Bisnis  

Harga Bumbu Dapur Pengaruhi Biaya Produksi, Restoran Sesuaikan Harga Menu

PALANGKA RAYA, .CO

– Harga sejumlah komoditas bumbu dapur di pasar tradisional Kota Palangka Raya saat ini menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis. Kenaikan maupun penurunan harga terpantau tidak menentu dan dapat berubah setiap harinya. Kondisi ini tidak hanya dikeluhkan oleh masyarakat biasa, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi para pelaku usaha kuliner.

Mufidah (35), salah seorang pedagang di pasar besar tradisional di Kota Palangka Raya, mengungkapkan bahwa harga komoditas cabai kini mulai berangsur turun meski masih tergolong fluktuatif. “Harga lombok (cabai) turun sudah. Harganya sekarang di kisaran Rp 75 ribu sampai Rp 80 ribu per kilogram,” ujar Mufidah saat ditemui di lapaknya, Kamis (16/4/26). Ia menjelaskan. Terdapat berbagai varian cabai yang dijual dengan harga berbeda. Seperti cabai Tanjung, Tiung, dan Rawit. Untuk jenis cabai rawit yang sebelumnya sempat meroket tajam, kini harganya sudah mulai melandai. “Kalau rawit sekarang sekitar Rp 120 ribuan. Kemarin waktu pas naik harganya sempat tembus Rp 150 ribuan,” tambahnya.

Meskipun cabai mulai turun, fluktuasi harga yang signifikan justru terjadi pada bawang merah. Mufidah menuturkan bahwa harga bawang merah saat ini berada di kisaran Rp45 ribu hingga Rp 55 ribu per kilogram. Bahkan, jika pasokan sedang minim, harganya bisa melonjak hingga Rp 60 ribu per kilogram. Sementara itu, untuk harga bawang putih terpantau lebih stabil di angka Rp 38 ribu per kilogram.

Mufidah menjelaskan. Bahwa naik turunnya harga komoditas ini sangat bergantung pada rantai pasok dari wilayah Kalimantan Selatan (Banjar) serta dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem. “Yang bikin naik itu barangnya kadang hujan, kalau hujan jarang orang panen,” tambahnya.

Ketidakstabilan harga bahan baku di pasaran ini pun berimbas langsung pada sektor industri makanan. Pelaku usaha dipaksa memutar otak untuk mempertahankan operasional usahanya. Upik, salah satu pelaku usaha Kedai, (Food and Beverage/F&B), membenarkan bahwa pergerakan harga bumbu dapur sangat memengaruhi biaya produksi sehari-hari. “Untuk harga produk makanan sudah pasti mengalami kenaikan, terutama karena naiknya bahan baku seperti cabai dan rempah-rempah lain,” ungkap Upik.

Sebagai langkah antisipasi untuk menutupi membengkaknya biaya produksi tanpa mengecewakan pelanggan, pihaknya terpaksa mengambil kebijakan penyesuaian harga jual. “Hal ini membuat kami perlu menyesuaikan beberapa harga menu makanan dan snack, dengan menaikkan harga sekitar Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu. Meskipun begitu, untuk kualitas produk selalu kami perhatikan dengan ketat, baik dari segi rasa maupun porsi,” pungkasnya.

Kondisi pasar yang dinamis ini menuntut kolaborasi dan adaptasi dari seluruh pihak, baik pedagang pasar yang bergantung pada pasokan luar daerah, maupun pelaku usaha kuliner yang berupaya menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli masyarakat konsumen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *