Kritik terhadap Pengembangan dan Pengawasan Vaksin COVID-19 Muncul dari Mantan Pejabat Pfizer
Sebuah perdebatan yang semakin memanas mengenai proses pengembangan dan pengawasan vaksin COVID-19 kembali muncul, setelah seorang mantan pejabat dari perusahaan farmasi besar, Pfizer, memberikan pernyataan kontroversial dalam sidang parlemen Jerman. Pernyataan tersebut menyoroti kekhawatiran terkait efektivitas dan keamanan vaksin mRNA, serta proses persetujuan yang dinilai tidak memadai.
Elon Musk, bos perusahaan Tesla, juga turut menyampaikan kritik serupa melalui akun media sosialnya. Ia berbagi pengalamannya pribadi dengan efek samping vaksin dan mempertanyakan pemberitaan media. “Saya pernah terkena virus Wuhan asli sebelum ada vaksin, dan gejalanya mirip dengan flu biasa. Buruk, tapi tidak mengerikan. Tapi suntikan vaksin kedua saya hampir membuat saya masuk rumah sakit. Rasanya seperti sekarat,” tulis Musk dalam unggahannya.
Musk mengutip sebuah unggahan dari akun @PeterSweden7, seorang jurnalis Swedia, yang mempertanyakan mengapa berita besar ini tidak dilaporkan di mana-mana. Ia menulis, “Apakah media arus utama yang menerima pendanaan jutaan dari Bill Gates sengaja menutupinya…” Meski belum menjadi berita utama di sebagian besar media arus utama, klaim tentang puluhan ribu kematian terkait vaksin serta proses persetujuan yang disebut “kriminal” memicu perdebatan publik.
Peran Dr. Helmut Sterz dalam Sidang Parlemen Jerman
Pernyataan penting tersebut disampaikan oleh Dr. Helmut Sterz, seorang ahli toksikologi yang pernah menjabat sebagai Kepala Toksikologi di Pfizer Eropa hingga sekitar tahun 2008. Ia dihadirkan sebagai saksi ahli dalam sidang publik Komisi Enquete Bundestag Jerman mengenai Pandemi Corona pada 19 Maret 2026. Sidang ini membahas kinerja sistem kesehatan, strategi vaksinasi, dan penelitian.
Dalam pernyataan tertulis resminya (Kommissionsdrucksache 21(27)30) dan kesaksian lisan, Sterz mengemukakan kritik mendasar terhadap vaksin mRNA Comirnaty (Pfizer-BioNTech). Ia menyatakan bahwa prosedur dalam pengembangan praklinik vaksin tersebut tidak memadai. “Saya menilai tindakan dalam pengembangan praklinik COMIRNATY sebagai kriminal!” tegas Sterz dalam dokumen tertulisnya, sebagaimana dikutip dari transkrip resmi sidang. Ia berargumen bahwa vaksin seharusnya tidak pernah disetujui atau ditarik sejak laporan efek samping serius mulai bermunculan.
Estimasi Kematian dan Kelalaian Uji Keamanan
Salah satu poin yang paling banyak diperbincangkan adalah estimasi kematian yang dikaitkan dengan vaksinasi di Jerman. Sterz merujuk pada sistem pelaporan efek samping (misalnya, sekitar 2.000 laporan untuk Comirnaty yang tercatat di Institut Paul Ehrlich/PEI) dan faktor underreporting yang umumnya diperkirakan. Berdasarkan perhitungannya, ia memperkirakan sekitar 60.000 kematian terkait vaksin terjadi di Jerman saja. Ia menyebut peluncuran vaksin sebagai “tragedi vaksinasi” dengan jutaan korban secara global.
Dalam kesaksian lisan yang terekam video, Sterz juga menyoroti aspek keamanan spesifik yang menurutnya diabaikan. “Tidak, risiko karsinogenik tidak diselidiki karena keterbatasan waktu. Omong-omong, saya merasa sangat prihatin dan juga menyesalkan bahwa tidak ada investigasi alternatif yang dilakukan,” ujarnya menanggapi pertanyaan tentang risiko kanker. Ia menegaskan bahwa kecepatan dan studi yang dipersingkat hanya dapat diterima untuk virus yang sangat mematikan seperti Ebola, bukan untuk patogen dengan efek seperti flu.
Reaksi Publik dan Proses Demokratis
Kesaksian Sterz ini mendapatkan perhatian luas di platform media sosial dan komunitas tertentu, sering kali dikutip untuk mendukung keraguan terhadap vaksin. Komisi Enquete Bundestag sendiri berfungsi sebagai forum parlementer untuk penyelidikan mendalam dan mendengar berbagai sudut pandang, termasuk yang kontroversial. Kehadiran dan pernyataan Sterz merupakan bagian dari proses demokratis tersebut. Namun, kesimpulan resmi dan rekomendasi kebijakan akan didasarkan pada keseluruhan bukti yang dikumpulkan dari banyak ahli, ilmuwan, dan institusi lainnya.












