Peristiwa Kematian Bertrand Eka Prasetyo di Makassar
Peristiwa kematian seorang remaja bernama Bertrand Eka Prasetyo (18) yang diduga terkena tembakan dari seorang anggota polisi, Iptu N, terjadi di Jalan Toddopuli Raya, Makassar. Insiden ini berawal dari tawuran remaja yang menggunakan senapan water jelly. Peristiwa tersebut menimbulkan keguncangan di masyarakat dan menjadi perhatian besar dari pihak berwajib.
Kronologi Peristiwa
Menurut keterangan dari pihak kepolisian, Iptu N datang ke lokasi untuk membubarkan kerumunan. Saat itu, korban dan rekan-rekannya mencoba melarikan diri setelah mendengar tembakan peringatan dari polisi. Namun, saat proses penangkapan berlangsung, korban disebut memberikan perlawanan dengan meronta, sehingga senjata api milik Iptu N meletus secara tidak sengaja mengenai tubuh Bertrand.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, menjelaskan bahwa insiden bermula saat warga melaporkan adanya aksi sekelompok remaja yang meresahkan di Jalan Toddopuli Raya sekitar pukul 07.00 WITA. Kelompok remaja tersebut dilaporkan terlibat tawuran menggunakan senapan water jelly dan melakukan tindakan yang mengganggu pengguna jalan.
Menanggapi laporan tersebut, Iptu N mendatangi lokasi untuk melakukan pembubaran. Menurut Arya, petugas mendapati kelompok remaja tersebut sedang melakukan tindakan keras terhadap salah seorang pengendara sepeda motor. Iptu N kemudian turun dari mobil dan berupaya mengamankan Bertrand. Saat proses penangkapan, perwira tersebut mengeluarkan tembakan peringatan karena massa mulai melarikan diri.
Namun, saat hendak diamankan, korban disebut memberikan perlawanan dan mencoba melepaskan diri. Dalam kondisi pergulatan itulah, senjata api milik Iptu N meletus secara tidak sengaja.
Keterangan Saksi Kunci
Seorang saksi kunci berinisial DN (21) membeberkan secara detail detik-detik sebelum hingga saat letusan senjata api merenggut nyawa Bertrand. DN mengungkapkan bahwa peristiwa bermula sekitar pukul 07.00 WITA di depan Cafe Ur Mine (UM). Saat itu, terdapat rombongan yang melintas dari kawasan Toddopuli 4 menuju Toddopuli 2 yang tembus ke arah Jalan Hertasning.
Menurut DN, sempat terjadi insiden tabrakan di lokasi tersebut, namun ia menegaskan tabrakan itu terjadi di antara kelompok yang disebutnya sebagai pihak penyerang. “Kejadiannya itu, dia pertama mengarah lawan, dia dari Toddopuli 4 terus keluar lagi di Toddopuli 2. Di situ mulai kejadian tabrakan, tabrakan sesama yang menyerang. Terus anak-anak tembaki dia, tembak mainan (senapan water jelly),” ujar DN saat ditemui di rumah duka.
Situasi semakin memanas ketika terjadi perkelahian fisik. DN mengaku mendengar pihak lawan sedang mengokang senjata. “Pas tidak lama itu, katanya ini lawan makkokang (mengokang senjata). Terus korban bilang ‘saya dikena, dipukul’ sama itu yang lawan. Sudah itu, langsung korban ini pukul lawan. Iya berkelahi dia,” jelas DN.
Di tengah perkelahian tersebut, sebuah mobil sipil (mobil biasa) datang dari arah Hertasning. Ternyata, mobil tersebut berisi anggota kepolisian dari Polsek Panakkukang. “Tidak lama itu, ada datang polisi dari Hertasning. Pakai mobil biasa. Terus tidak lama itu, dia turun, angkat senjata tembak mi satu kali, terus saya lari masuk,” ungkap DN.
DN yang ketakutan langsung menyelamatkan diri ke dalam bangunan. Dari kejauhan, ia hanya melihat tubuh Bertrand sudah diangkat oleh orang-orang di sekitar lokasi. Meski tidak melihat ceceran darah secara langsung karena posisi yang jauh, saksi lain di TKP mengonfirmasi adanya pendarahan pada korban.












