Presiden Iran Minta Maaf Atas Serangan yang Menargetkan Negara Teluk

Perdana Menteri Iran Meminta Maaf atas Serangan Militer

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkapkan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah karena dampak dari serangan militer yang dilakukan oleh Iran. Sejak diserang lebih dulu oleh Israel dan Amerika Serikat (AS), Iran melakukan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer milik AS yang berada di beberapa negara Timur Tengah.

“Saya harus meminta maaf atas nama pribadi dan Pemerintah Iran ke sejumlah negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran,” ujar Pezeshkian dalam sebuah pernyataan yang direkam dan dikutip oleh media internasional.

Ia juga menyatakan bahwa dewan pemerintahan sementara Iran telah sepakat untuk tidak melakukan serangan atau melepaskan rudal ke negara tetangganya, kecuali jika ada serangan dari negara tersebut terhadap Iran.

Iran Siap Balas Serangan AS dengan Kekuatan Lebih Besar

Konflik militer antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Bahkan, Donald Trump, mantan Presiden AS, mengancam akan menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar.

Trump juga mengklaim bahwa Iran sudah menyerah dalam memberikan perlawanan terhadap negara tetangganya di Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan setelah Pezeshkian meminta maaf kepada negara tetangganya karena mereka menjadi sasaran serangan militer.

Sementara itu, seorang pejabat berwenang di Iran mengatakan kepada stasiun berita CNN bahwa Iran sedang membidik aset-aset baru milik AS untuk diserang. Sebelumnya, Pasukan Garda Revolusi Iran mengklaim telah menembak kapal tanker minyak milik AS dengan drone di Teluk Persia.

“Sebuah kapal tanker minyak dengan nama dagang ‘Louise P’ yang berbendera Kepulauan Marshall, salah satu aset teroris Amerika, telah diserang oleh drone di tengah Teluk Persia,” demikian yang ditulis di situs berita Sepah News dan stasiun berita Al Jazeera.

Iran Menolak Negosiasi dengan AS

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa Tehran menolak tawaran mediasi sejumlah negara dalam meredakan eskalasi konflik Timur Tengah. Hal itu lantaran Iran tidak akan berunding dengan AS.

Pernyataan itu disampaikan Boroujerdi saat ditemui di kediamannya di Jakarta, merujuk pada pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia yang menyatakan bahwa Indonesia siap memfasilitasi dialog agar kondisi keamanan dan kondusif dapat tercipta. Dalam pernyataan itu, Kemlu menyebut bahwa Presiden RI Prabowo Subianto akan menjadi mediator.

“Usulan dari pemerintah Indonesia, kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi,” ujar Boroujerdi.

Diplomat itu menegaskan bahwa Iran pernah melakukan negosiasi dengan AS sebanyak tiga kali, dan selalu berujung pada Washington yang melanggar perjanjian atau melancarkan serangan.

Pemakaman Ayatullah Khamenei Belum Ditentukan

Pemerintah Iran belum menentukan tanggal baru kapan pemimpin tertinggi mereka, Ayatullah Ali Khamenei, akan dimakamkan. Khamenei sebelumnya direncanakan dimakamkan pada Rabu (4/3/2026). Prosesi pemakaman semula dilakukan selama tiga hari, tetapi rencana itu kemudian ditunda.

“Upacara perpisahan untuk Imam yang syahid telah ditunda. Tanggal baru akan diumumkan kemudian,” demikian dilaporkan oleh stasiun berita milik Pemerintah Iran.

Khamenei gugur di usia 86 tahun pada Sabtu (28/2/2026) dalam serangan militer Israel dan AS di kediamannya. Ia terkena serangan drone ketika sedang berada di ruang kerjanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *