Daerah  

Rahman Bawa Kejutan untuk Keluarga di Terminal Malalayang

Kehadiran Rahman di Terminal Malalayang

Di tengah hujan yang turun pelan di area Terminal Tipe A Malalayang, Kota Manado, Sulut pada Kamis (12/3/2026) sore, suasana terasa sejuk. Di dalam terminal, banyak penumpang terlihat duduk berderet, sementara sebagian lainnya menatap layar ponsel atau keluar dari jendela, mengamati hujan yang mengguyur halaman terminal.

Di salah satu kursi panjang, seorang pria tampak memeluk ransel hitam di pangkuannya. Di sisi kirinya, sebuah dus mie instan yang diikat tali diletakkan rapi di lantai. Nama pria tersebut adalah Rahman (31). Ia baru saja tiba dari Gorontalo, namun perjalanan ini belum benar-benar selesai. Ia masih menunggu jemputan keluarga untuk membawanya pulang ke rumah di area Teling, sekitar 15 kilometer dari Terminal Tipe A Malalayang.

Sesekali ia melihat layar ponselnya, memastikan pesan terbaru dari orang yang menjemputnya. “Masih menunggu. Dijemput pakai motor, tapi katanya masih terjebak hujan,” kata Rahman kepada Tribun Manado, sambil tersenyum kecil.

Perjalanan yang Penuh Rindu

Bagi Rahman, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ada rindu panjang yang ia bawa pulang. Ia bercerita, sudah hampir tiga tahun bekerja di Gorontalo. Sehari-hari ia bekerja di sebuah rumah makan di pusat kota. Kesempatan pulang kampung baru datang sekarang.

“Saya kerja di salah satu rumah makan di pusat kota. Selama ini belum sempat pulang karena masih kumpul uang,” ujarnya. Ransel hitam yang ia peluk berisi pakaian dan beberapa barang pribadi. Sementara dus mie instan di sampingnya adalah oleh-oleh sederhana untuk keluarga di rumah.

Rahman mengaku, kedatangannya ke Manado sengaja tidak diberitahukan kepada banyak orang di rumah. Hanya sang adik kandungnya yang tahu. Ia lahir tiga bersaudara, Rahman adalah anak pertama. “Biar jadi kejutan untuk keluarga,” katanya sambil tertawa pelan.

Keinginan untuk Melihat Orang Tua

Dia mengaku sudah membeli tiket sejak beberapa hari lalu agar terhindar dari lonjakan. Rahman juga pulang lebih awal agar bisa sedikit lama bersama keluarga sebelum akhirnya balik lagi untuk bekerja.

Di ruang tunggu terminal, orang-orang datang dan pergi. Beberapa penumpang baru tiba, sebagian lagi bersiap berangkat. Saat berita ini ditulis, hujan di luar belum juga reda. Rahman kembali menatap ponselnya, menunggu kabar bahwa jemputannya sudah semakin dekat.

Sesekali ia menatap dus mie instan di sampingnya, lalu memandang keluar. Tak lama lagi, setelah tiga tahun menahan rindu, pintu rumah itu akhirnya akan kembali ia ketuk.

Kehidupan di Luar Rumah

Rahman sore itu mengenakan kaos putih yang dipadu jaket hitam. Ia memakai celana jeans serta sepatu hitam yang tampak sedikit basah di bagian ujungnya, mungkin terkena cipratan air saat turun dari kendaraan sebelumnya. Di sela menunggu, ia juga bercerita sempat mendengar kabar bahwa kedua orang tuanya beberapa waktu lalu sempat sakit.

“Maklum, sudah usia lanjut,” katanya pelan. Hal itu pula yang membuat keinginannya untuk pulang semakin kuat.

Kini di usianya yang menginjak 31 tahun, Rahman masih merantau dan berjuang mencari penghidupan. Ia juga mengaku masih mencari pujaan hati. Bagi Rahman, Lebaran tahun ini terasa lebih spesial. Apalagi sudah lama ia tidak merayakannya bersama keluarga.

Selama merantau di Gorontalo, ia hidup jauh dari keluarga. “Di sana saya sendiri. Tidak ada keluarga,” katanya. Karena itu, momen pulang kali ini terasa berbeda.

Harapan untuk Para Perantau

Rahman juga berharap para perantau lain yang sedang bersiap melakukan perjalanan mudik bisa sampai ke kampung halaman dengan selamat. “Semoga yang mudik juga bisa sampai dengan baik di tempat tujuan,” ujarnya.


Exit mobile version