Pertumbuhan Bisnis yang Lebih Solid di Tahun 2026
PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) memiliki visi jangka panjang untuk memperkuat pertumbuhan bisnisnya pada tahun 2026, baik melalui pertumbuhan organik maupun anorganik. Perusahaan mengklaim bahwa fondasi operasionalnya lebih kuat, neraca keuangan yang lebih stabil, serta basis kontrak yang lebih terjamin akan menjadi dasar utama dalam memasuki tahun ini.
Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, menjelaskan bahwa perusahaan telah menetapkan beberapa prioritas utama untuk dijalankan sepanjang tahun. Prioritas tersebut mencakup penguatan keunggulan operasional, pengendalian biaya dan belanja modal, serta peningkatan pengelolaan arus kas.
“Kami juga berkomitmen untuk mewujudkan pemulihan kinerja keuangan yang konsisten sambil tetap mengejar pertumbuhan yang lebih baik secara organik maupun anorganik,” ujar Iwan dalam pernyataannya.
Kinerja Tahun 2025
Selama tahun 2025, kinerja DOID menghadapi tantangan akibat gangguan operasional, cuaca buruk, serta berakhirnya sejumlah kontrak. Selain itu, beban non-operasional seperti penyisihan piutang dan penurunan nilai aset di Australia dan Amerika Serikat (AS) turut memberi tekanan pada kinerja keuangan. Namun, keuntungan dari investasi di 29Metals sebesar US$41 juta membantu meringankan dampak negatif tersebut.
Meski demikian, kinerja perusahaan secara bertahap pulih sepanjang tahun melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya. Arus kas tetap positif, dengan puncaknya terjadi di kuartal IV, dan likuiditas menguat sehingga posisi keuangan menjadi lebih solid menjelang 2026.
Upaya Pemulihan dan Perbaikan Operasional
Untuk merespons tantangan tersebut, BUMA Internasional memperketat disiplin operasional, memperkuat pengendalian biaya dan pemeliharaan, serta mengambil langkah tegas untuk menjaga likuiditas dan memperkuat neraca. Langkah-langkah ini berhasil meningkatkan produktivitas, efisiensi biaya, dan arus kas, sekaligus membangun fondasi yang lebih kuat untuk tahun 2026.
Volume overburden removal turun sebesar 19% YoY menjadi 439 juta BCM, sedangkan produksi batu bara turun 6% menjadi 84 juta ton. Penurunan ini dipengaruhi oleh gangguan pada kuartal I, cuaca buruk, serta berkurangnya kontribusi dari site yang mengalami ramp-down dan yang telah selesai beroperasi.
Pendapatan turun 16% YoY menjadi US$ 1,48 miliar akibat penurunan volume, meskipun ASP relatif stabil (-1% YoY) berkat porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi. EBITDA tercatat US$ 175 juta dengan margin 14%, yang tertekan oleh volume yang lebih rendah, biaya pesangon, dan kenaikan harga bahan bakar. Tanpa biaya pesangon, EBITDA mencapai US$ 207 juta dengan margin 17%.
BUMA Internasional tahun lalu membukukan rugi bersih US$ 128 juta, yang dipicu oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang dari kontrak Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset di Australia dan AS. Dampak ini sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar US$ 41 juta dari investasi di 29Metals, keuntungan selisih kurs US$36 juta, serta pembalikan pencadangan piutang di Australia setelah putusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia.
Peningkatan Arus Kas dan Pengelolaan Keuangan
Arus kas bebas berbalik positif menjadi US$8 juta dari negatif US$60 juta pada 2024, dengan kontribusi terbesar pada 4Q25 sebesar US$ 57 juta. Belanja modal tetap disiplin di US$ 179 juta, relatif stabil YoY, dengan alokasi seimbang antara kebutuhan pemeliharaan dan pertumbuhan.
Secara operasional, kinerja membaik bertahap sepanjang tahun. Overburden removal meningkat dari 76 MBCM pada 1Q25 menjadi 79 MBCM pada 4Q25, didorong oleh perbaikan perencanaan, disiplin operasional, maintenance, dan penyelesaian bottleneck. Dari Januari 2025 hingga Januari 2026, jam kerja alat naik 6%, downtime turun 31%, jam non-produktif turun 17%, dan cycle time membaik 3%. Perbaikan ini menurunkan biaya unit dari US$2,22/BCM menjadi US$1,83/BCM.
Di tingkat Grup, berbagai perbaikan mendorong penguatan kinerja keuangan secara bertahap. EBITDA meningkat signifikan dari US$14 juta pada 1Q25 menjadi US$48 juta pada 4Q25, mencerminkan pemulihan yang konsisten sepanjang tahun.
Strategi Keuangan dan Pengembangan Kontrak
Selama tahun 2025, Grup aktif memperkuat likuiditas dan memperpanjang profil jatuh tempo utang. Pada Februari, BCA bergabung dengan BNI dan Bank Mandiri dalam fasilitas sindikasi US$1 miliar, memperluas sumber pendanaan. Selanjutnya, pada Maret, Grup menerbitkan Sukuk Ijarah US$ 121,7 juta, menjadi penerbitan Sukuk Ijarah Korporasi Syariah berperingkat A+ terbesar dalam satu kali penerbitan di Indonesia. Pada Oktober, diterbitkan Obligasi III BUMA 2025 senilai Rp884 miliar (US$53,8 juta). Kemudian pada November, Grup melunasi lebih awal Senior Notes senilai US$212 juta, meningkatkan fleksibilitas struktur modal. Secara keseluruhan, langkah ini menghasilkan profil utang yang lebih seimbang.
Grup juga berhasil mengamankan tiga kontrak besar hingga awal 2026, termasuk perpanjangan kontrak BUMA Australia dan kontrak jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia hingga 2030. Di saat yang sama, diversifikasi diperkuat melalui investasi di sektor tembaga dan antrasit di Australia, AS, dan Indonesia.












