswa, Ahmadinejad termasuk pemuda yang aktif berorganisasi. Dia bahkan menjadi salah satu penggerak aksi demonstrasi selama berlangsungnya Revolusi Iran pada 1978-1979. Ahmadinejad juga bergabung dengan kelompok milisi bentukan Ayatollah Ruhollah Khomeini, Korps Garda Revolusi Islam Iran. Dia bahkan turut dalam Perang Irak Iran (1980-1988).

Setelah menyelesaikan masa tugasnya di kelompok milisi, pada 1986, Ahmadinejad melanjutkan pendidikan di IUST dan meraih gelar doktor untuk teknik dan perencanaan transportasi. Pada 1989, dia bergabung dengan IUST dan menjadi salah satu pengajar di kampus tersebut.

Terjun ke Politik

Ahmadinejad mulai mengabdi di pemerintahan setelah dia ditunjuk sebagai gubernur di kota Maku dan Khoy, di Provinsi Azerbaijan Barat. Pada 1993, dia dipercaya menjadi penasihat di kementerian kebudayaan dan pendidikan tinggi. Ahmadinejad kemudian ditunjuk menjadi gubernur untuk Provinsi Ardabil, yang baru dibentuk. Dia menjabat hingga 1997 dan setelahnya kembali menjadi pengajar di IUST.

Ahmadinejad membantu berdirinya partai Pengembang Islam Iran yang mengedepankan agenda populis dan ingin menyatukan faksi konservatif. Partai itu memenangkan pemilihan dewan kota di Teheran pada Februari 2003. Selanjutnya pada bulan Mei, dewan kota menunjuk Ahmadinejad untuk melayani sebagai wali kota. Selama menjabat sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad dipuji karena dianggap telah berhasil mengatasi masalah lalu lintas dan menekan harga.

Menjadi Presiden Iran

Pada 2005, Ahmadinejad mencalonkan diri dalam pemilihan presiden dengan dukungan penuh dari para pemimpin konservatif. Dia melakukan pendekatan yang merakyat dan berjanji mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan sosial di Iran, serta memberantas korupsi. Ahmadinejad juga menjadi satu-satunya kandidat presiden yang secara terang-terangan menentang peningkatan hubungan Iran dengan Amerika Serikat.

Ahmadinejad akhirnya memenangkan pemilihan dengan hasil telak dan meraih 17 juta suara dari total 27 juta suara. Dia dilantik menjadi presiden pada 3 Agustus 2005 oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai presiden, Ahmadinejad tetap menampilkan dirinya sebagai presiden yang merakyat. Dia ingin terus tinggal di rumahnya sendiri daripada di istana kepresidenan, hingga akhirnya baru bersedia pindah setelah dibujuk oleh para penasihat keamanan.

Kembangkan Nuklir

Pada pidatonya di hadapan PBB pada 2005, Ahmadinejad menyatakan keinginan Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir yang diklaimnya bertujuan damai. Pada April 2007, Ahmadinejad mengumumkan bahwa Iran telah memulai untuk produksi bahan bakar nuklir dalam skala industri, yang berujung pada dijatuhkannya sanksi internasional. Bulan Maret 2008, Ahmadinejad menjadi presiden pertama Iran yang mengunjungi Irak sejak terjadinya Revolusi Iran.

Akhir Masa Jabatan

Pada 2011, terjadi konfrontasi antara Ahmadinejad dengan Khamenei, yang diduga dipicu pemecatan menteri intelijen yang merupakan sekutu Khamenei. Konflik tersebut berkembang menjadi perebutan dukungan publik antara Ahmadinejad dengan Khamenei. Pada Maret 2012, dia dipanggil Badan Legislatif Iran yang mempertanyakan kebijakan dan perselisihannya dengan pemimpin tertinggi.

Menurunnya dukungan terhadap Ahmadinejad juga terjadi dalam pemilihan legislatif hingga akhirnya masa jabatannya usai pada Agustus 2013 dan dia digantikan oleh Hassan Rouhani. Setelah tak lagi menjabat sebagai presiden, Ahmadinejad kembali menempati rumah pribadinya di Narmak. Pada 2017, Ahmadinejad sempat dikabarkan akan kembali maju dalam pemilihan presiden Iran, namun kemudian didiskualifikasi.

Tewas Bersama Pengawal

Media Iran melaporkan Ahmadinejad tewas dalam serangan udara gabungan Israel–AS pada Sabtu (28/2/2026) malam. Kantor berita ILNA menyebutkan serangan tersebut menghantam kediamannya di kawasan Narmak, timur laut Teheran. Media pro-pemerintah Iran mengklaim Ahmadinejad (69) meninggal dunia bersama para pengawalnya. Laporan internasional yang dikutip dari media Israel menyebutkan serangan di kawasan tersebut kemungkinan terjadi pada Sabtu malam, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel.

Kantor berita keamanan Mashreq News melaporkan, pengawal Mahmoud Ahmadinejad yang tewas adalah Mehdi Mokhtari, Mostafa Azizi, dan Hassan Masjedi. “Mereka tewas dalam serangan yang menargetkan kantor mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad di Teheran timur,” kata laporan itu. Laporan sebelumnya menyebutkan sebuah rudal jatuh di daerah Narmak di sebelah timur Teheran, dekat kediaman Ahmadinejad, dengan video yang beredar menunjukkan kerusakan di lokasi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *