JAKARTA — Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat total pendapatan premi industri mengalami penurunan sebesar 1,8% secara year on year (YoY) menjadi Rp181,27 triliun. Meski demikian, kondisi ini lebih mencerminkan perubahan preferensi masyarakat dalam memilih pola pembayaran premi.
Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo menjelaskan bahwa premi bisnis baru yang dibayarkan secara reguler justru meningkat sekitar 7,8%. Bagi AAJI, hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap perlindungan asuransi jiwa tetap terjaga.
“Hal ini juga didukung oleh meningkatnya total tertanggung industri asuransi jiwa yang naik 8,6% YoY menjadi 168,03 juta orang,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (13/3/2026).
Di sisi lain, Albertus menyampaikan bahwa hasil investasi industri asuransi jiwa mengalami kenaikan signifikan sebesar 103,1% YoY sepanjang 2025. Hal ini membuat total pendapatan industri asuransi jiwa ikut terdorong naik menjadi Rp238,71 triliun.
“Sampai dengan Desember tahun lalu, hasil investasi industri mengalami kenaikan 103,1% jika dibandingkan dengan tahun 2024 menjadi Rp47,32 triliun,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Marketing & Komunikasi AAJI Harsya Wardhana Prasetyo menyampaikan bahwa industri asuransi jiwa mengelola 88,5% asetnya ke dalam bentuk investasi.
Dia mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 total aset investasi industri asuransi jiwa tercatat sebesar Rp590,54 triliun atau naik 9% YoY. Bila ditelaah, instrumen investasi yang mengalami peningkatan signifikan adalah Surat Berharga Negara (SBN) yang tumbuh 20,9% menjadi Rp248,25 triliun.
“Hal ini mencerminkan komitmen industri asuransi jiwa dalam mendukung pembiayaan pembangunan nasional, sekaligus menempatkan dana pada instrumen investasi jangka panjang yang aman dan stabil untuk menjaga kepentingan pemegang polis,” ucap Harsya.
Menanggapi hal tersebut, PT Asuransi Ciputra Indonesia atau Ciputra Life menilai kenaikan hasil investasi memang memberikan kontribusi positif terhadap laba perusahaan di tengah perlambatan premi.
“Namun, sebagai perusahaan asuransi jiwa, pertumbuhan premi tetap menjadi target utama perusahaan,” kata Direktur Utama Ciputra Life, Hengky Djojosantoso kepada Bisnis, dikutip pada Senin (23/3/2026).
Oleh karena itu, lanjutnya, perusahaan akan tetap fokus pada pertumbuhan premi yang sehat dan berkualitas. Caranya adalah melalui penguatan kanal distribusi, pengembangan produk, tata kelola dan penerapan manajemen risiko yang komprehensif.
Meski begitu, Hengky tidak lupa bahwa pengelolaan investasi yang baik berperan penting dalam menjaga keberlanjutan nilai portofolio dan mendukung pemenuhan kewajiban perusahaan kepada pemegang polis.
“Sehingga keduanya dapat berkontribusi secara berkelanjutan terhadap kinerja perusahaan,” ungkapnya.
Untuk diketahui, sepanjang 2025 Ciputra Life membukukan hasil investasi sebesar Rp66,24 miliar, tumbuh 69% YoY. Porsi terbesar investasi ada pada instrumen obligasi pemerintah dan obligasi korporasi.
Sementara itu, pengamat asuransi Irvan Rahardjo menilai kondisi hasil investasi naik signifikan, sedangkan pendapatan premi turun adalah dinamika yang cukup umum terjadi di industri asuransi jiwa, terutama di saat kondisi ekonomi yang menantang.
Namun, imbuhnya, untuk menjawab apakah perusahaan akan lebih mendorong hasil investasi daripada pendapatan premi itu perlu dilihat dari fungsi dasar bisnis asuransi itu sendiri.
“Perusahaan asuransi jiwa tidak akan meninggalkan fokus pada premi, karena premi adalah sumber likuiditas utama dan core business yang menjaga keberlangsungan operasional dalam jangka panjang,” katanya.
Adapun, Pengamat Asuransi dan Dosen Program MM- Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Kapler Marpaung menegaskan bahwa pendapatan asuransi jiwa seharusnya terletak pada hasil underwriting atau laba, bukan karena kenaikan hasil investasi.
“Belum lagi kalau kita masuk lebih dalam berapa persen ratio antara modal sendiri dengan cadangan premi dan klaim terhadap jumlah investasi. Kan tidak semua juga modal investasi asuransi jiwa itu merupakan ekuitas murninya,” ujarnya.












