Kronologi Kematian MI (56) Akibat Penganiayaan
Seorang pria bernama MI (56) di Kabupaten Cianjur meninggal dunia akibat penganiayaan setelah diduga mencuri dua buah labu siam. Peristiwa ini menarik perhatian publik karena korban dituduh mencuri untuk kebutuhan berbuka puasa dan memberi makan ibunya yang sudah jompo.
Peristiwa tragis tersebut terjadi di Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Cianjur, dua hari setelah peristiwa penganiayaan yang dialaminya pada Senin (2/3/2026). Kepala Polsek Cugenang, Kompol Usep Nurdin, menjelaskan bahwa insiden bermula ketika UA, pemilik kebun, memergoki MI mengambil labu siam di kebunnya pada Sabtu (28/2/2026).
Pelaku kemudian mengejar korban hingga ke depan rumah MI. Di lokasi tersebut, korban diduga dipukul dan ditendang. Akibat kejadian itu, korban mengalami sejumlah luka. Peristiwa tersebut disaksikan oleh adik korban yang berusaha melerai.
Luka-Luka yang Dialami Korban
Menurut Usep, korban mengalami luka lebam di bagian mata, kepala, dan leher, serta memar di bahu lengan, dan hidung berdarah. Korban juga sempat muntah-muntah. Setelah kejadian, korban disebut sempat menunjukkan dua labu siam yang diambilnya kepada sang adik. Namun, kondisinya sudah terlihat lemah dan sempoyongan.
Beberapa hari kemudian, korban meninggal dunia. Kasus tersebut lalu dilaporkan ke polisi dan ditindaklanjuti sesuai prosedur hukum. Jenazah korban telah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani autopsi guna memastikan penyebab kematian. Hasil pemeriksaan luar menunjukkan adanya luka memar dan lecet di sejumlah bagian tubuh. Pada lubang hidung juga terdapat bekas darah dan terdapat benjolan di belakang kepalanya.
Labu Siam Disebut untuk Menu Berbuka
Adik korban, Cucum Suhenda (50), mengatakan kakaknya bekerja sebagai buruh serabutan. Ia menyebut MI mengambil labu siam tersebut untuk dimasak sebagai menu berbuka puasa. “Bawa labunya dua, ‘Ini yang saya curi, tadinya mau dimasak buat buka puasa’. Itu saya menyesal di hati,” kata Cucum, dikutip dari TribunJakarta, Rabu (4/3/2026).
“Puasa dia saat itu, dikasih tahu sama korban. ‘Ini yang saya curi’. Allahu Akbar,” imbuhnya.

Ambil Labu Siam karena Permintaan Ibu
Adik korban lainnya, Tita (43), menyampaikan bahwa kakaknya mengambil labu siam karena tidak memiliki uang, sementara ibu mereka ingin makan sayur. “Labu itu untuk makan emak, emak ingin makan sama sayur. Kakak saya bawa dua biji, baru mau dimasak, (pelaku) datang ke rumah,” ujarnya dikutip dari Kompas.com, Rabu.
Tita menjelaskan, selama ini korban tinggal bersama ibu mereka yang sudah lanjut usia dan merawatnya sehari-hari.
Korban Sempat Datangi Adik Minta Beras
MI (56), pria paruh baya asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sempat mendatangi rumah adiknya untuk meminta beras, sehari sebelum meninggal dunia akibat dugaan penganiayaan. Korban diketahui tidak memiliki pekerjaan tetap. Setelah bercerai, ia memilih tinggal bersama ibunya yang sudah lanjut usia dan hampir berumur satu abad.
Adik korban, Tita (43), mengatakan kakaknya kerap datang ke rumahnya untuk meminta beras guna memenuhi kebutuhan makan. “Datang ke rumah itu Minggu (1/3/2026) siang. Memang wajahnya terlihat murung dan setengah ditutupi kain kupluk. Saya sempat tanya kenapa, tapi katanya hanya sedang kurang enak badan,” ujar Tita kepada Kompas.com di rumah korban, Rabu (4/3/2026) petang.
Korban Sempat Pingsan di Jalan
Menurut Tita, saat itu ia memberikan nasi lengkap dengan lauk agar bisa langsung dimakan kakaknya bersama ibu mereka yang berusia 99 tahun. Namun, tidak lama setelah korban berpamitan, seseorang memberitahunya bahwa ada seorang pria yang terjatuh di jalan depan rumah dan diduga pingsan.
“Saya langsung ke jalan dan melihat kakak saya sudah tergeletak tidak sadarkan diri. Lalu ada pengendara motor yang membantu membawa kakak saya ke rumah emak,” katanya. Tita kemudian menyusul ke rumah orang tuanya dan mendapati kakaknya masih belum sadarkan diri.
“Keesokan harinya meninggal dunia. Saya melihat di wajahnya ada bekas luka lebam. Waktu itu saya kira lukanya akibat jatuh ketika pingsan di dekat rumah saya,” ucapnya.
Korban Merawat Ibu yang Jompo
Setelah peristiwa tersebut, Tita mengatakan dirinya akan mengambil alih tanggung jawab merawat ibu mereka yang sudah lanjut usia. Namun, rencananya sang ibu akan dibawa ke Bogor untuk tinggal bersama saudara tertua mereka.
“Kalau sehari-hari kakak saya ini tidak bekerja tetap, hanya kerja serabutan, itu pun kalau ada yang menyuruh. Jadi tulang punggung, merawat emak,” kata Tita.












