Wawancara Khusus Tiyo, Ketua BEM UGM: Negeri Ini Sedang Sakit

Kritik Terhadap Program Pemerintah dan Krisis Politik di Indonesia

Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh seorang aktivis muda yang berani menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Anak muda tersebut adalah Tiyo Ardianto, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada. Ia tidak ragu mengkritik program pemerintah yang disebutnya sebagai “Maling Berkedok Gizi” (MBG), sebuah program yang menurutnya justru merupakan bentuk korupsi yang merugikan rakyat.

Dalam wawancara dengan Pemimpin Redaksi Tribun Jateng Ibnu Taufik Juwariyanto di Omah Dongeng Marwah di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus pada Kamis (26/2/2026), Tiyo menyampaikan pandangan tajamnya tentang kondisi politik dan ekonomi di Indonesia. Ia menilai bahwa republik ini sedang sakit, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental. Menurutnya, kritik dari aktivis akademisi seperti dirinya adalah upaya untuk memberikan obat bagi penyakit negara ini, meski sayangnya mereka justru dihukum atau diancam.

Rakyat yang Sabar Tapi Tidak Diperhatikan

Tiyo menyatakan bahwa masyarakat Indonesia terlalu sabar dalam menghadapi ketidakadilan dan korupsi. Ia menegaskan bahwa ketangguhan rakyat bisa menjadi kekuatan, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh kekuasaan untuk memperpanjang kesabaran rakyat. Ia mencontohkan bagaimana Prabowo Subianto, Presiden saat ini, menggunakan citra simbolik untuk menciptakan kesan bahwa ia melawan antek-antek asing, padahal di sisi lain, ia bekerja sama dengan tokoh-tokoh fasis dunia seperti Trump dan Netanyahu.

Menurut Tiyo, kekuasaan bekerja dengan cara mempermainkan kesabaran rakyat, membuat mereka tidak sadar bahwa mereka sedang diperdaya. Ia menyarankan agar rakyat dan mahasiswa sebagai motor perubahan sosial mempercepat proses kesabaran tersebut, karena jika tidak, kekuasaan akan terus berkuasa tanpa perubahan.

Krisis Politik dan Ekonomi yang Mengancam

Krisis politik yang terjadi di Indonesia menurut Tiyo telah mencapai titik yang sangat berbahaya. Kepercayaan publik terhadap lembaga negara sudah sangat rendah, bahkan sampai tidak mau membicarakan pemerintah. Ia menilai bahwa kepercayaan publik adalah faktor utama dalam berjalannya demokrasi, dan ketika kepercayaan hilang, maka sistem demokrasi itu sendiri bisa runtuh.

Selain itu, Tiyo juga menyampaikan kekhawatiran tentang krisis ekonomi yang semakin mendekat. Ia menjelaskan bahwa pemerintah saat ini memiliki dua pilihan dalam kebijakan fiskal: utang atau krisis. Namun, utang luar negeri sudah mulai berkurang, sehingga pemerintah kini lebih mengandalkan utang dalam negeri melalui Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini berpotensi menyebabkan penurunan daya beli masyarakat, yang akan semakin memperparah krisis.

MBG dan KDMP: Korupsi yang Tidak Terbuka

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menurut Tiyo adalah dua program yang mengacak-acak kebijakan fiskal. Ia menyatakan bahwa 99% dari anggaran kedua program tersebut pasti korup. Ia menilai bahwa MBG bukanlah bantuan makanan yang benar-benar gratis, melainkan sebuah modus korupsi yang disamarkan sebagai bantuan sosial.

Ia juga menyoroti bahwa MBG digunakan sebagai alat untuk konsolidasi politik, terutama untuk persiapan pemilu 2029. Menurutnya, presiden tidak percaya diri dan ingin mengumpulkan modal politik melalui uang, bukan melalui kerja nyata. Ia menilai bahwa rezim saat ini lebih zalim daripada Fir’aun karena melakukan korupsi sambil mengaku bertindak demi kepentingan rakyat.

Mahasiswa dan Gerakan Sosial

Tiyo juga menyampaikan pandangan tentang gerakan mahasiswa. Ia mengakui bahwa gerakan mahasiswa saat ini tidak sepenuhnya steril dari pengaruh politik. Ia menilai bahwa banyak organisasi mahasiswa terjebak dalam pragmatisme politik, termasuk terlibat dalam hubungan dengan pejabat pemerintah. Meskipun begitu, ia tetap berharap bahwa generasi baru mahasiswa akan lebih berani dan independen dalam menyuarakan perubahan.

Ia juga menyampaikan bahwa media mainstream saat ini cenderung kongkalikong dengan pemerintah, sehingga sulit untuk memberikan informasi yang objektif. Namun, ia yakin bahwa masyarakat kini memiliki alternatif melalui media sosial, yang dapat menjadi sarana untuk menyebarkan informasi dan kritik terhadap pemerintah.

Kesimpulan

Dalam wawancara ini, Tiyo Ardianto menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah dan situasi politik di Indonesia. Ia menilai bahwa negara ini sedang dalam krisis yang serius, baik secara politik maupun ekonomi. Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif dan perubahan sosial yang dilakukan oleh rakyat dan mahasiswa. Ia berharap bahwa masa depan Indonesia tidak lagi ditentukan oleh korupsi dan kekuasaan yang tidak adil, tetapi oleh keadilan dan kebenaran yang dijunjung tinggi oleh seluruh rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *