Daerah  

Kisah Umbu Ndilu, Penarik Becak di Kota Waingapu Sumba Timur NTT

Kehidupan Umbu Ndilu, Penarik Becak di Kota Waingapu

Di tengah keramaian jalan raya yang sibuk, terdapat seorang pria paruh baya yang duduk tenang di atas becaknya. Tangan kanannya menopang dagu dan matanya menatap jalanan yang ramai. Pria ini bernama Umbu Ndilu, seorang penarik becak di Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Ia sudah berusia 47 tahun dan telah menjalani pekerjaan ini selama lima tahun terakhir.

Umbu Ndilu biasanya parkir di Jalan Palapa, dekat Taman Kota Waingapu. Di sekitar taman kota tersebut, ia sering menunggu penumpang. Meskipun semakin banyak ojek kendaraan bermotor, bahkan ada yang menggunakan layanan online, Umbu Ndilu tetap percaya bahwa masih ada orang yang membutuhkan jasa becaknya. Biasanya, para ibu-ibu yang pergi belanja ke pasar menjadi pelanggannya.

Sehari-hari, Umbu Ndilu bisa mendapatkan uang sekitar Rp50.000. Namun, kadang-kadang jumlahnya tidak sampai karena ia tidak menetapkan tarif yang terlalu tinggi. “Berapa saja orang kasih,” katanya dengan senyum.

Selain dari menarik becak, penghasilan utama Umbu Ndilu juga berasal dari istrinya, Rambu Hamu Eti, yang menenun kain Sumba. Saat tidak sedang menarik becak, ia membantu istrinya dalam memintal benang sebelum ditenun menjadi kain. “Kalau tidak ada penumpang, saya bantu istri pintal benang,” ujarnya.

Di sekitar taman kota, becak milik Umbu Ndilu adalah satu-satunya yang terlihat. Namun, ia mengatakan bahwa penarik becak di Waingapu masih ada sekitar 20-an orang. Namun, tidak semua dari mereka ada di jalan setiap hari. Ada yang menunggu pesanan.

Umbu Ndilu juga memiliki tugas tambahan sebagai pengantar-jemput barang dari seorang penjual kelapa di jalan itu. “Saya juga antar barang-barang. Pagi saya jemput, siang saya bawa kembali ke rumahnya. Bawa kursi, kelapa dan lainnya,” katanya.

Becak milik Umbu Ndilu dibeli dari temannya. Dulu, ia membeli peleknya saja. Ban-nya tidak ada, sehingga ia membeli sendiri dan melas ulang kerangkanya. Sekarang, jika ia menjual kembali becaknya, harganya sekitar Rp4.000.000.

Ia juga merancang becaknya agar bisa muat dua orang penumpang berbadan ramping. Selain itu, ia menambahkan perangkat pemutar musik dan radio. “Kalau siang begini saya biasa buka musik dari radio Max FM,” katanya.

Menurut Umbu Ndilu, becak bukanlah transportasi asli Sumba. Berdasarkan sejarah, kendaraan roda tiga itu pertama kali muncul di Jepang, lalu di Jawa, dan baru kemudian hadir di Sumba Timur sekitar tahun 1990-an. Dulu, ada koordinator becak dan aturan yang ketat. Namun, seiring bertambahnya kendaraan bermotor, jumlah penarik becak mulai berkurang.

Meski begitu, Umbu Ndilu tetap bertahan. Dari pekerjaan menarik becak, ia bisa memenuhi kebutuhan anaknya dan bahkan membeli hewan peliharaan. Terakhir, ia berhasil mengumpulkan uang Rp2.000.000 untuk dikirim ke anaknya agar bisa membeli sepeda motor baru.

Umbu Ndilu memiliki dua orang anak. Satu orang laki-laki merantau di Jakarta, sedangkan satunya lagi tinggal di Bali. Di tengah keramaian kota, ia tidak hanya mencari rezeki, tetapi juga berusaha menjaga kesehatannya. Meski harus terbakar oleh terik matahari di Kota Waingapu yang panas, ia merasa semakin sehat dengan aktivitasnya sehari-hari.


Exit mobile version