CO.ID, RIYADH — Para pemimpin dari negara-negara Arab dan Turki melakukan pertemuan di Riyadh, Arab Saudi, dalam beberapa hari terakhir. Pertemuan ini membahas isu-isu penting yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah akibat konflik antara Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) dengan Republik Islam Iran.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan yang hadir dalam pertemuan tersebut memberikan beberapa informasi mengenai situasi terkini dan realitas geopolitik di kawasan yang akan berubah secara signifikan dalam waktu dekat akibat perang yang sedang berlangsung.
1. Perang Akan Berlangsung Lebih Lama Dari yang Diperkirakan
Dalam pertemuan yang berlangsung dari Jumat hingga Sabtu (20/3/2026), para pemimpin Arab menyatakan keyakinan bahwa konflik antara Zionis-Israel dan AS dengan Iran akan berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Mereka memperkirakan perang akan berlangsung selama dua hingga tiga pekan lagi. Namun, sulit untuk memprediksi apakah pihak-pihak terkait bersedia masuk ke meja perundingan untuk mencapai gencatan senjata.
2. Israel Menghalangi Kemungkinan Gencatan Senjata
Fidan juga menjelaskan bahwa ada tekanan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar Presiden AS Donald Trump tidak menghentikan serangan terhadap wilayah Iran. Hal ini membuat segala upaya untuk membawa pihak Israel dan AS serta Iran ke meja perdamaian menjadi sia-sia. Israel terus berusaha mencegah terjadinya gencatan senjata.
3. Kesenjangan Antara Israel dan AS
Pemimpin Arab juga menyampaikan bahwa ada penilaian bahwa posisi AS dan Israel semakin menjauh. Netanyahu mencoba memengaruhi Trump agar tidak menghentikan perang, sehingga Israel dapat mempertahankan konflik hingga mencapai kehancuran total di Teheran. Fidan menegaskan bahwa saat ini bukan rencana untuk mengakhiri perang, tetapi keinginan Israel untuk menolak usaha perdamaian.
4. Negara-Negara Arab Tidak Terlibat dalam Konflik
Fidan menyampaikan bahwa pemimpin negara-negara Arab telah menyatakan tidak terlibat dalam bantuan Zionis maupun AS dalam memerangi Iran. Mereka juga memastikan bahwa wilayah udara mereka dilarang digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran. Pemimpin Arab mengecam tindakan balasan Iran yang menyerang wilayah-wilayah negara Teluk, termasuk aset dan pusat ekonomi yang tidak memiliki hubungan dengan AS atau Zionis.
5. Ultimatum Arab Terhadap Iran
Para pemimpin Arab marah atas tindakan Iran yang dianggap sepihak. Mereka mengancam akan mengambil tindakan jika situasi tidak berubah, meskipun risiko yang terjadi sangat tinggi. Fidan menegaskan bahwa Turki menolak agresi Zionis-AS terhadap Iran dan juga menolak serangan balasan Iran terhadap negara-negara tetangga. Namun, tidak ada pembahasan mengenai serangan drone dan rudal Iran terhadap wilayah pendudukan Zionis Israel.
6. Perubahan di Kawasan dan Harapan Arab Terhadap Iran
Meskipun gencatan senjata sulit tercapai, para pemimpin Arab memahami adanya perubahan geopolitik dan masa depan pertahanan. Fidan menyampaikan bahwa negara-negara Arab mulai menjadikan Iran sebagai kiblat baru untuk kerja sama pertahanan dan keamanan. Setelah perang, Iran mungkin akan menjadi bagian dari perlindungan keamanan bersama negara-negara Teluk. Jika kondisi tertentu terpenuhi, fokus pertahanan dan ekonomi kawasan juga akan melibatkan Iran.












