ciptawarta.com – Organisasi mafia khas Jepang Yakuza yang selama ini dikenal sebagai ancaman masyarakat ternyata telah melakukan kejahatan baru dengan mencuri kartu Pokemon yang sedang populer. Hal ini membuat citra Yakuza tercoreng akibat ulah seorang pemimpinnya yang ditangkap di dekat Tokyo pada April 2024 lalu.
Dulu, Yakuza beroperasi dengan sangat terang-terangan dan seringkali menampilkan simbol perdagangan seperti lentera atau pedang di luar kantor mereka. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, polisi Jepang mulai merasakan perubahan dalam kegiatan Yakuza. Banyak kelompok yang tidak terorganisir dan tidak memiliki jaringan yang solid, yang dikenal sebagai Tokuryu, mulai bermunculan dan sulit dilacak oleh polisi.
Saat ini, Departemen Kepolisian Metropolitan sedang menyelidiki enam tersangka yang diduga direkrut melalui media sosial untuk melakukan kejahatan seperti pembunuhan, pengangkutan, dan pembakaran jenazah pasangan lansia di tepi Sungai Nasu. Menurut mantan detektif polisi dan analis kejahatan, Taihei Ogawa, kejahatan ini dilakukan secara paruh waktu oleh para anggota Tokuryu yang masih muda.
Badan Kepolisian Nasional melaporkan bahwa jumlah anggota Yakuza telah menurun menjadi 20.400 pada tahun lalu, hanya sepertiga dari jumlah sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh undang-undang yang bertujuan untuk memerangi kejahatan terorganisir yang menyulitkan anggota Yakuza untuk membuka rekening bank, menyewa apartemen, membeli telepon seluler, dan bahkan mengambil asuransi.
Pemerintah Kota Fukuoka juga telah menutup kantor cabang geng Kobe Yamaguchi-gumi di dekat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama pada Desember 2022 dan meminta perintah pengadilan untuk menghapusnya dari jalan enam bulan kemudian. Para ahli mengatakan bahwa penuaan anggota Yakuza dan kesulitan ekonomi juga menjadi faktor yang menghambat aktivitas sindikat tersebut. Data polisi menunjukkan bahwa jumlah anggota Yakuza yang ditangkap telah turun drastis dari 22.495 pada tahun 2014 menjadi 9.610 pada tahun 2023.










